Lulusan SMA menikahi Sarjana. Kenapa tidak?
Hari ini dosen mengatakan bahwa jika kalian sarjana, sebenarnya secara tidak langsung akan menaikkan value calon pasangan kalian
Dalam prespektif beliau. Beliau mengatakan, nanti di undangan nikah akan tertulis. Menikah antara:
......S (gelar sarjana) putra bapak ......
Dengan ........ S (gelar sarjana) putri bapak .......
"Coba bayangkan jika salah satu pasangannya adalah .... (Tanpa gelar). Orang akan bertanya, ini anak pendidikannya apa?" Kata Bu dosen melanjutkan
Menurut saya, sebagai orang yang telah menikah 10 tahun. Apa yang beliau sampaikan itu tidaklah salah. Memang begitulah hidup ini. Dalam prespektif agama memang untuk menikah kita dianjurkan memilih yang agamanya baik, tidak disebutkan apakah sarjana atau bukan. Tapi, menikah itu bukan sekedar menyatukan dua hati. Bukan sekedar menyatukan dua orang, namun juga menyatukan dua keluarga. Yang mana keduanya memiliki latar belakang berbeda.
Oleh karena itu, agar ketersatuan antaranya keduanya nanti tidak menimbulkan hal-hal yang kurang enak. Maka, perlu kiranya kedua orang yang ingin melangsungkan sebuah pernikahan harus siap secara mental, finansial dan pemikiran kedewasaan.
Kedua orang itu harus benar-benar paham akan hak dan kewajiban masing-masing. Kemudian, harus menyamakan visi dan misi di dalam membangun rumah tangga pernikahan. Mau dibawah kemana pernikahan tersebut? Itu harus sudah clear dan keduanya sudah paham sebelum memutuskan menikah. Lalu, selama masa ta'aruf itu keduanya harus menyamakan visi dan misinya (tentu di dampingi oleh mereka yang kompeten agar tidak terjadi pelanggaran terhadap hukum syara'). Jika memang semua itu dilakukan karena demi ketaatan kepada Allah SWT, untuk menggapai Ridha Allah. Maka, keduanya harus benar-benar paham dan siap mengamalkannya. Bukan sekedar ucapan atau teori belaka (nantinya). Siap menerima segala kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing, jika sudah sah menikah. Kalaupun ada perbedaan pendapat, nanti dikembalikan terhadap hukum syara' dan segala prioritasnya.
Nah, kembali lagi ke pertanyaan tadi. Jika calon pasangan kita ternyata bukan sarjana bagaimana? Bisa saja. Asalkan dia siap dengan segala konsekuensinya!
Tapi, dalam prespektif pendapat saya (untuk kalian para laki-laki). Jika kamu bukan sarjana agar bisa mengimbangi kondisi di keluarga, masyarakat atau yang lainnya. Sebaiknya kamu memiliki satu kelebihan lain. Oke, kamu bukan sarjana. Tapi kamu punya kelebihan sesuatu. Misalnya, kamu pandai dan paham agama. Sehingga kamu nantinya punya "sesuatu" yang bisa membuat dirimu tidak mudah direndahkan karena kekurangan gelar dibelakang namamu. Kamu harus siap dan siap dalam belajar, belajar dan belajar! Agar tidak ada omongan nggak enak dibelakang nantinya.
Hm... tapi, kalo ternyata ilmu agama kita pas-pasan bagaimana? Kalo standar saya sebelum saya menikah. Bagi saya seorang laki-laki muslim (utamanya orang jawa). Minimal dia itu harus punya kemampuan sebagaimana pak modin. Sehingga, dia siap terjun di masyarakat nantinya. Dia sudah bisa dan siap menjadi imam untuk sholat jama'ah. Bisa menjadi khatib Jum'at, khatib sholat Ied. Bahkan, kalo bisa memimpin tahlil, istighotsah itu lebih bagus lagi. Apalagi kalo jago baca kitab Arab gundul dan bisa bahasa arab. Lalu bisa ceramah agama juga. Malah tambah jos dan bagus sekali... Tapi, jika ternyata kemampuan kita tidak seperti itu bagaimana? Maka, minimal kamu adalah orang baik, sopan tutur kata dan tingkah lakunya. Kamu harus menjadi seorang suami yang bertanggungjawab. Giat bekerja dan tidak aneh-aneh dalam membelanjakan uang hasil kerja.
Nah itu saja sih pengalaman dari saya. Yang menikah saat saya bukan seorang sarjana (gaji jauh dibawah UMR) dan calon istri saya adalah lulusan salah satu PTN terbaik di negeri ini. Saya tuliskan berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadi. Semoga bisa bermanfaat buat semuanya 🙏
@masazizrohman
0 Comments:
Posting Komentar