Merengkuh Sakinah

Kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah menjadi impian hampir setiap pasangan yang menikah. Namun, realitas menunjukkan bahwa tidak semua keluarga mampu merasakan ketenteraman tersebut. Sebagian justru menjalani hubungan yang dipenuhi pertengkaran, hilangnya kehangatan, saling menyalahkan, hingga rasa cinta yang perlahan memudar meskipun tetap hidup bersama.


Keharmonisan keluarga pada dasarnya tidak muncul secara tiba-tiba setelah pernikahan berlangsung, melainkan dibentuk jauh sebelumnya melalui proses memperbaiki dan mempersiapkan diri. Pilihan sikap, perilaku, serta cara seseorang menjaga dirinya dipandang akan berpengaruh terhadap kualitas pasangan dan hubungan yang dijalani di masa mendatang. Gaya hidup yang mengedepankan kesenangan sesaat dinilai berpotensi menghadirkan relasi yang tidak sehat, sementara komitmen terhadap nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan dipercaya membuka jalan menuju pasangan yang memiliki tujuan hidup sejalan.


Oleh sebab itu, terciptanya keluarga yang harmonis dipahami sebagai hasil dari proses saling menjaga nilai, akhlak, dan tanggung jawab pribadi sebelum ikatan pernikahan dijalankan. Dengan kata lain, keluarga sakinah dimulai sejak seseorang membangun kualitas dirinya, bahkan jauh sebelum akad nikah terlaksana.


Kenapa Italia Gagal Lolos Piala Dunia 2026, Italia Gagal Lolos Tiga Kali


 Beberapa hal yang mendasari Timnas Itali gak lolos Pildun 3 kali:

1. Klub top liganya terlalu tradisional. Pemain lokal yang bagus selalu terikat dengan klub top lokal, tapi tak juga diberi kesempatan bermain jadi pemain utama. Kebanyakan diusia 20 tahun lebih baru diberi kesempatan bermain. Padahal sebagian besar pemain timnas main di klub lokal

2. Para pemain yang dipanggil ke timnas hanya sedikit yang bermain di klub luar liga itali. Kebanyakan di klub lokal, tapi kesempatan bermainnya minim. Otomatis, kemampuan dan pengalamannya gak terasah dengan baik

3. Timnasnya susah move on dengan cerita kisah manis masa lalu. Juara dunia empat kali, tapi udah dua kali gak lolos Pildun terakhir. Ditambah sekarang, jadi tiga kali hattrick gak lolos pildun

4. Para pemainnya terlalu sombong saat tahu lawan mereka di final play off sekelas tim Bosnia-Herzegovina. Pemainnya terlalu menganggap remeh lawan. Kesombongan itu akhirnya jadi bumerang, gak lolos Pildun 2026


Apa pelajaran yg bisa diambil? Timnas Italia gagal lolos Pildun adalah karena kombinasi masalah regenerasi yang lambat, ketergantungan pada pemain senior, serta kurang efektifnya performa di fase kualifikasi seperti sering kehilangan poin di laga penting; selain itu, ketidakstabilan arah kepemimpinan dan kurangnya konsistensi taktik membuat tim kesulitan berkembang, ditambah mentalitas yang kurang solid saat menghadapi pertandingan penentuan sehingga kalah dari tim yang secara organisasi dan kesiapan lebih matang.


Jika mau belajar dr Jepang. Maka, kalian akan dapatkan bahkan sejak sebelum timnasnya mencapai top seperti saat ini. Dengan mengalahkan Brazil, Jerman dan terbaru Inggris. Mereka sudah menyiapkan  propaganda dengan membuat cerita manga Kapten Tsubasa tahun 1983. Setelah manga itu dirilis Jepang baru bisa lolos Pildun 1998, sebelumnya timnas Jepang termasuk tim lemah level Asia dan dunia. Tapi dengan berbagai hal akhirnya Jepang bisa di titik sekarang. Apa aja yg bisa diambil pelajaran dr manajemennya timnas Jepang?

1. Visi jangka panjang yang jelas & konsisten

2. Regenerasi pemain berjalan terus-menerus

3. Keberanian memainkan pemain muda dan mendorong para pemainnya berkarier di liga top Eropa agar merasakan level tertinggi sepakbola 

4. Memiliki karakter disiplin tinggi, etos kerja kolektif persatuan dan kebersamaan 

5. Taktik yang fleksibel & modern (adaptif lawan)

6. Stabilitas staff pelatih & kepercayaan pada proses

7. Sistem pembinaan kuat (akademi, scouting, data)


=========

Catatan: Pembinaan Timnas Jepang menekankan konsistensi, disiplin, dan visi jangka panjang jauh kedepan. Bayangkan, jika kita memiliki visi seperti ini. Tapi, bukan untuk bermain sepakbola di ajang seperti Pildun (yang tentu banyak catatan yang nantinya akan menyebabkan kelalaian terhadap tugas utama sebagai hambaNya).


Jika memiliki pemahaman terhadap visi demikian yang berorientasi pada akhirat. Tentu, kita tak akan pernah melihat umat Islam terpuruk seperti sekarang. Kita akan bisa melihat umat Islam menjadi pemimpin dunia dan sebaik-baik umat yang layak dijadikan teladan semua manusia. []

Khutbah IDUL FITRI 1447 H / 2026 M: “Dengan Al-Qur’an Umat Akan Meraih Kemuliaan”

IDUL FITRI 1447 H / 2026 M:

“Dengan Al-Qur’an Umat Akan Meraih Kemuliaan”

 

KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

اَللّٰهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ،

صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ، وَاللّٰهُ اَكْبَرُ، اَللّٰهُ اَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ هَذَا الْيَوْمَ عِيْداً لِلْمُسْلِمِيْنَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِمْ فِيْهِ الصِّيَامَ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ نَزَّلَ الْقُرْآنَ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانَ، نَحْمَدُهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَامِهِ وكَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُو الْجَلَالِ وَاْلإِكْرَا

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

 

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَذُرِّيَّاتِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ وَدَعَا إِلَى اللّٰهِ بِدَعْوَتِهِ، وَمَنْ جَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ حَقًّ جِهَادِهِ اِلَى دَارِ السَّلاَمِ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

 

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT, Tuhan seluruh alam. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau, para sahabatnya, dan kepada kita semua yang berusaha mengikuti ajaran beliau sampai akhir zaman.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Hari Raya Idul Fitri adalah hari yang penuh kebahagiaan. Hari bahagia bagi orang-orang yang telah menjalankan ibadah puasa satu bulan penuh di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridha Allah SWT. Setelah sebulan kita menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, maka pada hari ini kita merayakan kemenangan.

 

Dalam Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika kelak bertemu dengan Allah SWT.

 

Hadis tersebut mengajarkan kepada kita semua bahwa puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Kebahagiaan saat berbuka adalah tanda bahwa kita telah menjalankan perintah Allah dengan sabar. Sedangkan kebahagiaan ketika bertemu Allah adalah balasan besar yang Allah siapkan bagi orang yang menjalankan puasa dengan sungguh-sungguh. Karena itu, Idul Fitri menjadi waktu bagi kita untuk melihat kembali apakah puasa Ramadhan benar-benar membawa perubahan dalam diri kita menjadi lebih sabar, lebih peduli, dan lebih baik kepada sesama.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Di antara nikmat besar yang Allah berikan kepada kita adalah hadirnya bulan Ramadhan. Bulan ini sangat mulia karena pada bulan inilah Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, yang mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.

 

Karena itu, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Ramadhan juga menjadi waktu bagi kita untuk kembali dekat dengan Al-Qur’an: membacanya, memahami isinya, dan berusaha mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab jika Al-Qur’an kita jadikan pedoman hidup, insyaAllah hidup kita akan lebih terarah, lebih tenang, dan penuh keberkahan.

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Allah SWT berfirman:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ

 

“Kami telah menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu.” (QS. an-Nahl [16]: 89).

 

Dalam hal ini, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an berisi petunjuk bagi kehidupan manusia, baik dalam urusan agama maupun kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam mencari rezeki, Allah mengajarkan agar manusia mencari dengan cara yang benar, dengan cara yang halal. Allah berfirman:

وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا

 

“Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba.” (QS. al-Baqarah [2]: 275).

 

Selain itu, Allah juga mengingatkan kepada kita semua agar harta tidak hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْ

“…Agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja.” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

 

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Islam mengajarkan agar kekayaan tidak hanya dinikmati oleh orang kaya saja, tetapi juga dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, dalam Islam ada perintah zakat, infak, dan sedekah. Tujuannya apa? agar sebagian harta yang kita miliki bisa membantu fakir miskin, orang yang kesulitan, dan mereka yang membutuhkan.

 

Dengan cara itulah harta bisa berputar di tengah masyarakat dan membawa keberkahan. Namun jika orang hanya menumpuk harta untuk dirinya sendiri dan tidak peduli kepada orang lain, maka kesenjangan akan semakin besar dan keberkahan hidup pun. Karena itu, Al-Qur’an sebenarnya memberikan petunjuk agar kehidupan manusia berjalan dengan adil, seimbang, dan penuh keberkahan.

 

Rasulullah SAW juga mengingatkan agar umat Islam selalu berpegang pada dua pedoman utama. Beliau bersabda yang artinya:

Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama berpegang pada keduanya: Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik).

 

Karena itulah, setelah Ramadhan berlalu dan kita merayakan Idul Fitri, semoga hubungan kita dengan Al-Qur’an tidak ikut berlalu. Semoga kita tetap membaca, memahami, dan berusaha menjalankan ajaran Al-Qur’an dalam seluruh aspek kehidupan.

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika umat Islam benar-benar menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup, maka lahirlah kehidupan yang lebih baik: masyarakat menjadi lebih adil, lebih aman, dan lebih sejahtera. Namun ketika manusia mulai menjauh dari petunjuk Al-Qur’an, berbagai masalah muncul seperti kemiskinan, ketimpangan antara yang kaya dan miskin, korupsi, serta kerusakan moral di masyarakat.

 

Karena itu, kemuliaan umat Islam tidak akan kembali jika kita menjauh dari ajaran Al-Qur’an. Umat akan kembali kuat dan mulia jika menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan, baik dalam urusan pribadi, masyarakat, maupun dalam mengatur kehidupan bersama, bernegara.

 

Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah pada kesempatan ini. Jika ada kebenaran dalam apa yang saya sampaikan, itu semua berasal dari petunjuk Allah dan ajaran Rasul-Nya. Sedangkan jika ada kekurangan, itu berasal dari keterbatasan saya sebagai manusia.

 

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

 

KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

 

الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَ بَعْدَهُ

فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، تَمَسَّكُوْا بِاْلإِسْلَامِ فِيْ كُلِّ حِيْنٍ،

 وَاتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

 

AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, AlLâhu akbar, wa lilLâhil hamdu.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumulLâh.

Marilah kita berdoa, memohon dan bermunajat kepada Allah SWT. Semoga Allah mengabulkan permohonan kita. Semoga Allah memberikan kita kesabaran dan keikhlasan, menguatkan ketaatan kita, melanggengkan ketakwaan kita dan meneguhkan kita untuk tetap istiqamah di jalan-Nya.

 

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ:  إِنَّ اللّٰهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَذُرِيَّاتِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللَّهُمَّ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَامَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِوَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ

 

اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَ لِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَ صِغَارًا اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اللّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلَنَا عَمَلًا صَالِحًا مُتَقَبَّلًا، مُوَافِقًا بِأَحْكَامِكَ وَخَالِصًا لِوَجْهِكَ

 

اَللّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَكُلَّ أَعْمَالِنَا الصَّالِحَاتِ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاعْفُوْا عَنَّا تَقْصِرَاتَنَا وَارْحَمْنَا بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللَّهُمَّ اِنَّا نَسْئَلُكَ سَلَامَةً فِيْ الدِّيْنِ، وَعَافِيَةً فِيْ الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِيْ الْعِلْمِ، وَبَارَكَةً فِيْ الرِّزْقِ، وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ، وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ، وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ

 

، اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِيْ سَكَرَةِ الْمَوْتِ، وَنَجَاةً مِنَ النَّارِ وَعَفْوًا عِنْدَ الْحِسَابِ

اَللّٰهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ، إِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسَمَالِيِّيْنَ وَاَعْوَانَهُمْ وَاِشْتَرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعَهُمْ

 

اَللّٰهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

اَللّٰهُمَّ أَنْجِزْ لَنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رَسُوْلِكَ بِعَوْدَةِ دَوْلَةِ الْخِلاَفَةِ الرَّاشِدَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ، تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ، وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا، بِإِذْنِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا واِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ

 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

وَسُبْحَانَكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰه رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 


Tanpa Jejak Digital

Tanpa Jejak Digital


Pada suatu masa, aku mendengar kisah tentang seorang perempuan shalihah yang namanya sering disebut dengan penuh hormat. Ia dikenal bukan karena sorotan, melainkan karena akhlak. Dari cerita-cerita itulah rasa penasaran tumbuh. Ya, naluri lelaki pada umumnya. Aku mencoba mencarinya, mengetik namanya di layar, menelusuri media sosial, bahkan Google. Namun nihil. Tak ada akun, tak ada unggahan, tak ada jejak. Ia seolah hadir di dunia nyata, tapi absen sepenuhnya dari dunia maya.


Di saat banyak orang hari ini mudah dikenali dari layar, ia justru tak meninggalkan apa pun di sana. Namanya hidup dari mulut ke mulut, dari cerita tentang sikap dan perangainya. Ia dikenal bukan oleh algoritma, melainkan oleh manusia.


Rasa penasaran itu membawaku pada langkah berikutnya. Aku meminta seorang teman (yang pertama kali mengenalkannya padaku) untuk menemaniku berkunjung ke rumahnya. Dua kali aku datang bersama temanku. Setelahnya, aku datang sendiri, sekadar memastikan: apakah keluarganya berkenan menerimaku. Pikiranku sederhana. Jika iya, aku datang bersama keluarga; jika tidak, cukup sampai di situ saja.


Singkat cerita, semua berjalan dengan tenang dan pasti. Kami menikah di bulan Ramadhan. Dan sejak itu, setiap Ramadhan datang, ingatanku selalu pulang ke masa itu: langkah yang pelan, hati yang mantap, dan keyakinan tanpa bising.


Menariknya, baru setelah menikah aku menemukan satu-satunya jejak tentang dirinya di dunia maya. Hanya satu! Yakni di sebuah laman web kampus yang mencatat namanya sebagai alumninya, salah satu perguruan tinggi negeri. Hanya itu. Selebihnya tetap sunyi. Tak ada media sosial, sangat bertolak belakang dengan diriku. Wkwkwk...


Namun pada akhirnya, aku memilihnya bukan karena jejak digital, melainkan karena ketidakhadirannya di sana. Karena “data” paling valid justru kudapat dari pengamatan langsung: caranya bersikap, bertutur, dan lingkungan yang membesarkannya sejak kecil. Bukan pencitraan, tapi sifat. Bukan rekam jejak maya, melainkan nilai-nilai nyata yang hidup dalam dirinya. Dari pencarian itu, aku belajar: dalam urusan jodoh, yang terpenting bukan seberapa mudah seseorang ditemukan di internet, melainkan seberapa dalam ketenangan yang ia tinggalkan di hati. [] arman

Semester 7

Daftar kuliah di usia 31 tahun, sebagai bapak

tiga anak, bukan hanya tentang pelajaran

dan ujian di kelas

.

Ini adalah proses menempa ketahanan diri:

membagi waktu antara mencari nafkah,

menjaga keutuhan keluarga, merawat

pertemanan, dan terus belajar memperbaiki

diri

.

Semua dijalani dengan keyakinan bahwa

belajar adalah bagian dari ibadah, diniatkan

untuk mencari ridho Allah, sambil menyadari

bahwa tiada daya dan pertolongan kecuali

dari-Nya

.

Bismillah, otw semester akhir. Mau ngerjakan

skripsi di semester 8. Semoga diberikan

kemudahan dan kelancaran. Lulus tepat

waktu. Aamiin ya rabbal alamin 🤲

Love, Life and Dreams

Love, Life and Dreams

Pernah aku ingin berlabuh di sisinya.
Namun semesta menahan langkahku dengan asa.
Di sana, mimpiku hanya akan sirna.

Maka aku belajar merelakan segalanya.
Aku menyusuri sunyi dengan iman dan doa.
Hingga kutemukan jiwa yang menjaga mimpiku tetap bernyawa.

Kini ada dirinya, istriku tercinta.
Ia adalah teman sujud dan peneduh jiwa.
Dari sana aku paham, cinta sejati adalah berjalan bersama menjaga impian, menuju surga.


Terus Menyala

TERUS MENYALA


Sepuluh tahun lebih berlalu, kenangan pun ikut tumbuh dan berlalu

Waktu terus berputar, menghadirkan semangat yang selalu baru

Mereka yang dulu seusia SMA, kini menapaki hidup dengan cerita mereka

Masing-masing berjalan di jalannya, merangkai takdir yang Tuhan sapa


Ada yang bekerja, menjemput rezeki dari subuh ke senja

Ada yang kuliah, hingga akhirnya diwisuda penuh bangga

Ada yang menikah, menautkan dua hati dalam satu doa

Ada pula yang kini menggendong buah cinta,

melanjutkan cerita yang dulu hanya angan di bangku sekolah


Biarpun waktu telah sekian lama berlalu

Dan tempat itu berganti wajah-wajah yang baru

Aku pun terus berjalan mengikuti takdir yang sama

Dipertemukan kembali dengan anak-anak seusia mereka


Seakan waktu terus berputar pada poros yang sama

Menemani mereka, peran ini tetap melekat di setiap langkahku sepanjang masa

Generasi berganti, wajah dan cerita berubah, namun semangat tetap sama

Menyala, menghidupkan, dan selalu menemukan jalan menuju cinta-Nya


Lor Brantas, 24/11/2025