Banyaklah Bersyukur, Hatimu akan Sehat dan bercahaya

“Ya  Allah, jadikan cahaya dalam hatiku, cahaya pada lisanku, cahaya pada pendengaranku, cahaya pada penglihatanku, cahaya di belakangku,  dan  di depanku, jadikan cahaya di atasku dan juga di bawahku. Ya Allah limpahi aku dengan cahaya.”


Sobat. Hati  yang  sehat  adalah  yang  memutuskan harapannya kepada  makhluk dan hanya  bergantung kepada Allah SWT. Hati yang sehat meyakini bahwa semua wujud selain Allah adalah laksana debu. Karena itu tinggalkan makhluk dan  lupakan pujian mereka. Janganlah mengharap manfaat  dari  mereka, dan  jangan takut kepada bahaya yang berasal dari mereka. Sejauh mana kau menghampiri Allah, sejauh itulah kau membelakangi makhluk. Begitu pun sebaliknya.

Jika  kau memberi maka pemberianmu itu hanya untuk  Allah bukan  karena agar manusia menyebutmu  dermawan atau pemurah. Jika mencintai maka mencintailah karena Allah, bukan kepentingan  duniawi  yang  murahan. Jika kau membenci, bencilah  karena Allah, bukan lantaran dengki dan ketidaksukaanmu. Baginda Rasulullah SAW bersabda, “ Siapa yang cinta karena Allah, membenci karena Allah, Memberi karena Allah, dan tidak memberi karena Allah, berarti imannya telah sempurna.” 

Sobat. Kosongkan  hatimu  dari segala sesuatu selain Dia, baik itu berupa segala sesuatu yang menggiurkan, syahwat, harta, dan kedudukan. Jika hatimu telah kosong, pasti rahmat, taufik, dan bantuan Allah  akan  menjaga dan memeliharamu setiap waktu, sebagaimana firman Allah: “Sesunggunya pelindungku ialah Allah yang telah  menurunkan alkitab ( Al-Quran) dan Dia melindungi orang yang sholeh.”

Sobat. Hati  menjadi  rusak apabila di dalamnya terdapat  sesembahan  selain Allah, sebagaimana langit dan bumi yang akan hancur bila ada Tuhan-Tuhan selain Allah : “ Kalau pada keduanya  terdapat Tuhan-Tuhan  selain Allah, niscaya ia hancur.”

Begitu pula keadaan hati yang  diisi sesembahan selain Allah. Hati  itu akan menjadi sangat rusak dan sulit diharapkan sembuh kecuali dengan menyingkirkan  sesembahan tersebut dan menjadikan Allah semata sebagai satu-satunya Tuhan dan sesembahannya yang dicintai , diharapkan, ditakuti, dan dijadikan tempat bergantung serta tempat kembali.

“ Bukanlah lelaki sejati yang menyeru manusia di suatu majelis. Lelaki sejati adalah yang menyeru  dan  mengembalikan nafsunya kepada Allah.” Kata Ibnu Athaillah

Mesti diingat bahwa  nafsu  yang menyimpang dari jalan Allah pasti akan membawa  bencana  dan  kehancuran  kepada si pemilik nafsu tersebut. Karena itu, kenali hakikat  nafsu dan kembalikanlah kepada Allah  sebelum pintu tobat ditututp dan sebelum datang hari penyesalan tak lagi berguna.

Sobat. Sesungguhnya orang yang benar-benar mulia adalah  yang mengetahui hakikat nafsu dan penyimpangannya  dari Allah  sehingga ia berjuang untuk mengembalikan  nafsunya kepada Allah. Ia menundukkan nafsunya sehingga taat kepada Allah dan mau menjalankan ketentuan-Nya dalam kehidupan ini.

Sobat. Hati yang sehat adalah hati orang yang banyak bersyukur. Syukur itu adalah penampakan bekas nikmat Allah pada lisan hamba-Nya, dengan pujian dan pengakuan, pada hatinya terdapat pengakuan dan cinta, dan pada anggota tubuhnya terdapat keyakinan dan ketaatan. Berikut ini beberapa kaidah bersyukur, yaitu :

1. Kaidah pertama : Tunduknya orang yang bersyukur kepada Allah. Kau tundukkan dan hinakan dirimu di hadapan Tuhanmu. Tiada pemberi rezeki, tiada pengawas urusan makhluk, tiada pencipta, tiada pemberi, tiada pencegah rezeki, tiada pemberi manfaat dan mudharat, selain Allah SWT.
2. Kaidah kedua : Cintamu hanya untuk-Nya. Sudah lumrah jika kau mencintai Dzat yang memberimu nikmat dan  yang mengulurkan kebaikan padamu. Hati bergejolak  untuk mencintai Dzat yang telah berbuat baik padanya. Apakah logis  jika  ada  orang yang tidak mencintai Sang Pemberi rezeki, yang telah mencukupi keperluannya, dan memberkahinya?
3. Kaidah ketiga : Pengakuan atas nikmat-nikmat-Nya. Sungguh setiap kenikmatan  dan pemberian  berasal dari Allah SWT. Temanmu tidak punya kuasa untuk memberimu sesuatu. Direkturmu juga tidak dapat menolak mudharat atasmu. Begitupun gurumu tidak dapat membuatmu naik kelas. Semuanya merupakan karunia dari Allah SWT.
4. Kaidah keempat : Pujian hanya untuk-Nya.  Perbanyaklah pujian pada Allah, dzikir lisan, dan syukur atas  segala nikmat  yang telah Allah  berikan padamu. Ingatlah sobat. Pada saat kau mulai sholat selalu diawali dengan bacaan “ Al hamdulillahi rabbil ‘aalamin “ kemudian kau mengakhirinya  dengan bacaan  “ Innaka hamidun majid “. Perbanyaklah  pujian pada Tuhanmu, Dzat Pemberi nikmat.
5. Kaidah kelima : Jangan gunakan nikmat-nikmat-Nya untuk kemaksiatan.  Setelah kau menerima nikmat sedemikian besar  yang memenuhi  hidupmu, apakah logis jika kau balas semua  nikmat itu dengan kekufuran, keingkaran, dan maksiat?

Jika  satu kaidah salah, maka seluruh kaidah juga salah. Maka  sungguh harus kita perhatikan dan amalkan semua kaidah di atas.

Sobat sebagai penutup dari artikel yang singkat ini, Keberkahan pasti berujung pada kebaikan. Kalau aktivitas harian kita tidak membuat kita semakin dekat dengan Allah, bisa jadi itu pertanda tak ada keberkahan di dalamnya. Imam nawawi menjelaskan berkah  adalah kebaikan yang banyak dan abadi. Maka harapannya, di setiap harinya, ada banyak kebaikan yang hadir dalam diri kita yang sifatnya lebih melekat dan langgeng.

Sobat. Fokuslah mencari ridho dan kasih sayang Allah . Karena kalau Allah sudah ridho dan sayang sama kita, apa pun yang kita butuhkan, pasti Allah kasih. Bahkan , kita gak minta pun, Allah bakal kasih. Kunci itu semua adalah karena ketaatan dan ketakwaan kita kepada-Nya.

Salam Berkah, Mulia dan Keberlimpahan !

( Spiritual Motivator – DR.N.Faqih Syarif H, M.Si  Penulis Buku Gizi Spiritual. Sekretaris Komnas Pendidikan Jawa Timur. Majelis Kyai PP Al-Ihsan Baron Nganjuk dan Dewan Pembina PP Al- Amri Leces probolinggo Jawa Timur )

0 Comments:

Posting Komentar