Remaja Bunuh Balita, Kok Bisa?
Posted by admin
Kamis, 12 Maret 2020
Oleh: Aziz Rohman
Kaget, heran, bingung, sedih, menangis. "Kok bisa ya, remaja 15 Tahun berbuat sekeji itu. Membunuh balita secara sadis." Gumamku dalam hati.
"Apa yang salah coba? Siapa yang pantas disalahkan atas kasus ini?" Tanyaku sambil geleng-geleng kepala tak percaya. Astaghfirullah... Mengapa ini bisa terjadi?
Mendengar berita tentang kasus ini hatikupun jadi bersedih. Terlebih dari berita yang aku baca, dikabarkan bahwa Si NF (15) membunuh APA (5) karena terinsipirasi dari film yang biasa dia tonton. APA dibunuh di rumah NF di daerah Sawah Besar, Jakarta Pusat, Kamis (5/3) lalu.
Setelah dibunuh, jasad APA disembunyikan dalam lemari. Keesokan harinya, tersangka (NF) beraktivitas seperti biasa. Saat perjalanan menuju sekolah, tersangka memilih berganti pakaian dan menyerahkan diri ke kantor polisi. (kompas.com, 8/3/2020)
Manusia bertindak dan berperilaku berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Ketika pemahaman yang dimilikinya adalah salah, maka tentu dia akan melakukan perbuatan yang salah juga.
Pembunuhan keji yang dilakukan NF terhadap APA, jika memang ini terinspirasi oleh sebuah film. Apalagi menurut berita dikatakan bahwa ia melakukannya dengan sadar dan saat menyerahkan diri ke pihak polisi, tak tampak wajah bersalah sama sekali. Sebagaimana pelaku pembunuhan biasanya, bahkan mengaku puas atas apa yang telah dia lakukan. (Idntimes.com, 8/3/2020)
Nah, melihat fakta ini terjadi. Tentunya harus menjadi perhatian khusus semua pihak. Baik guru, sekolah, orang tua, bahkan negara harus mengambil tindakan secepatnya. Agar peristiwa ini tak terulang lagi.
Remaja kita harus dilindungi, generasi muda kita harus dijaga, pembinaan terhadap remaja kita wajib dilakukan. Dibina dengan baik, diberikan pemahaman yang baik, sehingga merekapun bisa menjadi pribadi-pribadi yang baik pula. Jangan lupa, aturan yang adapun juga harus mendukung anak bisa bersikap dan berbuat baik. Sehingga diharapkan mampu terlahir anak-anak yang shalih-shalihah yang bisa menjadi kebanggaan kita semua.
Susah? Iya memang susah. Terlebih dalam sistem tatanan kehidupan yang serba nggak karuan ini. Tuntunan jadi tontonan, tontonan jadi tuntunan. Agama dipinggirkan, kemaksiatan dan kerusakanpun kian meningkat dan meraja lela.
Anak sekecil itu bisa melakukan pembunuhan keji dan terinspirasi dari apa yang dia tonton. Ini menunjukkan bahwa sistem kehidupan yang ada saat ini memang sudah rusak. Sehingga banyak tontonan yang seharusnya tak layak ditonton, malah dengan asyik dinikmati semua kalangan. Terlebih saat gadget udah digenggaman. Setiap film, drama dari berbagai belahan dunia dengan mudah diakses tanpa ada penyaringan yang jelas dari negara. Internet positif yang digembar-gemborkan seolah tak berefek sama sekali. Buktinya, berbagai hal negatif masih bisa dengan mudah kita akses.
Remaja udah biasa pegang gadget, kuota unlimited dalam genggaman. Orang tua sibuk bekerja, hingga tak sempat mengontrol apa saja tontonan di dalam genggaman tersebut. Guru? Sekolah bukan laundry anak. Jika anak sudah bersekolah disekolah islami, lantas pasti berubah jadi baik? Enggak bisa! Sikap dan perilaku anak dipengaruhi banyak faktor. Dan selain hal tersebut tadi, peran negara juga sangat penting dalam membuat kebijakan yang melindungi generasi. Kurangnya preventif pemberi kebijakan hingga semua hal bisa diakses secara mudah atau ditonton juga menjadi sebuah PR yang segera harus dituntaskan. Jika kita tak mau melihat Indonesia hancur dimasa depan.
Jadi, apa yang harus dilakukan saat ini? Mari kita gencarkan dakwah. Kita ajak teman-teman kita untuk hadir dan ikut serta dalam kajian dan pembinaan keislaman. Kenapa? Agar mereka mendapatkan pemahaman yang baik dan benar. Sehingga bisa bersikap dengan benar, tak menyalahi syariat yang ada. Orang tua, guru, masyarakat hingga pejabat negara juga harus satu frekuensi tentang masalah ini.
Usia emas atau usia muda teman-teman kita, seharusnya dihabiskan untuk hal-hal positif dan berpahala. Untuk masa depan yang gemilang dan cemerlang. Bukan dihabiskan untuk melakukan hal-hal yang sia-sia dan nggak berfaedah. []
