Revolusi Akhlak
Oleh: Mas Aziz Rohman
Revolusi Akhlak! Begitulah yang disampaikan oleh Imam Besar Habib Rizieq Shihab pada orasinya yang disiarkan secara live di Front TV setelah tiba di tanah air kemarin (Selasa, 10/11). Setelah 3,5 tahun bermukim di Arab Saudi.
Menurut beliau dipilihnya kata 'akhlak' bukanlah tanpa alasan karena hal tersebut juga meneladani Rasulullah Saw. Yang mana dalam salah satu hadits dikatakan bahwa beliau saw diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
Dan revolusi sendiri adalah perubahan drastis, yang mendasar. Sehingga, bisa dikatakan revolusi akhlak adalah merubah akhlak sejak dari mendasar. Subhanallah, ini adalah sebuah gagasan yang menurut saya luar biasa yang disampaikan oleh salah seorang tokoh umat Islam negeri ini. Apalagi, jka kita renungkan bersama tentang akhlak dan kondisi moral bangsa kita saat ini. Tentu, ini adalah salah satu hal yang penting dan urgent!
Bagaimana kita melihat degradasi moral bangsa kita. Dari yang muda sampai yang tua sama saja memprihatinkan. Kita bisa cek bagaimana pergaulan bebas muda-mudi kita, banyak diantara para pemuda kita yang melakukan perkosaan, perzinahan dan berbagai tindak kriminal lainnya. Itu bukan sekali dua kali terjadi, bahkan sering dan seolah menjadi sesuatu yang biasa. Hukum yang diberikan pada para tersangka, nyatanya juga tak membuat mereka jera. Buktinya makin hari makin bertambah saja hal-hal tersebut. Astaghfirullah...
Belum lagi tentang akhlak mereka dalam bercakap, bagaimana mereka bicara dan berkata. Coba deh tengok sosial media dari mulai Facebook, YouTube, Instagram sampai Tiktok. Maka, akan kita temukan bagaimana kata-kata kasar itu mudah sekali keluar dari mulut mereka. Kata-kata kebun binatang mudah sekali muncul untuk menyebutkan dan menghina orang lain. Bagi saya ini adalah degradasi moral! Bagaimana dulu bangsa kita dikenal sebagai bangsa yang berbudi luhur dengan tutur kata yang sopan, saat ini seolah tak ada lagi.
Banyak diantara para pejabat dan pemimpin negeri inipun sama. Suka bohong dan ingkar janji sudah sering dipertontonkan oleh banyak pejabat di negeri ini. Sebagai contoh saja, kita bisa lihat. Mereka yang dulunya berjanji memegang amanah rakyat, nyatanya saat menjabat malah memperkaya diri. Coba deh lihat video-video di media massa, saat para koruptor saat ditangkap. Banyak diantara mereka nggak ada rasa malu, bahkan dada-dada melambaikan tangannya. Seolah seperti orang terkenal yang merasa bangga atas prestasinya. Padahal, memakai baju rompi orange khas tersangka tahanan KPK.
Bagaimana juga mereka, yang katanya para wakil rakyat. Kemarin diberitakan telah mensahkan UU omnibuslow ditengah pandemi. Yang dilakukan dengan tergopoh-gopoh. Bahkan, setelah disahkan banyak sekali draft yang masih salah. Inikan aneh, nggak ada akhlak bukan? Itu undang-undang yang akan mengatur urusan bangsa ini yang sangat urgent. Menurut banyak tokoh, hal itu dilakukan secara grusa-grusu. Astaghfirullah...
Sampai dengan disini. Saya sangat setuju akan pentingnya perbaikan akhlak masyarakat negeri ini. Apalagi kalo kita bicara akhlak maka sangat erat kaitannya dengan Islam. Apalagi Islam itu sendiri bukan sekedar mengatur urusan manusia dengan Tuhannya. Urusan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan sesamanya itu juga diatur, ada syariatnya. Islam pasti mampu memecahkan seluruh problematika kehidupananusoa, termasuk dalam masalah akhlak.
Islam telah merinci sistem peraturannya. Ada peraturan ibadah, muamalat dan uqubat. Dan ahlak sendiri adalah bagian dari syariat Islam. Akhlak mulia itu bukanlah bertindak atau berperilaku sesuai hukum positif, bukan pula berperilaku yang bisa dipuji orang lain. Tapi, akhlak sendiri adalah berperilaku sesuai dengan syariat Islam.
Jika syara' mengatakan berbohong itu haram, mencuri itu haram, berzina haram, berjudi juga haram. Lalu kita menjauhinya dan tidak melakukan itu semua. Maka, itu adalah akhlak yang terpuji.
Jika syara' memerintahkan kita untuk menghormati orang tua, berkata jujur, memerintahkan kita untuk menolong sesama, menegakkan hukum dengan adil. Maka, itu semua adalah akhlak yang mulia. Jadi, berakhlak mulia adalah bertindak sesuai syariat.
Dan ketika Syariat Islam seperti cadar dilecehkan, kita diam. Kemaksiatan merajalela, kita diam. Banyak orang terzolimi karna hukum yang tebang pilih, diam saja. Bahkan, nabinya dihina juga tetap diam. Maka sesungguhnya itu adalah perbuatan tercela, nggak ada akhlak! Sehingga perlu kiranya bagi kita semua untuk merenung dan kemudian berubah. Sebelum semuanya terlambat.
Dan, karena akhlak sendiri adalah bertindak sesuai syariat Islam. Maka, tentu sebagai seorang muslim kita harus terus dan terus berdakwah. Istiqomah dalam berdakwah hingga Syariat Islam itu bisa tegak secara sempurna di muka bumi ini, dalam naungan khilafah rasyidah ala minhaj nubuwah. Sehingga Islam itu bisa benar-benar menjadi rahmatan lil alamin. Insyaallah... []
0 Comments:
Posting Komentar