Alasan Menikahinya
Sore ini (17/12) sepulang kerja sempat bersilaturahmi ke salah seorang Kyai kampung di seberang Sungai Brantas. Sekedar sambung rasa kepada beliau dan putra beliau.
Saat itu beliau bertanya, kok bisa menikah dengan perempuan yang sekarang yang menjadi ibu anak-anak saya. Kata beliau sudahlah rumahnya jauh, pinggir hutan pula. Hehehe...
Saya jawab sekenanya, sudah jodohnya.
Tapi beliau belum puas. Akhirnya, mau tdk mau saya jawab dengan sedikit rinci. Bla bla bla bla...
Alasan sederhananya sih sepele. Saat saya ingin menikah. Kebetulan beliau juga ingin menikah, kita dipertemukan dan saya merasa cocok dengannya. Udah gitu aja...
Kok bisa lgsg cocok? Semua karena agamanya. Tahu sendirilah di jaman itu (sepengetahuan saya) satu-satunya perempuan muda yang berjilbab syar'i disana. Yang tinggal dan menetap di desa sana. Yang jauh disana, jauh dari pusat keramaian kota. Tahu sendirilah 2 dekade yang lalu. Gimana perjuangan para aktifis muslimah mengenakan jilbab syar'i. Dan, semangatnya dalam mengemban amanah sbgmn yang diceritakan guru saya tentang beliau. Itu sudah cukup bagi saya. Jikalau ada perempuan shalihah yang ingin menikah. Mengapa saya tidak mencoba melamarnya?
Dan singkat cerita. Akhirnya saya dipertemukan dengannya. Kita berdiskusi lama untuk menyatukan visi dan misi pernikahan. Mengedukasi kepada seluruh keluarga, pak modin hingga pegawai KUA agar kami menikah dengan cara sebagaimana yang diajarkan guru kami. Pernikahan syar'i.
Dengan berbagai upaya, usaha dan sebagainya. Akhirnya, kamipun menikah di tgl 29 Ramadhan versi Jawa sebagaimana permintaan ayahnya. Alhamdulillah....
Dan begitulah cerita singkat pertemuan saya dengan ummu athiyyah. Sadar atau enggak, faktanya saya bisa menjadi seperti sekarang. Itu ada beliau yang selalu mensupport dan mendukung. Tanpa beliau belum tentu saya bisa seperti sekarang...
Terima kasih cinta, semoga Allah SWT mempersatukan kita sampai ke surgaNya. Aamiin
0 Comments:
Posting Komentar