Kenduren Kleman

Sore ini ku ajak anak gantengku untuk ikut kenduren kleman di masjid desa. Bukan tanpa alasan sih aku mengajaknya. Karena biar bagaimanapun sebagai seorang ayah, aku juga perlu menghabiskan waktu bersama anakku yang paling ganteng. Tapi, ya begitulah. Karena rutinitas maka kebersamaan kita adalah saat ananda ikut beragenda bersama.


Selain agar memiliki waktu bersama anak laki-laki. Hal ini perlu saya lakukan agar kelak saat dewasa, ia sudah terbiasa hadir dalam forum-forum bersama masyarakat. Dan yang lebih penting lagi adalah ayahnya ada di samping dirinya.


Bukan tanpa alasan sih, pengalaman hidup mengingatkanku dulu. Saat ikut kenduren dan tanpa di dampingi ayah. Saat pembagian makanan, biasa yang namanya anak kecil pasti saling berebut satu sama lain. Maklumlah, hanya di acara kenduren begitulah saya bisa menikmati makan daging. Tapi, yang jadi soal adalah satu hari setelahnya. Saya dikatakan yang aneh-aneh karena sikap yang kurang pas saat berebut makanan. Padahal, setelah di kroscek lebih detil. Ternyata yang di maksud bukan saya, tapi orang lain. 


Nah, dengan pengalaman buruk itu. Aku gak pengen nanti si ganteng dikatakan yang aneh-aneh dalam perkara beginian. Maka, penting sekali saya ada di sampingnya. Memberikan teladan dan nasehat, maklum lah jaman sekarang gitu loh. Seorang anak itu nggak cukup hanya diberikan nasehat secara lisan. Perlu juga diberikan teladan dalam satu tindakan yang nyata. Jangan sampai menyesal dikemudian hari. Sebab anak adalah amanah, maka penting sekali mendidik dirinya secara baik, tepat dan tentunya benar. Agar apa? Agar dia menjadi anak yang sholih, berguna bagi agama dan sesama.


Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Kita hadir bersama, berdoa bersama dengan para petani desa lainnya di masjid. Memohon kepada Allah SWT agar butir-butir padi yang mulai tampak keluar dan terlihat saat ini. Nantinya bisa berisi dan menghasilkan padi yang melimpah. Agar hasilnya penuh dengan berkah. Aamiin


Tak ada yang istimewa dalam kenduren ini. Setiap para petani di jawa pasti tahulah tradisi ini. Dan begitulah yang namanya tradisi, yang terpenting tidak bertentangan dengan hukum syara'. Boleh dilakukan...


Selain dengan berdo'a bersama. Seperti biasanya, setiap kenduren kleman. Para petani di desa kami juga bersedekah dengan memberikan makanan kepada para tetangga. Mereka yang tidak memiliki lahan pertanian atau bukan petani penggarap sawah dan juga mereka yang tidak berprofesi sebagai petani. 


Banyak hal memang pelajaran hidup yang bisa kita petik dari para petani. Dan jujur, sebenarnya di tangan merekalah sejatinya kebutuhan perut seluruh rakyat Indonesia itu ditentukan. Semoga panen nanti bisa melimpah dan penuh keberkahan. Aamiin []

@masazizrohman

0 Comments:

Posting Komentar