Stand Up Comedy, Penting Nggak Sih?
Oleh: Aziz Rohman
Nggak tahu kenapa beberapa tahun terakhir, even semacam stand up comedy selalu ramai dengan anak-anak muda. Coba bandingkan sama even semacam pengajian, yang datang malah kebanyakan bapak-bapak dan ibu-ibu.
Stand up comedy kembali dapat sorotan. Yah, hiburan ini memang ramai akhir-akhir ini. Namun, ramainya bukan karena lucunya. Tapi joke atau lawakan yang digunakan oleh para komikanya yang mulai merambah agama. Menjadikan agama sebagai bahan lelucon. Duh, emang nggak ada yang lain napa? Katanya sich lucunya disini.. Lho, kok malah .....
Terakhir, ada dua nama yang mencuat GE Pamungkas dan Joshua Suherman. Setelah dua komika ini manggung, langsung aja dapat respon negatif dari warganet. Banyak meme berseliweran di sosmed. Yang intinya semua sama mengatakan, lawakan mereka nggak lucu! Bahkan ada juga warganet yang mencoba membandingkan dengan para pelawak tempo dulu. Di tuliskan oleh mereka bahwa pelawak tempo dulu lucu, tapi nggak pernah jadikan agama sebagai bahan lelucon.
Sobat, dalam Islam bercanda sih boleh, asal tak ada dusta di dalamnya. Bahkan sering juga loh kita jumpai pengajian-pengajian yang dibawakan para ustadz-ustadzah, para Kyai-Bu Nyai selalu terselip candaan sedikit. Agar suasana jadi cair, tidak membosankan.
Tertawa, boleh. Bukan dilarang namun, jangan sampai mematikan hati. Sebab tertawa itu membahagiakan, bukan menyedihkan apalagi menyakiti.
Dunia lawak Indonesia akhir-akhir ini memang agak gimana gitu. Kebanyakan merasa lucu itu saat menghina, merasa lucu saat berkata kasar. Alasannya, hanya bercanda! Untuk menghibur! Alasan itulah yang membuat caci maki, hina menghina, ngomong kasar, tindakan kasar, jadi sesuatu yang harus dimaklumi, bahkan harus ditertawakan. Duh, sedihnya hati melihatnya.....
Dan jika di suruh milih. Mending kita tak usah lihat apalagi nonton lawakan seperti itu. Sudahlah seperti itu, tak peduli agama lagi. Mending kalian dateng ke pengajian-pengajian. Insyaallah lebih banyak ilmu manfaatnya. Dengerin ceramah pengajian seperti ustadz Abdul Somad boleh juga. Terkadang ada lucunya, namun banyak ilmu dan manfaatnya.
Sobat, tertawa boleh tapi jangan sampai gunakan agama jadi bahan tertawaan. Dosa! Jangan mengeksplor kekurangan, kejelekan orang buat bahan candaan. Dosa! Makanya, kalian musti jaga lisan, jaga mulut, juga jaga pandangan. Karena semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Jangan ngomong, jangan lihat, jangan mendengar sesuatu yang tak berguna alias nggak penting. Sebab, itu akan sia-sia. Mending kita habiskan waktu kita, sisa umur kita untuk kegiatan-kegiatan positif yang lebih bermanfaat dan bernilai pahala. []

0 Comments:
Posting Komentar