Tanpa Jejak Digital

Tanpa Jejak Digital


Pada suatu masa, aku mendengar kisah tentang seorang perempuan shalihah yang namanya sering disebut dengan penuh hormat. Ia dikenal bukan karena sorotan, melainkan karena akhlak. Dari cerita-cerita itulah rasa penasaran tumbuh. Ya, naluri lelaki pada umumnya. Aku mencoba mencarinya, mengetik namanya di layar, menelusuri media sosial, bahkan Google. Namun nihil. Tak ada akun, tak ada unggahan, tak ada jejak. Ia seolah hadir di dunia nyata, tapi absen sepenuhnya dari dunia maya.


Di saat banyak orang hari ini mudah dikenali dari layar, ia justru tak meninggalkan apa pun di sana. Namanya hidup dari mulut ke mulut, dari cerita tentang sikap dan perangainya. Ia dikenal bukan oleh algoritma, melainkan oleh manusia.


Rasa penasaran itu membawaku pada langkah berikutnya. Aku meminta seorang teman (yang pertama kali mengenalkannya padaku) untuk menemaniku berkunjung ke rumahnya. Dua kali aku datang bersama temanku. Setelahnya, aku datang sendiri, sekadar memastikan: apakah keluarganya berkenan menerimaku. Pikiranku sederhana. Jika iya, aku datang bersama keluarga; jika tidak, cukup sampai di situ saja.


Singkat cerita, semua berjalan dengan tenang dan pasti. Kami menikah di bulan Ramadhan. Dan sejak itu, setiap Ramadhan datang, ingatanku selalu pulang ke masa itu: langkah yang pelan, hati yang mantap, dan keyakinan tanpa bising.


Menariknya, baru setelah menikah aku menemukan satu-satunya jejak tentang dirinya di dunia maya. Hanya satu! Yakni di sebuah laman web kampus yang mencatat namanya sebagai alumninya, salah satu perguruan tinggi negeri. Hanya itu. Selebihnya tetap sunyi. Tak ada media sosial, sangat bertolak belakang dengan diriku. Wkwkwk...


Namun pada akhirnya, aku memilihnya bukan karena jejak digital, melainkan karena ketidakhadirannya di sana. Karena “data” paling valid justru kudapat dari pengamatan langsung: caranya bersikap, bertutur, dan lingkungan yang membesarkannya sejak kecil. Bukan pencitraan, tapi sifat. Bukan rekam jejak maya, melainkan nilai-nilai nyata yang hidup dalam dirinya. Dari pencarian itu, aku belajar: dalam urusan jodoh, yang terpenting bukan seberapa mudah seseorang ditemukan di internet, melainkan seberapa dalam ketenangan yang ia tinggalkan di hati. [] arman

Semester 7

Daftar kuliah di usia 31 tahun, sebagai bapak

tiga anak, bukan hanya tentang pelajaran

dan ujian di kelas

.

Ini adalah proses menempa ketahanan diri:

membagi waktu antara mencari nafkah,

menjaga keutuhan keluarga, merawat

pertemanan, dan terus belajar memperbaiki

diri

.

Semua dijalani dengan keyakinan bahwa

belajar adalah bagian dari ibadah, diniatkan

untuk mencari ridho Allah, sambil menyadari

bahwa tiada daya dan pertolongan kecuali

dari-Nya

.

Bismillah, otw semester akhir. Mau ngerjakan

skripsi di semester 8. Semoga diberikan

kemudahan dan kelancaran. Lulus tepat

waktu. Aamiin ya rabbal alamin 🤲

Love, Life and Dreams

Love, Life and Dreams

Pernah aku ingin berlabuh di sisinya.
Namun semesta menahan langkahku dengan asa.
Di sana, mimpiku hanya akan sirna.

Maka aku belajar merelakan segalanya.
Aku menyusuri sunyi dengan iman dan doa.
Hingga kutemukan jiwa yang menjaga mimpiku tetap bernyawa.

Kini ada dirinya, istriku tercinta.
Ia adalah teman sujud dan peneduh jiwa.
Dari sana aku paham, cinta sejati adalah berjalan bersama menjaga impian, menuju surga.


Terus Menyala

TERUS MENYALA


Sepuluh tahun lebih berlalu, kenangan pun ikut tumbuh dan berlalu

Waktu terus berputar, menghadirkan semangat yang selalu baru

Mereka yang dulu seusia SMA, kini menapaki hidup dengan cerita mereka

Masing-masing berjalan di jalannya, merangkai takdir yang Tuhan sapa


Ada yang bekerja, menjemput rezeki dari subuh ke senja

Ada yang kuliah, hingga akhirnya diwisuda penuh bangga

Ada yang menikah, menautkan dua hati dalam satu doa

Ada pula yang kini menggendong buah cinta,

melanjutkan cerita yang dulu hanya angan di bangku sekolah


Biarpun waktu telah sekian lama berlalu

Dan tempat itu berganti wajah-wajah yang baru

Aku pun terus berjalan mengikuti takdir yang sama

Dipertemukan kembali dengan anak-anak seusia mereka


Seakan waktu terus berputar pada poros yang sama

Menemani mereka, peran ini tetap melekat di setiap langkahku sepanjang masa

Generasi berganti, wajah dan cerita berubah, namun semangat tetap sama

Menyala, menghidupkan, dan selalu menemukan jalan menuju cinta-Nya


Lor Brantas, 24/11/2025

Kutulis

 “Kutulis”


Kutulis siapa dirimu di 2008,

di antara sepi dan harap yang belum tahu arah.

Aku hanya bermimpi tentang wajah, tentang sifat, tentang hati,

tentang seseorang yang kelak menua bersamaku.


Lalu 2013 datang, dan takdir mempertemukan kita.

Sepertinya semesta membuka lembar janji yang dulu pernah kutulis samar.

Setahun kemudian, 2014, engkau resmi menjadi rumah bagi setiap rinduku.


Kini, 2025, kita masih berjalan berdua,

bersama anak-anak tercinta yang menjadi cahaya hari-hari kita.

Sebelas tahun dalam genggaman waktu,

dan engkau masih setia menerima segala kurangku dan bahkan mengizinkan aku melangkah lagi, mengejar ilmu, mimpi, dan cita yang sempat tertunda.


Di akhir tahun ini. Selamat bertambah usia, sayangku.

Terima kasih telah menjadi rumah,

semoga aku bisa terus menjagamu,

membahagiakanmu hingga akhir hayat. []

Kolaborasi Keluarga & Sekolah dalam Membangun Karakter Remaja

 Kolaborasi Keluarga & Sekolah dalam Membangun Karakter Remaja


1. Peran Orang Tua (Keluarga) – Pembentuk Pertama dan Utama

Anak pertama kali belajar nilai, norma, dan akhlak dari orang tuanya.

Rumah adalah madrasah pertama, tempat anak belajar tentang benar dan salah, kasih sayang, disiplin, dan tanggung jawab.

Perilaku orang tua menjadi teladan langsung bagi anak dalam membentuk karakter.


“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dari sudut pandang Islam sebagaimana dijelaskan oleh An-Nabhani, tsaqafah (ilmu yang bernilai dan tidak bebas nilai) adalah landasan utama dalam membentuk pandangan hidup. Orang tua memiliki peran vital dalam menanamkan tsaqafah Islam sejak dini, sebab ilmu-ilmu sosial seperti moral, akhlak, dan nilai kehidupan bukanlah hal netral, tetapi sangat dipengaruhi oleh nilai agama.


Orang tua wajib menanamkan tsaqafah Islam (nilai, akidah, dan akhlak) sejak dini agar anak tidak terseret pada cara pandang sekular atau nilai-nilai asing yang bertentangan dengan Islam. Ini sesuai dengan konsep bahwa tsaqafah tidak dapat diadopsi dari luar Islam, karena mengandung worldview yang bisa merusak kepribadian Islam (An-Nabhani: Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah).


2. Pendekatan Sekolah dalam Pembinaan Akhlak – Penguat dan Pembimbing

Sekolah memperkuat nilai-nilai karakter yang ditanamkan di rumah.

Guru bukan hanya pengajar ilmu, tapi juga pendidik akhlak.

Kurikulum sekolah yang baik akan menanamkan tsaqafah Islam sebagai dasar pembinaan karakter.


“Ilmu diperoleh melalui metode ilmiah, sedangkan tsaqafah diperoleh melalui metode rasional yang melibatkan penafsiran terhadap fakta berdasarkan nilai-nilai sebelumnya.” (At-Tafkir)

An-Nabhani menekankan bahwa pendidikan Islam harus memisahkan antara ilmu (sains) dan tsaqafah (ilmu yang bernilai). Sekolah sebagai lembaga pendidikan, seharusnya tidak hanya mengajarkan sains dan teknologi, tetapi juga menanamkan tsaqafah Islam, yakni nilai-nilai akhlak dan syariat. Pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi juga pembinaan kepribadian Islam. Ini penting agar peserta didik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga luhur secara moral.


3. Lingkungan Sosial – Pendukung atau Pengganggu

Teman, tetangga, media, dan masyarakat luas juga mempengaruhi karakter anak.

Jika lingkungan baik, maka akan mendukung pembentukan karakter positif; sebaliknya, lingkungan buruk bisa merusak akhlak anak.


Pentingnya kesatuan pandangan hidup (worldview) antara rumah, sekolah, dan masyarakat. Jika guru dan orang tua memiliki kerangka nilai yang sama (yakni tsaqafah Islam), maka komunikasi dan kerja sama dalam pendidikan anak akan lebih sinergis.


4. Negara dan Sistem Pendidikan

Negara memiliki peran besar melalui sistem pendidikan dan kebijakan publik.

Jika negara menerapkan sistem sekular, maka nilai-nilai yang diserap anak cenderung menjauh dari akhlak Islam.

Negara Islam idealnya menjamin sistem pendidikan berbasis tsaqafah Islam.


Islam bisa membangun peradaban yang maju secara teknologi namun tetap kokoh secara nilai. Masyarakat Islam ideal adalah masyarakat yang unggul dalam sains (ilmu) namun berpegang pada tsaqafah Islam dalam membentuk karakter, hukum, dan perilaku. Ini menolak realitas hari ini, di mana banyak Muslim menguasai teknologi tetapi tercerabut dari nilai Islam.


Dengan membedakan antara ilmu (sains) dan tsaqafah (ilmu yang bernilai), Islam menawarkan solusi untuk membangun peradaban yang maju secara teknologi namun tetap teguh dalam nilai-nilai syariat. Islam membolehkan umatnya mengadopsi sains dari mana pun, namun menolak adopsi nilai-nilai sosial Barat seperti sekularisme, demokrasi, dan kapitalisme yang bertentangan dengan akidah Islam.


Kesimpulan

Pendidikan karakter dibangun melalui penanaman tsaqafah Islam sejak dini oleh orang tua, diperkuat oleh sekolah, dan didukung oleh negara melalui lingkungan sosial yang islami. []


Kuliah itu Perjuangan, Bukan Pelarian!

 Kuliah itu Perjuangan, Bukan Pelarian!


Hai gaes, pernah nggak sih kalian ngerasain bahwa waktu itu berjalan cepet banget? Baru aja tadi scroll Tiktok, eh tahu-tahu udah malem. Eh, tiba-tiba udah dini hari, berganti hari lagi. Hedeehhh... baru juga kemarin rasanya ngerayain lulus SMA. Eh, sekarang udah kuliah dan semester tua. Woiy, baru juga kemarin seru-seruan di PK2MABA dan OSJUR. Eh, sekarang udah gedebak-gedebuk ngerjain tugas metpen. Capcay deh! 


Lha terus gimana dong? Tenang-tenang, anak menejemen dimohon tenang! Nggak ada yang salah kok dengan semua ini. When, ketika kamu sadar dengan semua keadaan ini, itu tandanya kamu sedang normal. Kamu lagi berada di titik kesadaran normal, dimana kamu ngeh dan menyadari bahwa bukan cuma jam dinding Ruang 201 aja yang terus muter. Detik berganti, menit berputar, jam berjalan.... Dan tanpa sadar, hari, minggu, bulan, dan tahun ikut berlalu. Itu tandanya, umur juga bakalan terus bertambah. Dan setiap detik lewat nggak akan pernah bisa di rewind. So, waktu ini nggak bisa diputar ulang gaes! 


Mau kau sebut emas? Uang? Atau berlian sekalipun, tetap aja waktu itu lebih berharga dari semuanya. Karena waktu = umurmu! Sekali lewat, babay dan selamat tinggal. Nggak bisa diulang!


Nah, sekarang kamu sadar kan? Waktu itu nggak bisa diputer ulang. Gak ada tombol rewind buat balik ke masa lalu. Cung, coba deh kamu ngaku! Siapa yang sekarang nyesel karena nilai semester kemarin jeblok? Siapa yang masih nyangkut di mata kuliah itu-itu aja? Wkwkwkwk.... Tenang, tenang, tenang. Jangan bersedih dan bersusaah hati. Santai aja gaes, semua itu bukan aib dan kamu gak perlu disesali, tapi diatasi. Kamu nggak perlu minder!


Woiy, sadar nggak sih dirimu itu, meskipun begitu itu udah beruntung banget loh. Coba lihat, itu di luar sana masih banyak orang yang nggak bisa kuliah. Dan, ada juga yang baru bisa kuliah di usia yang udah nggak muda, dan mereka masih semangat belajar di kelas karyawan loh! Jadi, dengan semua kondisimu sekarang, kamu harus tetep semangat, jangan menyerah dan jangan pernah berputus asa! Ingat, sukses itu bukan lomba siapa yang paling cepat tapi, siapa yang paling konsisten. Pepatah arab telah mengatakan:  Man Jadda Wa Jadda. Sing sopo wonge tenanan, bakal tinemu. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. 


Ehem, lha terus hubungannya apa dong sama waktu? Ya jelas ada gaes! Makanya, jangan sia-siakan waktumu! Nih ya, tak kasih tempe eh, tak kasih tahu. Kamu jangan sampe jadi donatur tetap kampus alias setia bayar UKT tiap semester tapi gak lulus-lulus. Wkwkwk... Bayangin deh, temen-temenmu udah wisuda, udah kerja, uda pada move on, bahkan nikah. Eh, kamu masih aja setia duduk di bangku kuliah. Hm... Please deh, jangan jadi mahasiswa abadi! 


Btw and the way busway, sebenarnya jika kamu kesulitan di semester kemarin itu tuh bukan karena kamu gak bisa, tapi karena dirimu yang terlalu santaiy dan nggak ngehargain waktu. Ingat, gak ada yang sampai kapan bapak dan ibumu bisa ngebiayain kuliahmu. Jadi, selama kamu masih bisa bernafas, masih dikasih waktu buat hidup dan kuliah. Yuk, selesaikan semua hal yang udah kita mulai. Gas, yuk kita lulus tepat waktu! 


Mumpung masih bisa, gaskeun! Lakuin yang terbaik sekarang, biar nggak nyesel di tahun-tahun mendatang! Selesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu. Jalin hubungan baik dengan teman-teman. Isi hari-harimu dengan kegiatan yang bermanfaat. Uupgrade skill dan kemampuanmu. Ikut kegiatan-kegiatan positif, belajar hal baru, dan jangan lupa ngaji loh ya! Sebab ngaji itu juga penting banget. Bukan biar kelihatan shalih atau shalihah, tapi biar hidupmu enggak ngawur. Mahasiswa ITEBIS yang tercinta itu harus paham ilmu dunia dan ilmu akhirat, biar paham arah hidup, ngerti skala prioritas hidup. Jadi, bukan cuma sekedar sukses dan berhasil aja, tapi caranya juga harus bener, secara aturan.

.

Oke. Yuk, manfaatin waktu dengan sebaik mungkin. Next, di semester depan. Fokus kuliah yang bener, biar bisa lulus tepat waktu, jangan nunda-nunda tugas, jangan banyak rebahan. Karena waktu gak pernah nungguin siapa-siapa. Dan inget ya... Lulus tepat waktu itu bukan cuma soal dapet gelar cepet, tapi juga bentuk tanggung jawab dan caramu ngebanggain orang tua. Bayangin deh, mereka udah capek kerja, doain kamu tiap hari, dan berharap kamu sukses. Masa sih kamu malah berleha-leha? Yuk, kasih senyum bangga buat mereka pas hari wisuda nanti! [] @masazizrohman