Bicara Tentang Cinta

Cinta adalah sebuah perasaan dan perasaan itu bisa benar dan bisa salah. Tergantung, tergantung bagaimana kita menyikapinya.


Jika kita menyikapi rasa cinta itu dengan benar sesuai syariatNya, tentu kita akan berpahala. Namun, saat kita menyikapi dan mengekspresikan rasa cinta dengan cara yang salah. Justru dosa yang akan kita dapatkan. Dan sejatinya hal itu bukanlah cinta, melainkan nafsu semata.


Sejatinya manusia itu memiliki beberapa naluri. Pertama, naluri bertuhan. Kedua, naluri mempertahankan diri. Ketiga, naluri menyukai lawan jenis. 


Jika kita bicara tentang cinta, maka akan erat kaitannya dengan naluri tentang rasa suka. Dan yang sesuai dengan fitrah manusia, yang namanya rasa suka atau rasa cinta. Itu adalah menyukai lawan jenis, bukan sesama jenis! Jangan menghinakan diri kita sebagai manusia. Ayam jantan saja, nggak ada yang kawin dengan sesama jenis. Yang jantan kawin dengan betina!


Rasa suka dan rasa cinta itu memang adalah sebuah hal yang pasti ada pada setiap manusia. Lantas, bagaimanakah kita mengekspresikan rasa itu? Itulah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Nggak ada yang salah dengan menyukai seseorang, namun saat rasa cinta itu diekspresikan dengan cara yang salah. Diekspresikan dengan cara yang tidak sesuai syariatNya, disitulah sejatinya kita sedang bermaksiat kepadaNya.


Sebagai seorang muslim kita harus paham bahwa setiap amal perbuatan kita, pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Makanya, harus mikir dulu sebelum berbuat! Dipikir dulu, ini aktifitas yang akan dilakukan boleh atau tidak? Berpahala atau berdosa, mengantarkan kita ke surga atau ke neraka? Nah, itulah yang harus kita pikirkan. Sebelum berbuat, kita harus berpikir terlebih dahulu. Dan mikirnya juga harus benar, sesuai dengan aturan dan syariat Allah SWT.


Dan sebaik-baik ekpresi dari rasa suka dan rasa cinta terhadap lawan jenis adalah dengan menikahinya, bukan yang lain. Bukan mengajaknya pacaran, apalagi mengajaknya berzina dengan dalih memadu kasih atas nama cinta. Dengan dalih pembuktian rasa suka, kasih sayang dan cinta. Eits, bukti cinta itu dengan menikahinya, bukan menggagahinya!

Apalagi memanfaatkan satu momen tertentu untuk berbuat maksiat dan dosa. Nauzubillah!


Rasulullah Saw bersabda: "Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng)".(HR Bukhari)


Menikah memang membutuhkan banyak persiapan. Siap mental, siap ilmu, siap secara finansial. Siap lahir dan batin!

Persiapkanlah semuanya, sebelum engkau menjalaninya. Bekali diri dengan ilmunya sebelum melakukannya. Agar semuanya bisa berjalan sesuai dengan syariatNya dan  tidak terjerumus dalam maksiat kubangan dosa. []

@masazizrohman

0 Comments:

Posting Komentar