Tik Tok dan Kurangnya Kasih Sayang Pada Remaja
Oleh: Aziz Rohman*
SOEARA-PELADJAR.COM - Tik tok, siapa sih remaja yang nggak kenal tik tok. Sebuah aplikasi android yang kini begitu digemari oleh para remaja masa kini. Jika kita mau berpikir sedikit saja, tentu akan kita dapati bahwa kenapa? Kenapa begitu banyak remaja millenial tergila-gila dengan tik tok. Kenapa mereka berlomba-lomba untuk mencari sesuatu ketenaran dengannya. Kenapa mereka rela luangkan waktu, keluar pulsa hingga uang ratusan ribu demi tik tok.
Bahkan, jika kita lihat beberapa hari terakhir laman sosmed dihiasi dengan pemberitaan remaja bernama Bowo. Bukan karena prestasinya di sekolah, bukan! Tapi, karena tik tok. Katanya sih dia artis tik tok. Bener nggak sih?
Dan dalam kabar di sosmed itu dikatakan bahwa dia mengadakan jumpa fans. Disinilah sensasi itu tambah runyam. Karena tak sedikit remaja yang hadir itu dikatakan rela berbohong pada ayah bundanya. Minta uang hingga ratusan ribu sambil nangis-nangis, bilang untuk ini, untuk itu. Eh, nggak tahunya untuk ketemuan dan foto-foto sama si Bowo. Ingat dik, itu nggak boleh. Dosa!
Dan, yang menjadi tanda tanya besar bagi kita semua tentang Bowo dan tik tokers tersebut adalah kok bisa ya? Ada apa dengan teman-teman remaja kita? Kenapa bisa begitu? Kenapa, hayo kenapa coba...
Sebelum kita ulas tuntas kenapa itu bisa terjadi. Penting untuk dipahami terlebih dahulu bahwa setiap manusia itu memiliki tiga buah naluri dalam dirinya. Gharizah attadayyun (naluri bertuhan), gharizatun nau' (naluri suka lawan jenis) dan gharizatul baqa' (naluri mempertahankan diri, pengen eksis, pengen diakui).
Nah, now. Yang kita bicarakan adalah gharizatul baqa'. Naluri mempertahankan diri, naluri pengen eksis, naluri pengen dilihat dan di akui keberadaannya. Sayangnya, terkadang dalam pemenuhannya tidak dilakukan dengan cara yang tepat. Butuh perhatian, biar terlihat eksis dan diakui keberadaannya. Akhirnya, sebagian besar dari teman-teman kitapun bermain tik tok.
Jika kita search di mesin pencari atau google. Kalian pasti bisa menyimpulkan sendiri ya. Itu aktivitas nge-tik tok dan lain sejenisnya. Pasti hanya akan dilakukan oleh mereka yang begitulah... Bagi kalian yang mau mikir, pasti pahamlah. Bagi yang nggak mau mikir, yuk mari berpikir ulang. Berpikirlah dengan akal sehatmu, dengan akidah Islam. Bahwa setiap perbuatan akan diminta pertanggungjawaban, itu pasti!
Sobat, fenomena tik tok ini nggak bisa di salahin gitu aja ke para remaja. Karena, sadar atau tidak. Kehidupan serba susah dan semuanya serba bernilai materi. Memaksa para orang tua bekerja ekstra keras untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Ayah ibu sibuk bekerja, anak ditinggal di rumah. Kurang kasih sayang, kurang perhatian. Anak di kasih mainan HP. Tanpa ada edukasi, tanpa pengawasan. Akhirnya, mereka memanfaatkan HP untuk hal yang tak berguna. Tidak semua anak memang seperti itu, tapi kebanyakan? Ya, begitu.
Pengen terkenal, biar bisa jadi seleb, jadi artis, banyak duit. Hm.... Tidaklah kalian pikir bahwa uang itu nggak ada artinya saat kita telah mati nanti. Yang bisa nyelamatin setiap orang yang telah mati. Itu cuma tiga: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do'a anak sholeh pada orang tuanya.
Sobat, tidakkah kalian bisa mengambil pelajaran dari kisah hidup sahabat Mus'ab bin umair. Kalo kalian mau baca kisahnya, pasti kalian bakalan geleng-geleng kepala. Bagaimana tidak, segala bentuk kemewahan dunia dimilikinya. Tapi, semua ditinggalkan. Demi apa coba? Demi Islam dan dakwahnya.
Sudah ganteng, kaya, terkenal bin tersohor. Setiap jengkal kakinya melangkah, semerbak wangi pasti menyebar kemana-mana. Seluruh mata wanita di jaman old itu tak akan bisa berkedip tatkala melihatnya. Tapi, semua itu bisa beliau tinggalkan demi Islam. Bahkan, keislaman penduduk ansor Madinah. Juga berkat atas jasa dakwah beliau disana. Subhanallah.. Semoga kita bisa meneladaninya.
Tapi itu kan dulu... Eits, jangan ngomong gitu! Banyak juga kok teladan orang sholih di jaman now. Yang rela meninggalkan ketenaran dunia, demi berdakwah di jalan Allah. Salah satunya, Alm. Ust. Hari Moekti. Silahkan, kalian tanya ayah bunda, kakek nenek kalian. Kalo males nanya ke mereka, tanya aja mbah google. Bagaimana, mewahnya dan tenarnya beliau saat masih muda. Tapi, semua itu rela beliau tinggalkan. Sebab, beliau paham bahwa semua itu tidak berguna. Saking menyesalnya beliau, sebelum wafat. Beliau sempat meminta maaf dengan berlinang air mata pada semua orang yang dulu pernah menjadi fansnya. Karena saat beliau menjadi artis, banyak mengajak manusia pada jalan yang salah. Subhanallah, begitulah teladan para orang sholih yang patut untuk di tiru dan di contoh.
Sobat, udah banyak kok kisah dan cerita orang-orang tenar berhijrah meninggalkan ketenaran duniawi yang hanya sesaat. Lantas, mengapa kalian malah bersusah payah ingin menggapainya. Daripada kalian habiskan waktu, uang dan masa muda untuk hal-hal yang nggak penting. Semacam tik tok dan sejenisnya. Mendingan, kalian habiskan waktumu untuk kegiatan positif lainnya yang bernilai pahala. Seperti; mengaji, memperdalam ilmu agama dsb. Manfaatkan waktu mudamu, sebelum masa tua datang menghampirimu.
Duhai ayah bunda, mereka adalah amanah dariNya, ladang amal panjenengan semua. Janganlah kalian menyia-nyiakannya. Berikanlah mereka perhatian, kasih sayang. Arahkan, bimbing dan didiklah mereka dengan baik dan benar. Agar menjadi anak yang sholih dan sholihah, penolong orang tuanya di akhirat kelak.
Dan untuk kalian para penguasa. Lihatlah kelakuan konyol dan nggak penting dari generasi muda kita. Tidaklah kalian merasa sedih karenanya. Apa kalian ingin, negeri ini di pimpin orang-orang seperti mereka di masa mendatang? Janganlah itu kalian biarkan, bisa rusak generasi kita. Silahkan intropeksi diri...
Tapi, jika kalian tak mampu membuat kebijakan yang melindungi generasi muda. Berikanlah kekuasaanmu itu, pada orang-orang sholih. Yang senantiasa mendedikasikan seluruh hidungnya hanya untuk Allah semata. Agar mereka mampu membimbing dan mengarahkan para orang tua, agar mendidik putra-putrinya menjadi anak sholih dan sholihah. Agar mereka mampu membuat aturan dan kebijakan yang benar dan diridhai Allah SWT. Yakni dengan menerapkan Islam secara totalitas dalam seluruh aspek kehidupan. Agar semua rakyatnya tidak terlena dengan kesemuan kenikmatan dunia yang sesaat.
"Demi masa. Sungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholih serta yang saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran." (sp)
*Pembina Soeara Peladjar Bangkit

0 Comments:
Posting Komentar