Visi Pernikahan

 Dulu di tahun 2014. Ketika saya menikah dan pulang kesini, saat ditanya. Pengen punya anak laki-laki atau perempuan? 


Saya ingin memiliki 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki


Sejak saat itu saya sudah menentukan. Mengapa harus anak perempuan, mengapa harus 2 anak perempuan? Mengapa anak laki-lakinya 1 orang? 


Ya, semua sudah ada planing. Nanti mereka saat berumur sekian, mereka akan seperti ini. Saat mereka sudah besar, mereka mampu berbuat dan melakukan hal seperti ini. Dan semua itu sudah ada planing, rencana dan keinginan. Ya kan, namanya juga keinginan. Sah sah saja dan boleh-boleh saja. Yang terpenting kitanya tinggal berikhtiar dan berusaha semaksimal mungkin. Lalu hasilnya tinggal diserahkan ke yang di atas


Makanya, kadang saya agak sedikit gimana gitu. Saat mendengar pertanyaan tentang bapaknya aktifis pengajian, ibunya aktifis pengajian. Bahkan sebelum menikah mereka berdua juga sangat suka dan gemar mengaji. Tapi, saat punya anak remaja. Anaknya gak mau ngaji. Kenapa? Jawaban saya sederhana. Ada yang salah dalam visi keluarga mereka! Dulu mereka menikah karena apa? Karena harta kah, karena tahta kah ataukah karena kecantikan/kegantengan? Apakah tidak diplaning saat sebelum menikah dulu. Nanti kalo punya anak akan bagaimana dan seperti apa?


Btw, sejak saya kenalan a.k.a ta'aruf dulu. Saya butuh waktu hampir setahun untuk menerima jawaban bahwa dia benar-benar siap diajak menikah (baca: lewat comblang). Dan di rentang waktu itu isinya adalah diskusi banyak hal tentang planing ke depan. Alhamdulillahnya semua pokok pembicaraan masih berporos pada kebaikan agama untuk diri, keluarga dan orang-orang sekitar kita semuanya


Sedikit cerita kecil dari saya. Mohon doanya sahabat sekalian. Semoga pernikahan kami dan pernikahan kalian semuanya. Bisa awet, langgeng. Sakinah mawadah warahmah dan bermanfaat bagi sesama. Aamiin ya rabbal alamin 🙏 [] @masazizrohman

0 Comments:

Posting Komentar