Mencintai Sang Nabi

Oleh: Mas Aziz Rohman


Cinta adalah perasaan, sebuah keinginan untuk menghendaki sesuatu dan meraihnya. Rasa cinta itu juga bisa membentuk sebuah kecenderungan nafsiyah/pola sikap seseorang.


Cinta nabi, banyak sekali orang mengatakan dirinya mencintai Nabi Muhammad Saw. Tapi, anehnya kebanyakan dari mereka cuma mencintai di bibir saja. Mulutnya mengatakan cinta nabi, tapi perbuatannya tidak mencerminkan hal tersebut. Kok bisa? Apa yang salah disana?


Nah sobat, sebagaimana aku singgung diawal bahwa rasa cinta itu pasti akan membentuk sebuah kecenderungan terhadap sesuatu yang dicintainya. Yang mana kecenderungan tersebut bisa terjadi karena dua hal. Pertama, bisa terjadi secara alami karena fitrah manusia. Kedua, juga bisa terjadi sebab memiliki mafhum atau pemahaman tertentu.


Contoh untuk yang pertama. Kecenderungan alami misalnya adalah cinta seorang ibu kepada anaknya. Kita pasti sudah banyak mendengar kisah bagaimana pengorbanan seorang ibu demi anaknya. Terkadang, beliau rela sampai berbohong sudah makan tadi dan sudah kenyang. Agar bisa melihat anaknya mau makan, padahal beliau belum makan apapun tadi. Ini adalah sesuatu yang fitrah, alami. Bagaimana seorang ibu pasti memiliki rasa cinta pada anaknya. Itu terjadi secara alami, sudah fitrahnya yang namanya ibu pasti mencinta anaknya. Dia akan rela berkorban apapun itu demi kebahagiaan sang anak.


Kemudian untuk yang kedua, contohnya adalah bagaimana kaum Ansor mencintai orang-orang Muhajirin. Dikisahkan dalam sirah mereka rela bukan sekedar meminjamkan, memberikan separoh hartanya kepada mereka yang berhijrah dari Mekkah tersebut. Bahkan karna saking tingginya rasa cinta mereka semua kebutuhan kaum Muhajirin berusaha dipenuhi oleh kaum Ansor, lahir dan batin. Hingga ada diantara mereka yang mempersilahkan Muhajirin memilih salah seorang istrinya untuk dinikahi setelah dia menceraikan istrinya tersebut. Masyaallah, subhanallah... Mengapa ini bisa terjadi? Semua hal itu bisa terjadi karena landasan keimanan, karena cinta mereka pada sang nabi. Maka, apapun yang dikatakan sang nabi pasti akan dipenuhinya. Bahwa ketika mereka, kaum Ansor dipersaudarakan dengan kaum Muhajirin saat itu. Maka, merekapun berusaha memenuhi segala macam kebutuhan sudaranya tersebut, baik lahir maupun batin. 


Ngaku cinta nabi tapi alergi dengan syariah islam, aku khawatir cintanya itu palsu. Cintanya pada sang nabi tidak dilandasi dengan pemahaman-pemahaman yang benar. Mulutnya mengatakan cinta, tapi perbuatannya tak mencerminkan rasa cinta itu. Padahal, beliau pernah bersabda: "Tidak beriman seorang hamba hingga aku lebih dicintai daripada keluarganya, hartanya dan seluruh manusia yang lainnya." (Mutafaq 'alaih)


Para sahabat nabi sangatlah bersungguh-sungguh untuk menerapkan kewajiban tersebut. Sebagai bukti dari cintanya pada sang nabi. Mereka mencintai nabi lebih dari kecintaannya pada keluarga, harta dan manusia. Kalian pasti pernah mendengar kisah bagaimana kisah hijrahnya sahabat Musab bin Umair. Seorang pemuda tampan dan kaya raya jaman itu. Tapi karena kecintaannya pada sang nabi, ketika nabi meminta para sahabatnya untuk berhijrah. Maka, beliaupun berhijrah. Ditinggalkan olehnya segala kemewahan dan kecintaan duniawi yang dimilikinya saat itu. Bahkan tangisan ibunya yang sangat dicintainya tak menggoyahkan imannya sedikitpun untuk memenuhi seruan Allah dan RasulNya tersebut. Ibunya memintanya untuk keluar dari Islam dan tidak mengikuti ajaran Rasulullah. Tapi, karena cintanya pada sang nabi lebih dari apapun. Beliau rela meninggalkan semuanya.


Nah, sobat marilah kita bersungguh-sungguh dan berlomba-lomba untuk mendapatkan kemuliaan untuk bisa termasuk menjadi golongan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan RasulNya. Mari kita buktikan kecintaan kita pada Sang Nabi dengan menegakkan syariah yang telah beliau bawa hingga Islam bisa benar-benar menjadi rahmat bagi sekalian alam. Mewujudkan keadilan dan melenyapkan kezaliman.  []

0 Comments:

Posting Komentar