LPG Langka, Harganya Mulai Naik. Ojo Kaget!

 


Menurut CNBC berdasarkan data yang ada. Pada tahun 2020 sudah disebutkan bahwa kemungkinan konsumsi Liquefied Petroleum Gas (LPG) akan terus naik. 

Setiap tahun diperkirakan naik hingga mencapai 11,98 juta ton pada 2024, namun produksi masih stagnan di 1,97 juta ton per tahun.


Artinya apa? sebanyak 10,01 juta ton kebutuhan LPG nasional akan dipasok melalui impor. 

Nah loh, itu kata data 2020 loh. Jika di 2023 saat ini mulai langka ya jangan kaget! Kemungkinan ini sudah diprediksi beberapa tahun lalu.


Terkait impor, dalam sistem sekarang ini memang menjadi sebuah dilema. Disatu sisi jika terus-terusan impor akan mengganggu ketahanan dalam negeri. Tapi disisi lain, impor juga bisa menghadirkan keuntungan dan menambah devisa negara loh. Mulai dari bea cukai, pengangkutan produk impor jika menggunakan perusahaan plat merah dst. Juga akan bisa mendapatkan keuntungan dari sana. Ada cuannya juga loh disana! Hm...


Btw, apakah tidak bisa produksi LPG domestik ditingkatkan? Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto mengatakan stagnannya produksi LPG nasional dikarenakan terbatasnya bahan baku dari dalam negeri.


Untuk memproduksi LPG, lanjutnya, dibutuhkan spesifikasi kandungan rantai karbon propana (C3) dan butana (C4). Sementara produksi gas di dalam negeri mayoritas mengandung metana (C1) dan etana (C2), sehingga produksi LPG sulit bertambah.


Di tahun 2020 itu dia juga mengakui bahwa produksi LPG yang stagnan ini mengakibatkan impor LPG telah mencapai lebih dari 70% terhadap kebutuhan dalam negeri. Selain impor yang jumbo, subsidi untuk LPG juga sangat besar yakni mencapai Rp 70 triliun pertahun.


Dan kalo kita lihat di tahun 2023 ini dengan berbagai fakta yang ada. Seperti subsidi LPG yang katanya memberatkan, sudah mulai munculnya gas pink ukuran 3 Kg di pasaran, kampanye konversi ke kompor gas ke kompor listrik. Sepertinya ini bukanlah sesuatu yang tidak diketahui sebelumnya.


Di dalam sistem ekonomi kapitalis saat ini yang mengharuskan negara sedikit demi sedikit mengurangi bahkan menghilangkan subsidi. Semua hal akan diserahkan pada pasar bebas dan pemerintah hanya bertindak sebagai regulator saja.


Hal ini semakin membuat saya khawatir akan seperti apa nasib kita ke depannya nanti? Masih adakah pejabat publik yang akan berpihak kepada rakyat? Hadir sebagai pelayan rakyat yang memudahkan hidupnya, melayani rakyat dengan sepenuh hati dan tidak menempatkan rakyat sebagai konsumen. Jadi, BUMN yang ada paradigmanya harus melayani rakyat bukan berbisnis dengan rakyat. Sehingga dalam hal ini paradigmanya terkait subsidi juga bukan tentang untung rugi, namun kehadiran sebuah negara dalam memudahkan kehidupan rakyatnya! [] @masazizrohman


Referensi: 

https://www.cnbcindonesia.com/news/20201111135353-4-201043/konsumsi-meroket-tapi-kenapa-produksi-lpg-ri-gak-naik-naik

0 Comments:

Posting Komentar