Tanpa Jejak Digital

Tanpa Jejak Digital


Pada suatu masa, aku mendengar kisah tentang seorang perempuan shalihah yang namanya sering disebut dengan penuh hormat. Ia dikenal bukan karena sorotan, melainkan karena akhlak. Dari cerita-cerita itulah rasa penasaran tumbuh. Ya, naluri lelaki pada umumnya. Aku mencoba mencarinya, mengetik namanya di layar, menelusuri media sosial, bahkan Google. Namun nihil. Tak ada akun, tak ada unggahan, tak ada jejak. Ia seolah hadir di dunia nyata, tapi absen sepenuhnya dari dunia maya.


Di saat banyak orang hari ini mudah dikenali dari layar, ia justru tak meninggalkan apa pun di sana. Namanya hidup dari mulut ke mulut, dari cerita tentang sikap dan perangainya. Ia dikenal bukan oleh algoritma, melainkan oleh manusia.


Rasa penasaran itu membawaku pada langkah berikutnya. Aku meminta seorang teman (yang pertama kali mengenalkannya padaku) untuk menemaniku berkunjung ke rumahnya. Dua kali aku datang bersama temanku. Setelahnya, aku datang sendiri, sekadar memastikan: apakah keluarganya berkenan menerimaku. Pikiranku sederhana. Jika iya, aku datang bersama keluarga; jika tidak, cukup sampai di situ saja.


Singkat cerita, semua berjalan dengan tenang dan pasti. Kami menikah di bulan Ramadhan. Dan sejak itu, setiap Ramadhan datang, ingatanku selalu pulang ke masa itu: langkah yang pelan, hati yang mantap, dan keyakinan tanpa bising.


Menariknya, baru setelah menikah aku menemukan satu-satunya jejak tentang dirinya di dunia maya. Hanya satu! Yakni di sebuah laman web kampus yang mencatat namanya sebagai alumninya, salah satu perguruan tinggi negeri. Hanya itu. Selebihnya tetap sunyi. Tak ada media sosial, sangat bertolak belakang dengan diriku. Wkwkwk...


Namun pada akhirnya, aku memilihnya bukan karena jejak digital, melainkan karena ketidakhadirannya di sana. Karena “data” paling valid justru kudapat dari pengamatan langsung: caranya bersikap, bertutur, dan lingkungan yang membesarkannya sejak kecil. Bukan pencitraan, tapi sifat. Bukan rekam jejak maya, melainkan nilai-nilai nyata yang hidup dalam dirinya. Dari pencarian itu, aku belajar: dalam urusan jodoh, yang terpenting bukan seberapa mudah seseorang ditemukan di internet, melainkan seberapa dalam ketenangan yang ia tinggalkan di hati. [] arman

0 Comments:

Posting Komentar