Kembalikan Hutan Kami
Oleh: Aziz Rohman
SOEARA-PELADJAR.COM - Pagi itu, seperti biasa aku sedang menyelesaikan beberapa tugas laporan. Candaan burung-burung itu terdengar begitu riang. Dari dalam kantor suara merika begitu memukau. Berkicau mereka. Cuit, cuit, cuit.... Cici cuit, cuit cuit.. Subhanallah, betapa merdunya suara mereka. Maha suci Allah atas segala ciptaanNya yang begitu sempurna.
"Huft... Awal puasa kerjaan banyak banget", gumamku dalam hati. Tapi, ya mau bagaimana lagi namanya juga pekerjaan. Tentu harus di laksanakan dengan baik. Tanpa menggerutu dan tak perlu banyak komentar. Bismillah, ku selesaikan saja pekerjaan ini.
Oh ya sobat, perkenalkan namaku Toni. Aku bekerja di sebuah perusahaan jasa ekspedisi di Jakarta. Perusahaan tempatku bekerja memang belum begitu besar karena baru beberapa tahun ini berdiri. Meski begitu, pekerjaan di kantorku banyak sekali. Hingga terkadang sekali waktu, akupun sampai harus lembur hingga larut malam untuk menyelesaikan tugas-tugas kantor.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.20 WIB, saatnya aku menyalakan komputer. Setelah beberapa kali mengecek tumpukan lembaran catatan kantor satu persatu. Ditemani merdunya suara burung berkicau, akupun semakin bersemangat menyelesaikan pekerjaan kantor hari ini.
Aneh.. mungkin itu adalah kata yang bakal kalian ucapkan saat aku mengatakan banyak burung berkicau dari dalam kantor. "Di Jakarta terdengar suara burung dari dalam kantor. Keren banget!" Seperti itulah kata yang terucap dari klienku saat itu. Namanya Mas Edy, saat itu dia berkunjung ke kantor kemarin untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Ya, bukan rahasia umum lagi yang namanya ibu kota, kota metropolitan. Terdengar suara burung. Subhanallah, begitu indahnya.
"Wah, Mas Toni kantormu hebat bener. Di ibu tengah kota Jakarta tapi banyak terdengar suara kicauan burung. Ini sih, udah kayak di kampung saja." Kata Mas Edy kala itu.
"Alhamdulillah, biasa aja mas. Setiap hari loh seperti ini", Jawabku sekenanya.
"Beneran mas?" Tanyanya lagi sambil pasang muka kepo, penuh penasaran dan tanda tanya.
Ku jawab saja, "Ya beneran dong, masak cowok seganteng saya tukang bohong. Bohong itukan dosa, di larang agama lagi!."
"Eh, kamu tahu nggak kenapa banyak suara burung terdengar dari sini?" Lanjutku
"Ya, kenapa mas? Kok bisa ya, di tengah ibu kota seperti ini. Masih terdengar suara burung dari dalam kantor. Padahal kan, tak banyak terlihat tuh pohon tinggi berdiri". Tanya Mas Edy
"Kalo bapak mau tahu. Sini, ikut saya". Ajakku pada beliau.
Sejurus kemudian akupun mengajak beliau ke pintu keluar samping, lantai tiga kantor kami. Tanpa ragu ku bukakan pintu tersebut. Wow... Betapa terkejutnya beliau saat melihat apa yang ada di balik pintu itu.
"Ya. Hahahaha...." Sambil pegang perut, beliau pun tertawa lepas. Mungkin, beliau sedang menahan rasa geli dan lucu setelah tahu apa yang ada di balik pintu.
Di awal memang beliau sangat penasaran. Mana bisa terdengar ada suara burung di tengah ibu kota seperti ini. Apalagi dari dalam kantor. Samping kanan kiri saja tak ada satupun pohon yang menjulang tinggi. Tapi, kok bisa ada ya suara burung terdengar yang terdengar. Mungkin seperti itulah gambaran beliau awal beliau.
Namun, setelah membuka pintu beliau baru ngeh. Ternyata, ada rumah burung di teras samping kantor.
"Kirain masih banyak burung terbang. Eh, nggak tahunya burung piaraan dalam sangkar. Hehehe...." Kata klienku yang satu ini, sambil tertawa.
Hm... Ya begitulah sobat, kebiasaan bosku dari dulu. Rasa-rasanya kalo nggak mendengar suara burung itu gimanaa gitu. Makanya, dia pun membeli beberapa ekor burung di pasar burung dan dipelihara di samping kantor. Yang akhirnya, beranak pinak, dan jumlahnyapun jadi semakin banyak. Dan karena kaca hitam super tebal itu, maka dari dalam ruangan burung-burung itu tidak terlihat.sama sekali.
Mendengar suara burung itu, rasa-rasanya seperti membawaku kembali ke masa kecil dulu. Sewaktu hutan masih ada, pohon-pohon menjulang tinggi masih banyak. Kicauan burung adalah hal terindah yang lebih enak di dengar. Ya, di bandingkan suara lagu jaman now. Dimana hampir kebanyakan lirik-liriknya itu nggak jelas, nakal, fulgar, bahkan cenderung porno.
Duh, karena pengelolaan alam yang benar-benar tanpa pikir panjang dan tanpa perencanaan yang jelas. Hutan-hutan kini menjadi gundul, banjirpun sering datang saat musim penghujan. Pas musim kemarau, kekeringan. Duh, Gusti Pengeran Kulo sinten engkang salah niki...
Hutan termasuk kepemilikan umum (al-milkiyah al-‘ammah). Bukan individu ataupun negara.
Teringat jelas, sabda baginda SAW:
ﺍَﻟْﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﺷُﺮَﻛَﺎﺀُ ﻓِﻲ ﺛَﻼَﺙٍ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻜَﻺَِ ﻭَﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﻭَﺍﻟﻨَّﺎﺭِ
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal, yaitu padang rumput, air dan api.“
Ya, itulah sedikit penjelasan dari buletin Al Islam yang biasa ku baca dulu setelah jumatan. Di jelaskan di dalamnya bahwa hutan itu termasuk dalam harta kepemilikan umum, bukan milik individu atau negara.
Dan, saat aku sedang sibuk dengan komputer kantorku. Suara-suara burung bernyanyi menemaniku. Cicit cuit, cicit, cuit. Seolah mengatakan, tolong-tolong hutan Indonesia banyak ditebangi secara liar. Selamatkan hutan kami, kembalikan hutan kami... Biarkanlah kami hidup di alam terbuka.
Allahu ya rabb. Semoga ramadhan kali ini menyadarkan para pemimpin negeri ini. Untuk mengelola kekayaan alamnya dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan syariat Islam.
"Toni.... Ton, Toni....!!!"
"Woiy Ton, siniii!" Bunyi suara itu makin keras, bak petir di pagi hari. Sampai kaget aku mendengar. Gara-gara burung kenari, aku jadi nggak fokus deh. Mau minum air mineral puasa duh kesana aja ah. Pak bos udah teriak manggil.
"Iya pak, sebentar....!"
Sejurus kemudian akupun mendatangi darimana suara itu berasal. Oh, ternyata kirain siapa. Nggak taunya s juragan Rizal, Pemilik ekspedisi tempatku bekerja.
Sesampainya aku di sumber suara itu. Eh, ndilala si bos malah nyuruh aku membawakan beberapa burung ke rumah burung miliknya. Waduh, juragan Rizal benar-benar pecinta burung sejati. Dan hobbynya itu tak pernah berubah, sejak kecil suka burung. Meski sudah hidup di kota. Burung, terus yang di urusin... Ya namanya juga hobby. Hehe
Duh, hobby bos Rizal memelihara burung sejak masih di kampung dulu. Jadi mengingatkanku lagi bahwa aturan Islam itu juga tak pernah berubah. Meskipum jaman, presiden dan para pimpinan sudah berganti-ganti. Aturan Islam masih berlaku sampai hari kiamat.
Termasuk dalam aturan mengurus dan mengelola hutan. Hutan termasuk harta kepemilikan umum yang wajib di kelola negara sesuai syariah. Bukan, dibiarkan ditebangi liar hingga burung-burung merasa bersedih. Karena telah dipersekusi dan di usir dari tempat rumah tinggalnya. (sp)

0 Comments:
Posting Komentar