Sudut Pandang
Oleh: Mas Aziz Rohman
Sobat, jika kita mendapati sebuah peristiwa atau fakta kejadihan, terkadang kita mendapatkan banyak pendapat terkait hal tersebut. Faktanya memang sama, tapi yang disampaikan oleh masing-masing pihak terkait hal tersebut bisa berbeda. Ambil contoh dalam peristiwa tewasnya 6 anggota FPI di rest area KM 50 jalan tol Jakarta-Cikampek. Masing-masing pihak mengatakan dirinya sebagai korban. Berbeda kan, lho kenapa? Karena perbedaan sudut pandang.
Dalam dunia fotografi sudut pandang adalah rentang sudut perspektif yang terekam oleh kamera. Dalam satu hal, sebuah fakta objek benda jika diambil dengan sudut pandang yang tepat. Hasilnya bisa wow, indah mempesona. Tergantung bagaimana si fotografer mengambil gambar, dari sudut pandang mana dia menjepretnya.
Dalam menanggapi sebuah fakta kejadian. Dengan sudut pandang tertentu, kita bisa mengambil sebuah kesimpulan. Dan kembali lagi dilihat dari sudut pandang mana kita melihatnya. Ambil contoh jika ada (mohon maaf) orang buta Ndak pernah tahu gajah itu hewan yang bagaimana, nggak pernah tahu bentuknya, nggak pernah melihatnya. Dan ia ditanya, gajah itu hewan yang bagaimana? Kemudian dia memegang belalainya saja, tanpa ada informasi yang benar dan tanpa mengetahui fakta secara utuh. Bisa saja dia akan berkesimpulan bahwa gajah adalah hewan memanjang, sama seperti ular. Salah atau tidak?
Begitulah sudut pandang, kemanakah arah prespektif itu harus kita arahkan. Ini menjadi sesuatu yang sangat penting jika kita mendapati sebuah fakta peristiwa. Dan sebagai seorang muslim, tentu kita harus senantiasa terikat dengan hukum syara'. Makanya, jangan heran sudut pandang yang harus dimiliki oleh setiap muslim adalah sudut pandang yang islami. Yang dibangun dari pemahaman-pemahaman Islam yang benar. Ketika kita memiliki pemahaman yang benar, terus kita bertemu dengan satu peristiwa. Maka, insyaallah kita juga akan mampu menilai. Oh, kejadiannya itu begini loh, harusnya begitu dsb. Semua harus diambil dengan sudut pandang yang objektif dan dalam kacamata yang tepat.
Manusia berpikir, berperilaku berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Makanya, jangan heran jika misalkan si A sejak awal benci kepada si B. Kebenciannya sudah mendarah daging. Pasti saat ketemu si B bawaannya suudzan terus. Dan akan begitulah sudut pandang si A kepada si B, pasti akan penuh dengan rasa curiga. Sulit untuk menilainya dengan objektif. Lagi-lagi kenapa? Karena pemahaman yang salah sudut pandang yang salah. Berakibat pada kesimpulan yang salah.
Jadi, back to the topic. Sudut pandang akan selalu mempengaruhi pendapat dan kesimpulan seseorang. Makanya, agar kita memiliki sudut pandang yang benar. Maka, penting bagi kita juga. Untuk memiliki pemahaman-pemahaman yang benar. Dimana dengan pemahaman-pemahaman yang benar itulah pasti kita bisa membuat sebuah kesimpulan dari sebuah peristiwa secara benar dan objektif. Tidak sekedar ngasal, ngayal dan asbun alis omdo. Dan pemahaman-pemahaman yang benar pasti sandarannya adalah hukum syara', bukan yang lain. []
0 Comments:
Posting Komentar