Duh, Lagunya Itu loh. Berrrrr... Bikin Prihatin!
Oleh: Aziz Rohman
Food, Fun & Fashion (3F). Sudah terlampau sering kita mendengar bagaimana kengerian 3F ini dalam mengguncang pemikiran dan keimanan teman-teman remaja hingga adhik-adhik kita. Terlebih jika kita mulai bicara mengenai "Fun", kesenangan. Bicara tentang musik dan banyak keseruan yang ada di dalamnya. Tentu kita semuanya bakalan prihatin.
Sobat, disini saya nggak mau mengungkit hukum musik itu gimana. Banyak yang berdebat dengannya, namun saya meyakini bahwa Al Aslu musik itu mubah, boleh. Boleh bukan berarti wajib atopun harus. Tapi, ya.... Namanya juga boleh, selama tak ada sebab yang menjadikannya haram it's oke. Misalkan, lirik lagunya, aurat penyanyinya, juga ada ikhtilat nggak dalam pertunjukannya ataupun yang lainnya. Jika kesemuanya itu malah mengarahkanmu pada keharaman dan kemaksiatan, jelas berdosa. Namun, jika itu mampu mmendekatkanmu kepada Allah SWT, menambah dan mempertebal keimananmu, insyaallah berpahala.
Tapi gaes, di jaman now banyak sekali lirik-lirik lagu yang beredar bikin saya prihatin. Mungkin bagi om, tante, kakak-kakak kalian para generasi 80-90an, mereka semua bisa tersenyum bahagia. Gimana enggak.... Masa kecilnya begitu indah, banyak lagu anak-anak menemani indahnya masa kecil mereka. Tapi, beda kisah dengan sekarang. Saat mereka sudah berkeluarga dan memiliki anak. Saya yakin, pasti mereka sedih dan semuanya prihatin.
Apalagi bagi mereka yang hidup di Jawa. Saat OM-OM, Orkes Melayu-Orkes Melayu dengan alunan dangdut koplonya merajai alunan tangga musik negeri ini. Pagi, siang, sore hingga malem terpaksa lelah telinga ini mendengarnya. Yang di bunyikan tetangga samping rumah, yang selalu terdengar di pom bensin, di terminal, hingga saat berada di dalam bus-pun secara terpaksa telinga ini akrab mendengarkannya. Nggak tahu kenapa saat lelah datang, kucoba me-refresh pikiran ini dengan menyalakan radio ataupun televisi. Banyak diantara stasiun-stasiun radio juga televisi-pun ternyata... Mereka juga sama. Tak pernah lelah menyiarkan dan menayangkan irama koplo. Kenapa? Dan mengapa? Duh, Lirik lagunya itu loh. Berrrrr... Bikin Prihatin!
Sedih... Sedih rasanya hati ini. Apalagi saat anak-anak kecil, para balita yang pada mulai belajar bicara. Di usia emasnya dalam menghafal, terpaksa mereka menghafalkan lirik lagu-lagu orang dewasa. Bukan karena diajari, tapi karna nyanyian itu selalu saja terpaksa. Terpaksa terdengar oleh telinga kecil mereka. Yang membuat prihatin, terkadang banyak diantara lirik lagu yang terpaksa terdengar tadi menggunakan kata-kata (mohon maaf) terkadang kotor, hingga mengajak pada kemaksiatan. Sesuatu yang tak seharusnya boleh ada. Apalagi malah di perdengarkan. Astaghfirullah
Coba deh kalian tengok satu persatu lirik lagu hits koplo saat ini, contohnya; "jaran goyang". Jika kamu mau berpikir sedikit saja, niscaya kamu akan memahami sesuatu. Dan mengatakan (mohon maaf), harusnya lagu yang mengajak pada kemaksiatan, mengajak ke perdukunan, mengajari meracuni orang. Tak seharusnya boleh ada, tak seharusnya diperdengarkan. Apalagi di nyanyikan oleh anak-anak. Duh, sedih dan prihatin saya melihatnya. Apakah banyak lagu-lagu yang liriknya mengajak maksiat, ternyata banyak. Duh, tambah sedih.
Loh, itukan cuma lagu, cuma nyanyian doang. Husss, kembali ke awal tadi. Al aslu musik itu mubah. Jika ada sesuatu yang menjadikannya haram baik dari segi lirik ataupun yang lainnya. Maka musik tersebut hukumnya menjadi haram. Dan jelas sesuatu yang haram itu berdosa. Itu baru dari segi lirik lagunya saja, belum lagi penampilan para penyanyinya, bagaimana dan gimana acara itu diadakan, dsb. Duh, semua orang yang udah pada ngerti agama pasti bisa menyimpulkan bahwa dangdutan yang senantiasa ada. Baik yang di kampung-kampung itu, yang disana maupun yang disono. Dengan memperhatikan aspek ini dan itu, maka saya yakin semua bisa menyimpulkan bahwa yang semacam itu sejatinya hukumnya adalah ....
Tapi, sayang nggak banyak yang berani mengatakan tentang hal itu. Meski, sekaliber Ustadz atupun Kyai. Duh, betapa susahnya taat di jaman now. "Fun", kesenangan yang senantiasa ada selalu dan selalu ngajakin kita ngelakuin hal-hal yang sia-sia tak berguna. And ujung-ujungnya kita lupa dengan kewajiban sebagai seorang abdullah. Yang harusnya senantiasa beriman dan bertaqwa dimanapun dan kapanpun itu.
Di usia muda banyak yang terlena sama virus 3F tadi. Setelah dewasa dan telah di amanahi seorang anak, terlena lagi. Anak yang harusnya di didik menjadi generasi qur'ani yang sholih-sholihah. Malah terlena dengan "Fun", mengajari anak-anaknya sesuatu yang sia-sia. Bahkan harusnya merasa hina karenanya. Anak perempuaannya diajari menari-nari, melenggak-lenggokkan tubuhnya diatas panggung dengan memamerkan auratnya. Duh, betapa sedihnya kelak. Kepada siapakah kita harus meminta tolong agar semua ini nggak terjadi lagi???
Kepada para pemimpin sekarang? Ah, kayaknya nggak mungkin. Impossible, kebanyakan mereka kurang memahami hal ini. Kepada para Gus, Kyai, Bu Nyai? Stststst... Tunggu dulu, ternyata pernah ada juga loh salah seorang diantara mereka yang mencalonkan diri jadi calon kepala daerah. Dan saat pendeklarasiannya di undanglah dangdutan. Dan lagu-lagu yang harusnya tak terdengarpun malah tambah laris. Bahkan ada yang menjadikan penyanyinya sebagai juru kampanye. Seolah menjadi pembenaran jika hal yang seperti itu gapapa. Duhh, Sedih lagi. Tapi, tenang tak semuanya kayak gitu masih banyak yang tak seperti itu.
Oke sobat, percayalah jika kalian ada niat untuk berubah. Insyaallah ada jalan. 3F adalah sedikit dari strategi yang dilakuin musuh-musuh Islam agar anak-anak kaum muslimin menjauh dari agamanya.
Sobat sekalian, kalian musti mikir dulu sebelum bertindak. Lagu terkadang bukan sekedar lagu, musik kadang bukan sekedar musim. Pasti ada misi khusus dibalik semuanya. Entah karena duit ataupun yang lainnya. Yang jelas terkadang kita malah terbuai dan terlena karenanya. Hingga malas dalam beribadah. Disuruh sholat males, disuruh ngaji apalagi. Tapi, giliran ada dangdutan malesnya hilang. Hm...
Jadi, kite semuanya baik remaja, yang muda, bapak-bapak, ibu-ibu, om-om hingga tante-tante, kakek-kakek sampe nenek-nenek. Semua harus nyadar jangan sampai terlena sama 3F. Keluarga, masyarakat, para tokoh, publik figur, pemerintah, hingga negarapun harus saling bekerjasama dalam mewujudkan masyarakat yang Islami. Dengan menjadikan aqidah sebagai landasan dalam berpikir. Kembali menjadikan Islam sebagai aturan dan sistem kehidupan. Dengannya insyaallah lagu-lagu kotor, jorok serta tontonan dan tayangan tak mendidik akan hilang dan musnah selamanya. Sehingga, tentu kita akan lebih mudah menjaga diri dalam keimanan dan ketaqwaan. Beda cerita saat agama ditinggalkan, mau taat sulitnya minta ampun. Persis seperti jaman now. Waduh... []

0 Comments:
Posting Komentar