Sob, Menurut Loe. "BENAR" Itu Yang Gimana Sich...
Benar, salah. Salah benar. Benar jadi salah, salah jadi benar. Hm.... Gimana sob. Kalian pasti bingung kan nentuinnya, mana yang benar mana yang salah.
Yups, hidup di zaman now. Kalo nggak bener-bener punya prinsip. Kamoe-kamoe bakalan terseret kebawa arus, jadi pengikut. Jadi, kayak bebek. Kemana aja ngikutin apapun dan siapapun yang ada di depan. Maju, ikut maju. Belok, ikut belok. Mundur, juga ikut mundur. Capek deh... Padahal, di hari esok. Kamu bakalan di mintai pertanggung jawaban masing-masing. Maka, kamu nggak boleh salah dalam menentukan langkah. Nggak boleh salah dalam menentukan benar dan salah.
Benar dan Salah
Benar dan salah selalu relatif. Relatif jika yang nentuin manusia. Kata si A ini orang profokator, tukang pecah belah persatuan. Beda lagi kalo kata si B, justru si A lah yang tukang fitnah dan adu domba. Lagi-lagi persoalan benar dan salah jadi perdebatan. Apakah nih orang profokator atau tidak.
Kalo standar kebenaran di serahkan pada manusia. Pasti jawabannya kurang pas dan cenderung nggak bisa memuaskan bagi semua. Rancu, beda-beda satu sama yang lainnya.
Dalam masyarakat Barat, jalan-jalan pakai tengtop ato pake kolor doang nggak masalah. Tapi, bagi masyarakat Timur, beda. Pasti timbul keresahan di tengah-tengah mereka. Terus, jika mereka ngumpul buat kesepakatan buat dua belah pihak buat nentuin benar dan salah gimana? Sulit, sulit akan nemuin titik temu yang jelas. Standarnya bisa rancu, pasti timbul kegaduhan di tengah-tengah mereka.
Contohnya: saat ada pengeboman dan kebetulan pelakunya muslim, semua pasti teriak. Meski korbannya cuma satu dua orang. Tapi, udah puluhan tahun tentara zionis memborbardir rakyat Palestina. Dunia diam! Bahkan, membenarkan apa yang telah zionis lakukan. Buktinya, hal tersebut di lakukan sampai sekarang. Lantas, apakah itu berarti apa yang telah zionis lakukan itu benar? Salah!
Begitulah, jika standar kebenaran di berikan kepada manusia. Pasti rancu dan terkesan pilih kasih, karena memang kemampuan mereka terbatas. Dan sifatnya yang senantiasa berpihak salah satu.
Lantas, jika demikian kepada siapakah standar benar dan salah harus di berikan? Kepada Tuhan!
Allah, Sang Penentu Halal-Haram
Nggak ada yang paling tahu mana yang pasti benar, dan mana yang pasti salah dalam setiap kehidupan manusia. Kecuali, Sang Pencipta.
Yah, dialah Allah SWT, Sang Maha Pencipta. Pencipta manusia, yang pastinya tahu seluk beluk tentang ciptaanNya. Gimana sifat-sifat ciptaanNya, gimana kelakuanNya dan gimana kelebihan maupun kekhuranganNya. Oleh karena itu, jika kita kembalikan standar kebenaran kepada Sang Pencipta tentu ini adalah yang paling tepat. Dialah yang paling tahu kekurangan dan kelebihan ciptaanNya, bahkan tujuan mahluk di ciptakan itu untuk apa. Dia yang paling tahu. Maka, jika benar dan salah di tentukan oleh Sang Pembuat halal-haram. Tentu ini adalah hal yang paling tepat dan rasional, pasti bisa di terima semua orang. Namun, gimana kita bisa nentuin benar-salah wong kita nggak pernah tahu Sang Pencipta itu.
Utusan Sang Pencipta
Setiap ciptaan di ciptakan pasti ada tujuannya. Dan setiap ciptaan pasti dibekali petunjuk, biar nggak salah ato melenceng dari tujuan asal diciptakan. Ada petunjuk buat nentuin benar dan salah.
Maka dari itu di utuslah Nabi dan Rasul sebagai penyampai kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta. Memberikan petunjuk bagi manusia agar bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Agar hidup kamoe-kamoe tuh nggak tersesat. Tetap berada di lajur yang benar supaya selamat di dunia dan akherat
Zaman now, nabi dan rasul yang terakhir adalah Muhammad SAW. So maka, dalam menentukan kebenaran dan kesalahan tentu kita nggak boleh jauh-jauh dari risalah yang telah beliau bawa. Alqur'an, As Sunnah, Ijma' Sahabat, dan Qiyas adalah sumber dari hukum Islam. Maka, itulah yang harus kita jadikan patokan dalam menentukan "BENAR dan SALAH", nggak boleh di tentukan dengan hawa nafsu.
Cara Bersikap
Ini ada si A ngomong, ceramah ngawur, memecah belah, membuat gaduh, de el el. Huust..... Jangan langsung vonis dia bersalah. Tapi, cek dulu, Tabayyun! Perhatikan apa yang disampaikan olehnya. Kalo melenceng dari Alqur'an, As Sunnah, Ijma' dan Qiyas maka perlu di ingetin. Kalo sesuai dengan itu semua, berarti jangan-jangan yang nuduh yang salah. Ibarat maling eh teriak maling.
Yah, di akhir zaman memang sulit bedain mana yang benar dan mana yang salah. Kompor dan tukang fitnah ada di mana-mana. Mau bersikappun jadi bingung karenanya. Lha, kalo udah kayak gitu maka kita harus banyak-banyak ngaji, memahami Islam menyeluruh secara benar. Sehingga dalam bersikappun kita jadi nggak bingung, punya prinsip. Prinsipnya apa? Islam.
Jadi, mari sama-sama kita kembali ke Alqur'an dan As Sunnah. Biar bisa nentuin mana yang benar dan salah. Biar hidup kita selamet, selamat dunia dan akherat. (sp)

0 Comments:
Posting Komentar