IDUL FITRI 2025: MOMENTUM PERUBAHAN MENUJU CAHAYA ISLAM

 

KHUTBAH PERTAMA

 

السَّلَامُ علَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

 

 اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ واللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

الحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْقُرْآنَ نُوْرًا يُضِيْءُ دُرُوْبَ الْعَابِدِيْنَ، وَشَرَّعَ لَنَا شَرِيْعَةً تُصْلِحُ حَالَ اْلأَوَّلِيْنَ وَاْلآخِرِيْنَ، وَأَخْرَجَنَا مِنَ ظُلُمَاتِ الْجَهْلِ وَالظُّلْمِ إِلَى سَنَاءِ الْهُدَى وَالْيَقِيْنِ.

 

 وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً نَجْتَازُ بِهَا ظَلاَمَ الضَّلَالِ إِلَى نُوْرِ الْعِرْفَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ جَاءَ بِالدِّيْنِ الْقَوِيْمِ، فَأَضَاءَ اْلأَرْضَ بَعْدَ عَمَى الْجَاهِلِيَّةِ وَظُلُمَاتِ الطُّغْيَانِ. وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَإِنَّ اللهَ سُبحَانَهُ وَتَعَالىَ يَقُوْلُ فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: ﴿يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾ [آل عمران: 102]

 

وَقَالَ الرَّسُوْلُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الكِتَابِ أَقْوَامًا، وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ» [رواه مسلم]

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Dialah yang telah memberi kita kesempatan menjalani bulan Ramadhan, beribadah dengan penuh kesungguhan, hingga akhirnya membawa kita pada hari kemenangan, yaitu Idul Fitri yang kita rayakan dengan gembira.

 

Hari ini adalah hari kemenangan. Bukan sekadar karena kita bertakbir dan bertahmid, tetapi karena kita telah berhasil melawan hawa nafsu dan godaan setan. Kemenangan ini kita rayakan dengan penuh rasa syukur dan sujud kepada Allah. 

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Pada hari yang mulia ini kita bergembira. Tentu bukan semata karena kita kembali berbuka, tetapi terutama karena Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah menjanjikan dua kebahagiaan kepada orang yang berpuasa. Demikian sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallâhu ‘alaihi wasallam:

 

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan saat berbuka dan kebahagiaan saat berjumpa (di Akhirat) dengan Tuhannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 

Karena itu kebahagiaan sejati tentu bukan terletak pada rasa lapar dan dahaga yang mampu kita atasi setiap hari. Juga bukan terletak pada rasa lelah dan kantuk yang sukses kita lewati selama bulan suci. Kebahagiaan sejati adalah saat kita berhasil meraih ketakwaan hakiki. Sebabnya, itulah tujuan utama puasa Ramadhan yang kita jalani. Demikian sebagaimana firman-Nya:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ

 

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. al-Baqarah [2]: 183).

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Sayangnya kebahagiaan ini masih bercampur dengan kesedihan yang menyayat hati. Ramadhan yang penuh dengan keberkahan ini masih saja kita jalani dalam ruang gelap peradaban. Negeri kita, bahkan dunia Islam, sudah lama terjebak dalam sistem kehidupan edan yang membuat kita lupa akan syariatNya. Yang membuat hidup kita semakin susah dan jauh dari aturanNya.

 

Lihat saja di tanah air kita. Banyak ketidakadilan terjadi di mana-mana. Sumber daya alam yang melimpah justru dikuasai oleh segelintir orang kaya, bukan untuk kesejahteraan rakyat kecil yang terus berjuang untuk hidup. Hutan-hutan ditebang habis hanya demi keuntungan segelintir orang, bukan untuk kepentingan bersama.

 

Sementara itu, korupsi makin merajalela. Utang negara terus bertambah, pajak makin memberatkan rakyat kecil, dan tanah milik rakyat bisa dirampas kapan saja oleh orang-orang berkuasa. Pengangguran makin banyak, kemiskinan makin parah.

 

Moral pun makin rusak. Pinjaman online dan judi makin bebas. Kejahatan juga makin menjadi-jadi. Mulai dari perzinaan, pemerkosaan, penyuka sesama jenis, narkoba, pembunuhan, hingga berbagai tindakan kriminal lainnya. Hukum pun seperti tidak adil. Yang kaya dan berkuasa bisa bebas dari hukuman, sementara rakyat kecil mudah dihukum.

 

Semua masalah ini terjadi karena manusia semakin jauh dari aturan Allah. Demikian sebagaimana Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ nyatakan:

 

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ 

”Telah nyata kerusakan, di daratan dan di lautan, karena ulah manusia. Dengan (kerusakan) itu Allah berkehendak agar manusia dapat merasakan sebagian akibat dari ulah mereka itu. Mudah-mudahan (dengan itu) mereka kembali (taat kepada Allah).” (QS. ar-Ruum [30]: 41).

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Di tengah takbir Idul Fitri, penderitaan saudara seiman di Myanmar, Xinjiang, Yaman, India, dan Palestina terus mengiris hati. Darah umat Islam tertumpah, sementara kaum Zionis Yahudi makin beringas di bulan Ramadhan.

 

Ironisnya, sebagian penguasa Muslim, terutama para penguasa Arab, bukannya memerangi entitas Yahudi. Mereka justru memilih berdamai dan melakukan normalisasi. Para penguasa tersebut begitu tega mengkhianati saudara-saudara seiman mereka. Alhasil, kitapun hanya bisa mendo’akan untuk keamanan dan keselamatan mereka.

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Apakah kita akan diam saja melihat keadaan ini sampai merusak semua aspek kehidupan, bahkan keluarga kita? Tentu tidak! Kita harus segera berubah, keluar dari kegelapan menuju cahaya Islam. Caranya dengan bertaubat dan mengikuti aturan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

 

Kita harus sholat, kita harus puasa, kita harus jujur, harus melaksanakan kebaikan, menjauhi kemungkaran. Kita harus menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Ingat! Ini harus dilakukan bukan hanya di bulan Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan yang lainnya.

 

Sesungguhnya agama ini diturunkan untuk membawa umat manusia dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Al-Qur’an pun diturunkan untuk menyelamatkan umat manusia menuju cahaya Ilahi. Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ telah berjanji:

 

الر ۚ كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ

 

”Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Ibrâhim [14]: 1)

 

Bukankah kita telah melihat bagaimana Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam  dengan Al-Qur’an mengubah bangsa Arab dari kehidupan jahiliyah yang gelap menuju peradaban yang mulia dan penuh berkah. Dari bangsa yang buta huruf, penyembah berhala, serta dipenuhi takhayul dan kebiasaan buruk, menjadi umat yang beriman, cerdas, dan tak terkalahkan. Cahaya Islam pun menyebar, membawa kebaikan dan keadilan bagi manusia di berbagai penjuru dunia. Termasuk bagi kita di Indonesia. Ingatlah! bahwa Allah SWT telah berfirman:

 

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوْا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوْا۟ فَأَخَذْنَٰهُمْ بِمَا كَانُوْا۟ يَكْسِبُوْنَ

 

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan buka atas mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96)

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِالْقَرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. 


KHUTBAH KEDUA

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ كَرَّمَ هَذهِ الأُمَّةَ بِشَرِيْعَتِهِ الْكَامِلَةِ، وَخَصَّ بِهَا بِنُبُوَّةِ نَبِيِّهِ الْكَرِيْمَةِ، وَاَعَزَّهَا بِالْخِلَافَةِ الرَّاشِدَةِ. عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ. اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّا بَعْدَهُ. اَرْسَلَهُ بِرِسَالَتِهِ الْقُدْسِيَّةِ، وَاَحْكَامِهِ الشَّرِيْفَةِ، لِمُعَالَجَةِ كُلِّ مُشْكِلَةِ الْحَيَاةِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَاتِهِ وَأَصْحَابِهِ، صَلاَةً تَجْلِبُ الْخَيْرَ وَالفَلاَحَ وَرِضْوَانَهُ، فِي  الدِّيْنِ والدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.

 

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ الْكِرَامُ، اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ الأُمَّةَ لاَ تَنْهَضُ إلَّا بنُوْرِ الْإِسْلاَمِ، وَلاَ تَخْرُجُ مِنْ أزْمَاتِهَا إِلَّا بِتَطْبِيْقِ الشَّرِيْعَةِ وَأَحْكَامِ الْقُرْآنِ، فَقَدْ قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿اَللَّهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْرِ﴾ [البقرة: 257]

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بَشِّرْ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالدِّيْنِ وَالتَّمْكِيْنِ فِي الْأَرْضِ» [رواه أحمد]

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Di tengah zaman yang penuh kekacauan, termasuk yang dialami negeri ini, hanya ada satu cahaya yang bisa menerangi, yaitu cahaya Islam. Cahaya yang bersumber dari Al-Qur’an. Satu-satunya jalan keluar dari keadaan ini adalah kembali pada Islam secara menyeluruh, dengan menjalankan ajarannya dalam setiap aspek kehidupan. Sebagaimana yang telah Allah perintahkan:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوْا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ

”Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara totalJanganlah kalian menikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu adalah musuh kalian yang sangat nyata.” (QS. al-Baqarah [2]: 208).

 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Karena itu, Hari raya Idul Fitri hari ini bukan sekadar hari perayaan. Ini adalah ajakan. Ajakan untuk meninggalkan segala bentuk kemaksiatan dan ketidakadilan. Ajakan untuk keluar dari sistem yang penuh masalah dan kembali menjalankan ajaran Islam dalam semua aspek kehidupan. Hanya dengan mengikuti Al-Qur’an, kita bisa membangun kehidupan yang lebih baik, penuh berkah, dan kemuliaan. 

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُوَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

 

Ma’aasyiral Muslimiin rahimakumulLaah,

Terakhir, marilah kita berdoa, dengan penuh kerendahan hati dan kesungguhan jiwa. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menjadikan kita termasuk bagian dari para pejuang Islam, yang turut berkonstribusi mengembalikan ‘izzul Islaam wal Muslimiin. Semoga Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ menerima semua amal kita, mengampuni seluruh dosa kita, sekaligus memberi kita kekuatan untuk terus berjuang di jalan-Nya. Semoga pada hari yang penuh berkah ini, Allah Subhânahu Wa Ta’âlâ mengabulkan semua doa dan harapan kita.

 

اللَّهُمّ صّلِ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَذُرِّيَاتِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

 

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا، وَلِوَالِدِيْنَا، وَلِأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا، وَلِعُلَمَائِنَا، وَلِدُعَاتِنَا، وَلِلْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِعِزَّةِ اْلإِسْلاَمِ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَلِلشُّهَدَاءِ وَالْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا، وَاجْعَلْهُ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الكَرِيْمِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ العَتِيْقِيْنَ مِنَ النَّارِ، وَمِنَ الفَائِزِيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

 

اللَّهُمَّ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.  تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَصِيَامَكُمْ، وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ.

 

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 Comments:

Posting Komentar