Menikmati Hidup
Ada sebuah kisah lewat di depan mata dan beginilah ceritanya...
Jika anda miskin, jangan selalu mencari alasan. Karena akan ada seribu balasan yang akan merontokkan semua alasanmu
Jika anda kaya, cukup beri satu alasan jika kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Semua akan memakluminya
Dan begitulah kondisi bangsa kita...
Pernah suatu ketika dengar cerita teman. Katanya dia pengen punya penghasilan lebih, diberitahu teman lainnya bahwa jika ingin begitu. Dirinya harus melakukan kerja tambahan yang begini dan begitu. Dan, otomatis secara hitung-hitungan waktu. Akan menambah jam kerja, diluar jam kerja sebelumnya.
Namun, disaat yang sama. Terlihat jelas pikirannya dongkol. Seolah mengisyaratkan di dahinya ada sebuah tulisan, "mana bisa hal itu dikerjakan"
Berjubel ini itu dibebankan kpd badannya. Yang secara ini itu dan sebagainya. Menguras waktu, tenaga dan juga dana. Wkwkwkwkwkwk...
Akhirnya, skala prioritas harus dia dulukan yang ini daripada yang itu. Hingga akhirnya, ya begitu-begitu saja income dirinya. Padahal, needs rumah tangga makin tahun makin bertambah. Seiring satu,dua, tiga, empat anak-anaknya masuk ke jenjang sekolah. Ya kan emang gitu, hidup di ketiak kapitalis emang sulit. Nyari sekolah yang murah, bahkan gratis dan berkualitas itu susahnya minta ampun. Kalopun ada yg begitu, jumlahnya sedikit dan terbatas. Butuh sebuah nasib mujur agar anaknya bisa masuk di sana.
Kemudian, ditengah kegundahan hatinya. Dia bercerita, lalu datang orang yang bicara kepadanya, "Ya, semua amanah dan tanggung jawab itu harus diterima dengan sabar dan senang hati."
Dalam hatinya dia berkata, ya ya ya. Sudah 2-3-4, hampir 5 tahun. Dirinya menjalani banyak hal ini. Andai ini pekerjaan, pasti saya tolak (katanya). Krn apa yang dijalankan tidak sesuai dari apa yang dikeluarkan. Ibaratnya, operasional lebih besar daripada income yang di dapat.
Pernah saya menjalaninya dan sukses berhasil di tahap satu. Namun, ya begitulah. Low cost hight impact yang semua terasa percuma...
Tapi masalahnya, ini itu kepentingan bersama. Beda cerita, semua harus ikhlas menjalani. Begitulah kata teman saya yang lain. Giliran saya beritahu, yaudah hal ini kamu aja yang pegang. Pada nggak ada yang mau. Giliran ada yang mau, tapi malah gak jalan. Jadi, ya begitulah hidup ini... Lagi-lagi kembali lagi ke diri sendiri. Hm... (Menghela nafas panjang). Ketika saya mendengarnya, saya malah jadi teringat nyanyian Ian Kasela
...Ingin kugapai bintang
Yang hiasi sang malam
Adakah satu harapan
Yang mungkin ku dapatkan?
Angin, bawalah jiwaku melayang
Angin, dengarlah bisikan hatiku
Angin, bawalah jiwaku melayang
Angin, dengarlah bisikan hatiku...
Dan waktupun berlalu, hari berganti, minggu berputar, bulan berjalan dan tahun bertambah seiring bertambahnya usia.
Dan, kasus demi kasus selalu saja ada dan terjadi, itupun sama. Selalu saja bertanya dan selalu saja begitu dan begitu adanya
Kemudian, jika anda mengalami hal seperti ini. Para motivator akan datang kepadamu dan memberikan penjelasan. Ini begini dan begitu, begona dan begono
Dan, seperti itulah hidup ini. Kisah uraian diatas adalah coretan dari banyak cerita teman2 di beranda saya. Yang kemudian, banyak yang menemani. Kata orang jaman dulu, orang-orang yang ono. Curhatnya di dinding ratapan. Tapi, orang jaman sekarang, curhatnya di dinding Facebook. Tapi itu generasi mileniall dan atasnya. Kalo generasi setelahnya, mereka curcol di IG, tiktok via Video, bukan coretan....
Jadi, apa kesimpulannya? Nikmati dan jalani saja hidup ini. Sesusah apapun kamu hidup, lebih enak jika kamu curhat dan ditemani oleh teman hidup. Menjalani hidup bersama dengannya tentu lebih menyenangkan daripada hidup sendirian. Sudahlah sudah, jomblo! Semoga kamu segera menemukan belahan jiwa dan teman hidup bersama. Bersama menjalani kehidupan, sehidup sesurga. []
@masazizrohman
0 Comments:
Posting Komentar