Tentang Artikel "Bangga Menjadi Istri Pengemban Dakwah"

 Beranda saya banyak yang share tulisan lama yang menyampaikan pesan. Menikahlah dengan pengemban dakwah. Ya, menikahlah dengan pengemban dakwah. Pengemban dakwah yang semangat, pengemban dakwah yang serius dalam berdakwah. Yang Istiqomah dalam berdakwah, kekeh dan teguh dengan pendirian.


Jadi ingat saat saya menikah dulu. Saat itu adalah malam 29. Dengan perbedaan hari raya. Apa yang saya lakukan. Saya konsisten dengan pendapat yang saya yakini. Malam akad nikah. Pagi kita berangkat sholat ied ke tempat yang menyelenggarakan sholat idul Fitri berdasarkan Rukyatul hilal global. Naik motor berdua, sejauh 25 KM. PP: 50 KM... Ada perbedaan gimana? Hadapi, jelaskan! Tapi kan baru pertama berjumpa dengan keluarganya. Ya hadapi, jelaskan. Pengemban dakwah kok gak berani bicara. Ya, enggak lah.. Tapi kalo nggak bisa gimana? Ya belajar. Belajar, belajar dan belajar. Sampai bisa...


Terus sebelum nikah mas.nya ngapain? Dua tiga hari sebelum nikah saya sibuk nge.host di kajian senja radio. Gak sempat persiapan. Potong rambut pun lupa. Krn menikmati nikmatnya dan enaknya mendampingi guru memberikan tausiyah... Ya begitulah cara saya belajar pd para pengemban dakwah senior. Semoga bisa meneladani beliau2 yang Istiqomah dalam dakwah hingga akhir hayat...

0 Comments:

Posting Komentar