Antara Rajab, Lockdown dan Virus Corona Yang Nyebelin
Oleh: Aziz Rohman
Sobat, dalam kalender hijriah masing-masing bulan memang memiliki karakteristik tersendiri. Tak terkecuali di bulan rajab, yang didalamnya terdapat peristiwa agung nan mulia. Yakni, isra' mi'raj.
Katanya sih, nama Rajab berasal dari kata tarjib, yang berarti yang terhormat. Dari namanya saja kita sudah bisa menebak bahwa bulan Rajab memang termasuk salah satu dari bulan yang mulia dan terhormat.
Peristiwa isra' mi'raj sendiri jatuh pada tanggal 27 Rajab. Yang pada tahun 2020 kali ini bertepatan pada hari Ahad, 22 Maret kemarin. Pada hari ke 27 dibulan rajab itulah, Rasulullah Saw menerima perintah untuk melaksanakan sholat 5 waktu.
Karena memang dianggap rajab adalah bulan yang baik. Maka tak heran saat kita keluar rumah, seringkali menjumpai tenda-tenda pernikahan. Maklumlah, katanya sih mumpung bulan baik. Baiknya menikah segera. Itu Kaka kakak-kakak yang masih jomblo. Terlebih dua bulan lagi ketemu sama bulan ramadhan. Harapannya sih biar pas berbuka dan sahur nanti, nggak sendirian lagi. Trus, pas lebaran tiba, nggak ditanya-tanya sama keluarga. Calonnya mana, kok sendirian aja? Hahaha....
Tapi Gaes, bulan Rajab 1441 H ini suasananya berbeda dari sebelum-sebelumnya. Apalagi wabah virus corona yang sebelumnya diremehkan. Kini makin menjadi dan makin menggila. Jika bulan-bulan rajab sebelum ini selalu diliputi tanda-tanda kebahagiaan. Karena banyak diantara keluarga kita yang menikah. Kali ini berbeda, karena Covid-19 membuat kita semua menjadi bersedih. Banyak kisah dan cerita saya dapatkan, sebagian dari kakak-kakak kita yang akan melangsungkan pernikahan. Ada yang menundanya terlebih dahulu. Ada yang hajatannya atau acara walimahnya, diundur. Karena memang dibeberapa tempat yang masuk kategori zona merah, tidak boleh menggelar acara yang mengumpulkan banyak orang dalam satu tempat. Karena dikhawatirkan bisa menjadi wasilah tersebarnya virus corona. Duh, jadi sedih dan kasihan... Pengen nangis aku. T_T
Kemudian, pengajian rajab tahunan yang biasanya saya ikuti. Untuk kali ini tidak bisa diselenggarakan secara langsung seperti biasanya. Kenapa? Karena khawatir virus corona makin menyebar, jika ada banyak orang berkumpul di satu tempat. Kecewa sih iya, namun aku sendiri menyadari bahwa keadaan saat ini memang tidak memungkinkan. Terlebih penyebaran corona saat ini, makin tak terkendali. Jadi, mana yang harus kita pilih disini? Tentu, mencegah bahaya (mudharat) itu lebih penting. Terlebih bahaya ini bisa mengancam nyawa manusia. Maka nggak heran, jika panitia yang sudah terlanjur merencanakan agenda dan mengundang pembicara. Akhirnya, merubah format acara rajab kali ini. Pengajian rajabnya, diubah menjadi semacam pengajian on-line. Saya masih bisa mengikuti dan mendengarkan pengajian dari para ustadz pembicara tanpa harus bertatap muka langsung. Pengajian via online, dari rumah masing-masing. Hebat... Ini adalah sebuah bentuk nyata umat Islam yang sangat memahami konteks dan keadaan terkini. Untuk #TetapDiRumah agar penyebaran virus corona bisa dikendalikan.
Sobat, dalam konteks pandemi atau virus. Dalil dari kanjeng Nabi Saw sudah sangat gamblang, jelas dan tegas. Harus Lockdown! Persis sebagaimana dijelaskan Ust. Hafidz Abdurrahman di laman Facebook beliau (23/3). "Dalam konteks pandemi, haditsnya juga jelas. Lockdown. Jangan memasuki wilayah pandemi. Jangan keluar dari sana, kecuali untuk berobat berobat. Jelas dan tegas." Kata beliau
Sampai disini para pemimpin Indonesia itu seharusnya berkaca. Bahwa cara terbaik agar wabah virus corona yang nyebelin itu bisa segera hilang dari Indonesia adalah dengan mengikuti cara yang telah diajarkan Rasulullah Saw. Dengan apa? Lockdown! Itulah cara terbaik yang harus dilakukan. Sebagaimana yang telah dilakukan negara-negara lain, seperti Cina, Italia, Spanyol, Prancis, Malaysia dsb. Jangan takut nggak bisa makan atau bagaimana. Lha wong Cina / Italia yang bukan negara mayoritas penduduknya muslim aja berani mengambil langkah tersebut. Kok, kita yang ngaku sebagai umatnya nggak mau mengambil kebijakan yang telah diajarkan beliau Saw. Kan aneh banget gitu loh...
Bulan rajab banyak sekali mengisahkan kisah bersejarah dan perjuangan umat Islam. Mulai dari Peristiwa isra' mi'raj, Perubahan arah kiblat dari Baitul maqdis ke Mekkah, Kemenangan kaum muslimin melawan romawi di Perang Tabuk, Pembebasan kota Damaskus dari Romawi, Pembebasan Baitul maqdis dari kaum salib oleh Salahuddin Al Ayyubi, Keruntuhan Khilafah Ustmaniyah pada 28 Rajab 1342 H, dsb.
Banyak peristiwa bersejarah bagi umat Islam ini. Menunjukkan pada kita bahwa bulan Rajab adalah memang bulan perjuangan. Kita memang sedang berjuang melawan virus corona yang nyebelin. Untuk itu, mari teladani bagaimana cara kanjeng nabi kita dalam menangani wabah sebuah penyakit. Dengan cara lockdown! Kemudian, tak cukup hanya disitu saja. Kita juga harus meneladani Baginda Rasulullah Saw dalam hal yang lainnya. Bukan hanya untuk urusan penanganan virus atau wabah saja. Untuk urusan kehidupan yang lain, tentu kita juga harus mencontoh beliau. Agar Islam bisa benar-benar diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan dan menjadi rahmat bagi sekalian alam. Jauh dari virus, wabah dan juga penyakit. Insyaallah... []

0 Comments:
Posting Komentar