Tilik bayi

[22/8 16.10] X: Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

[22/8 16.10] X: Saya dan Istri mau berkunjung nilik bayi

[22/8 16.11] X: Jenengan masih kerja nopo?

[22/8 16.20] Y: Wslm. Wr. Wb. Iya masih di Jombang

[22/8 16.20] Y: Hari ini saya pulang malam. Mgkn baru pulang jam 23.00an di rumah.


Jika mau ke rumah Monggo. Tapi nanti ketemu istri saja 🙏

[22/8 16.48] X: Nggeh


============


Kadang saya merenung dan bicara dengan teman hidup, kok bisa ya begini? Seketika itu saya menasehati diri sendiri. Ada yg berhari-hari gak pulang, baru ketemu anak istri sepekan sekali. Ada juga yang baru bisa ketemu sebulan sekali, ada yang tiga bulan sekali. Bahkan ada yang setahun sekali. Jadi, janganlah mendongak ke atas. Cobalah sesekali melihat ke bawah. Biar kita bisa bersyukur dengan apa yang telah Allah SWT anugerahkam untuk diri dan keluarga kita...


Anu, saya masih harus ini. Harus bantu ibu begini dan begitu. Masih sibuk bekerja, belum cukup ini kebutuhan. Harus bekerja lebih.. (Terkadang suara sumbang di telinga sendiri terdengar hal itu)


Namun, banyak orang yg kondisinya lebih kekurangan drpd kita. Tapi mereka mau dan mampu mencurahkan amalnya untuk tetap belajar, berdakwah dan memperbanyak amal shalih. Jika mereka bisa. Kenapa kita tidak? Bukankah para pendahulu kita dulu. Saat berdakwah ada yang hidupnya saja gak jelas, tempat tinggalnya aja pindah-pindah dan tidak menetap, penghidupannya juga belum pasti. Tapi mereka terus berdakwah dan istiqomah berpegang teguh pada agama Allah. Coba itu tengok kembali bagaimana sejarah yang paling fenomenal. Nenek moyangnya Muhammad Al Fatih. Coba baca lagi gimana perjalanan hidup suku kayi. Pemimpinnya, Suleyman Shah di jaman itu. Yang mampu melahirkan putra sekualitas Ertughul. Lalu darinya juga lahir sesosok Osman. Peletak pondasi kekhalifahan ustmaniyah. Apa pelajarannya? Banyak! Diantaranya, semangat perjuangan itu harus diwariskan ke anak cucu kita. Jika kita memulai perjuangan dari angka minus. Maka, jangan biarkan anak kita mulai dr titik yang sama. Dia harus mengawali dari titik yang lebih baik dari kita. Dari angka 3, misalkan. Lalu generasi selanjutnya dari angka 7. Dan terus melesat hingga melahirkan generasi emas, sempurna. 10


Lha mas contohnya kok orang Turki? Yaudah sini. Tak bilangin, ini kan bulan Agustus. Katanya bulan hari kemerdekaan. Menurut pelajaran di sekolah kita di jajah berapa tahun? 350 tahun kan. Coba itu renungkan, selama kurun waktu tersebut. Pastinya, perjuangan itu dilakukan oleh beberapa generasi. Dan perjuangan serta semangat merdeka pasti diturunkan oleh kakek buyut, mbah-mbah buyut kita sampe ke kakek-kakek kita. Hingga kita bisa merasakan satu kata, merdeka. Merdeka dari penjajahan fisik bangsa Belanda dan Jepang di jaman itu. Semoga bisa memahaminya.... [] Mas Aziz Rohman

 

0 Comments:

Posting Komentar