Susunan Ilmu Sumber Keberhasilan
Seorang cendikiawan muslim Indonesia Dr. Dwi Condro Triono mengatakan bahwa kerusakan Indonesia yang luar biasa parah itu dikarenakan kesalahan dalam pendidikan. Tentu kita bertanya mengapa kok dikatakan demikian? Toh kita juga sering menjumpai banyak anak-anak Indonesia yang berhasil meraih prestasi di tingkat dunia. Tapi kok dikatakan seperti demikian, apanya yang salah. Mari kita renungkan jawaban beliau. Alasan beliau mengatakan demikian adalah karena bangsa ini salah menempatkan ilmu. Kesalahan inilah yang membuat bangsa kita rusak. Seandainya kita cerdas menempatkan ilmu, tentu kita akan tunduk takzim pada syariah Islam. Kita tidak akan pernah mengatakan bahwa khilafah adalah ancaman, khilafah adalah pemecah belah bangsa. Tidak! Karena khilafah adalah ajaran islam.
Menurut beliau, fakta ilmu sendiri itu ada enam macam tingkatan.
-Tingkat pertama, ilmu memahami fakta. Sebagaimana anak balita memahami itu air, itu tanah, itu api, dsb.
-Tingkat kedua, ilmu menghubungkan fakta. Sebagaimana anak usia lima tahun tahu bahwa air yang dipanaskan mendidih, batu jika dilemparkan akan jatuh, dsb.
-Tingkat ketiga, ilmu rekayasa terhadap fakta. Seperti anak tujuh tahun yang tahu cara memanaskan air, cara membuat mainan mobil-mobilan dari kulit jeruk, dan semacamnya.
-Tingkat empat, ilmu memahami hakekat fakta. Seperti anak SD memahami berbagai fakta di dunia ini diciptakan siapa, untuk apa dan kepada siapa kita perlu bertanggungjawab.
-Tingkat lima, ilmu hukum. Ini terkait anak SMP belajar hukum, seperti KUHP atau syariah islam. Karena manusia memahami fakta, maka ada aturan buat mereka. Seperti apa aturannya, itu yang dipelajari.
-Tingkat enam, ilmu ijtihad. Dengan adanya perbedaan dalam pembuatan aturan, maka dibutuhkan ijtihad. Yang memulai mempelajari ilmu semacam ini biasanya tingkatan SMA atau perguruan tinggi.
Pada kasus ini menurut beliau, selama ini kita hanya berfokus pada tingkatan satu sampai tiga. Tapi lupa dengan tingkatan berikutnya. Disinilah masalahnya, bagaimana bisa maju jika seperti ini terus. Padahal tiga tingkatan pertama tersebut hanya pada tingkatan materi saja. Sementara tiga yang lain pada manusianya.
Dahulu Indonesia adalah penghasil gula terbesar di dunia, juga penghasil kopi terbesar di dunia. Penduduk Indonesia begitu ahli menanam gula ataupun kopi, meski tanaman itu bukan asli Indonesia. Akan tetapi, saat kita ahli dalam menanam gula dan kopi (saat itu), Belanda begitu ahli mengendalikan penduduk Indonesia. Sekarang, kejadiannya kurang lebih hampir sama. Indonesia bukanlah sebuah negara yang berhak/bisa untuk mengatur negaranya sendiri. Kita didekte oleh negara lain.
Nah, jika kita mengulas lagi dengan teori ilmu diatas dalam kasus virus korona. Dalam pandangan saya, juga hampir sama. Bahkan ditingkat pertama, untuk memahami fakta korona saja rezim telah gagal sejak awal. Terlihat dengan berbagai candaan dan guyonan yang terucap dari para pejabat. Apalagi ditingkat dua, menghubungkan fakta korona. Dikatakan bahwa virus ini bisa begitu dan begini juga gagal. Saat virus ini awal muncul di Wuhan dan mulai menyebar keluar Cina. Banyak negara yang melarang turis asal Cina masuk ke negaranya. Indonesia? Malah membiarkan para TKA Cina masuk dengan santai dan tanpa ada rasa was-was. Andaikan ini bukan jaman sosmed. Tentu fakta ini tak akan mungkin terungkap. Ditingkat tiga, ilmu rekayasa terhadap fakta? Memahami fakta saja gagal jelas rekayasa terhadapnya juga kacau.
Ilmu tingkat satu, dua, tiga adalah tingkat dasar. Tingkat empat, lima, enam adalah tingkat atas. Bila dicermati lebih detil, maka akan kita temui dua hal. Pertama, untuk mempelajari semua tingkatan ilmu itu butuh usia lebih tinggi. Kedua, ilmu tingkat pertama sampai ketiga adalah ilmu tentang benda dan materi, sedangkan tingkat empat sampai enam adalah tentang manusia. Nah, jika kita tidak bisa belajar dengan tepat dan benar tentu kita hanya akan mampu menguasai ilmu tentang materi saja. Kita hanya akan menguasai ilmu tentang benda-benda di dunia, bukan menguasai diri kita. Alhasil, kitapun dikuasai dan diatur orang lain.
Kemudian, jika kita bicara tentang ilmu. Akan kita dapati bahwa ilmu itu ada dua, ilmu buatan manusia dan ilmu dari Sang pencipta. Ilmu buatan manusia itu contohnya seperti sekulerisme, demokrasi, kapitalisme, sosialisme, liberalisme, dsb. Ilmu buatan manusia selalu dan selalu saja menguntungkan segelintir orang dan menyiksa sebagian yang lainnya. Menguntungkan para subjek pemakainya, dan merugikan objeknya. Ambil contoh kapitalisme, bagaimana digdayanya perusahaan-perusahaan besar dunia itu mengeksploitasi negara-negara berkembang. Mengapa terjadi seperti itu? Karena ilmu buatan manusia itu pasti akan cenderung subjektif. Meskipun kebanyakan manusia sekarang memakai ilmu-ilmu buatan manusia tersebut, itu bukan berarti ilmu tersebut benar. Karena hakekat kebenaran itu tidak ditentukan oleh kebanyakan orang.
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ؕ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. [QS. Al-An'am: Ayat 116]
Itulah ilmu manusia yang memperdaya bukan memberdayakan. Ilmunya tidak adil dan menguntungkan segelintir orang saja.
Berbeda halnya jika ilmu tersebut berasal dari Allah SWT. Dzat Yang Maha pencipta, tentu Dia paling tahu apa kebutuhan mahlukNya dan apa yang terbaik buat mahlukNya. Oleh karena itu, seharusnya sudah tidak ada keraguan lagi dibenak orang beriman untuk menerapkan semua syariahNya.
وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَ ؕ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَـعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ؕ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ
Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memerdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. [QS. Al-Ma'idah: Ayat 49]
Fakta-fakta sejarah telah menuliskan bahwa ketika umat Islam konsisten dengan ilmu manusia yang berasal dari Allah SWT. Islam mampu memimpin peradaban dunia selama 13 abad lebih dan menguasai wilayah sekitar 2/3 dunia. Dari yang sebelumnya tidak dianggap oleh dua adidaya dunia saat itu, Romawi dan Persia. Islam muncul dan berhasil mengalahkan dua adidaya tersebut.
Darimana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan kembali adalah sebuah simpul besar yang wajib dipecahkan oleh setiap manusia jika ia ingin menuju kepada jalan kebahagiaan. Memahami fakta dirinya itu adalah siapa, harus bagaimana di dunia ini dan harus bagaimana sehingga bisa meraih kebahagiaan setelah mati nanti.
Dan jika kita melihat bagaimana keruwetan dunia ini. Mulai dari korona yang tak juga teratasi, krisis hidup yang multidimensi, yang kaya makin kaya, yang miskin tambah susah. Sekulerisme yang makin menggila, hingga persoalan semacam freesex dan homoseksual dianggap sebagai sesuatu yang sepele dan hal biasa. Justru semakin meneguhkan kepada kita bahwa kita harus kembali pada aturan Allah SWT. Penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah rasyidah ala minhaj nubuwah adalah sebuah keniscayaan agar kita bisa terbebas dari jeratan keruwetan dunia ini. Wallahu'alam bish shawab. []
Menurut beliau, fakta ilmu sendiri itu ada enam macam tingkatan.
-Tingkat pertama, ilmu memahami fakta. Sebagaimana anak balita memahami itu air, itu tanah, itu api, dsb.
-Tingkat kedua, ilmu menghubungkan fakta. Sebagaimana anak usia lima tahun tahu bahwa air yang dipanaskan mendidih, batu jika dilemparkan akan jatuh, dsb.
-Tingkat ketiga, ilmu rekayasa terhadap fakta. Seperti anak tujuh tahun yang tahu cara memanaskan air, cara membuat mainan mobil-mobilan dari kulit jeruk, dan semacamnya.
-Tingkat empat, ilmu memahami hakekat fakta. Seperti anak SD memahami berbagai fakta di dunia ini diciptakan siapa, untuk apa dan kepada siapa kita perlu bertanggungjawab.
-Tingkat lima, ilmu hukum. Ini terkait anak SMP belajar hukum, seperti KUHP atau syariah islam. Karena manusia memahami fakta, maka ada aturan buat mereka. Seperti apa aturannya, itu yang dipelajari.
-Tingkat enam, ilmu ijtihad. Dengan adanya perbedaan dalam pembuatan aturan, maka dibutuhkan ijtihad. Yang memulai mempelajari ilmu semacam ini biasanya tingkatan SMA atau perguruan tinggi.
Pada kasus ini menurut beliau, selama ini kita hanya berfokus pada tingkatan satu sampai tiga. Tapi lupa dengan tingkatan berikutnya. Disinilah masalahnya, bagaimana bisa maju jika seperti ini terus. Padahal tiga tingkatan pertama tersebut hanya pada tingkatan materi saja. Sementara tiga yang lain pada manusianya.
Dahulu Indonesia adalah penghasil gula terbesar di dunia, juga penghasil kopi terbesar di dunia. Penduduk Indonesia begitu ahli menanam gula ataupun kopi, meski tanaman itu bukan asli Indonesia. Akan tetapi, saat kita ahli dalam menanam gula dan kopi (saat itu), Belanda begitu ahli mengendalikan penduduk Indonesia. Sekarang, kejadiannya kurang lebih hampir sama. Indonesia bukanlah sebuah negara yang berhak/bisa untuk mengatur negaranya sendiri. Kita didekte oleh negara lain.
Nah, jika kita mengulas lagi dengan teori ilmu diatas dalam kasus virus korona. Dalam pandangan saya, juga hampir sama. Bahkan ditingkat pertama, untuk memahami fakta korona saja rezim telah gagal sejak awal. Terlihat dengan berbagai candaan dan guyonan yang terucap dari para pejabat. Apalagi ditingkat dua, menghubungkan fakta korona. Dikatakan bahwa virus ini bisa begitu dan begini juga gagal. Saat virus ini awal muncul di Wuhan dan mulai menyebar keluar Cina. Banyak negara yang melarang turis asal Cina masuk ke negaranya. Indonesia? Malah membiarkan para TKA Cina masuk dengan santai dan tanpa ada rasa was-was. Andaikan ini bukan jaman sosmed. Tentu fakta ini tak akan mungkin terungkap. Ditingkat tiga, ilmu rekayasa terhadap fakta? Memahami fakta saja gagal jelas rekayasa terhadapnya juga kacau.
Ilmu tingkat satu, dua, tiga adalah tingkat dasar. Tingkat empat, lima, enam adalah tingkat atas. Bila dicermati lebih detil, maka akan kita temui dua hal. Pertama, untuk mempelajari semua tingkatan ilmu itu butuh usia lebih tinggi. Kedua, ilmu tingkat pertama sampai ketiga adalah ilmu tentang benda dan materi, sedangkan tingkat empat sampai enam adalah tentang manusia. Nah, jika kita tidak bisa belajar dengan tepat dan benar tentu kita hanya akan mampu menguasai ilmu tentang materi saja. Kita hanya akan menguasai ilmu tentang benda-benda di dunia, bukan menguasai diri kita. Alhasil, kitapun dikuasai dan diatur orang lain.
Kemudian, jika kita bicara tentang ilmu. Akan kita dapati bahwa ilmu itu ada dua, ilmu buatan manusia dan ilmu dari Sang pencipta. Ilmu buatan manusia itu contohnya seperti sekulerisme, demokrasi, kapitalisme, sosialisme, liberalisme, dsb. Ilmu buatan manusia selalu dan selalu saja menguntungkan segelintir orang dan menyiksa sebagian yang lainnya. Menguntungkan para subjek pemakainya, dan merugikan objeknya. Ambil contoh kapitalisme, bagaimana digdayanya perusahaan-perusahaan besar dunia itu mengeksploitasi negara-negara berkembang. Mengapa terjadi seperti itu? Karena ilmu buatan manusia itu pasti akan cenderung subjektif. Meskipun kebanyakan manusia sekarang memakai ilmu-ilmu buatan manusia tersebut, itu bukan berarti ilmu tersebut benar. Karena hakekat kebenaran itu tidak ditentukan oleh kebanyakan orang.
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ؕ اِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Yang mereka ikuti hanya persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan. [QS. Al-An'am: Ayat 116]
Itulah ilmu manusia yang memperdaya bukan memberdayakan. Ilmunya tidak adil dan menguntungkan segelintir orang saja.
Berbeda halnya jika ilmu tersebut berasal dari Allah SWT. Dzat Yang Maha pencipta, tentu Dia paling tahu apa kebutuhan mahlukNya dan apa yang terbaik buat mahlukNya. Oleh karena itu, seharusnya sudah tidak ada keraguan lagi dibenak orang beriman untuk menerapkan semua syariahNya.
وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ وَلَا تَتَّبِعْ اَهْوَآءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ اَنْ يَّفْتِنُوْكَ عَنْۢ بَعْضِ مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ اِلَيْكَ ؕ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ اَنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّصِيْبَهُمْ بِبَـعْضِ ذُنُوْبِهِمْ ؕ وَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ لَفٰسِقُوْنَ
Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka. Dan waspadalah terhadap mereka, jangan sampai mereka memerdayakan engkau terhadap sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah berkehendak menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sungguh, kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. [QS. Al-Ma'idah: Ayat 49]
Fakta-fakta sejarah telah menuliskan bahwa ketika umat Islam konsisten dengan ilmu manusia yang berasal dari Allah SWT. Islam mampu memimpin peradaban dunia selama 13 abad lebih dan menguasai wilayah sekitar 2/3 dunia. Dari yang sebelumnya tidak dianggap oleh dua adidaya dunia saat itu, Romawi dan Persia. Islam muncul dan berhasil mengalahkan dua adidaya tersebut.
Darimana kita berasal, untuk apa kita hidup dan kemana kita akan kembali adalah sebuah simpul besar yang wajib dipecahkan oleh setiap manusia jika ia ingin menuju kepada jalan kebahagiaan. Memahami fakta dirinya itu adalah siapa, harus bagaimana di dunia ini dan harus bagaimana sehingga bisa meraih kebahagiaan setelah mati nanti.
Dan jika kita melihat bagaimana keruwetan dunia ini. Mulai dari korona yang tak juga teratasi, krisis hidup yang multidimensi, yang kaya makin kaya, yang miskin tambah susah. Sekulerisme yang makin menggila, hingga persoalan semacam freesex dan homoseksual dianggap sebagai sesuatu yang sepele dan hal biasa. Justru semakin meneguhkan kepada kita bahwa kita harus kembali pada aturan Allah SWT. Penerapan syariah Islam secara kaffah dalam bingkai khilafah rasyidah ala minhaj nubuwah adalah sebuah keniscayaan agar kita bisa terbebas dari jeratan keruwetan dunia ini. Wallahu'alam bish shawab. []
0 Comments:
Posting Komentar