Kisah Hijrahku

Kisah Hijrahku


Nggak tahu kenapa jika memasuki tahun baru Islam sesuatu berbau hijrah pasti sedang hangat-hangatnya di bahas. Bukan tanpa alasan sih, tapi setiap muslim memang harus nyadar dan tahu bahwa penanggalan kalender Islam (tahun hijriyah) itu memang dari tahun dimana hijrahnya Rasulullah dari kota Mekkah ke kota Madinah. Makanya, jangan heran pasti jika saat tahun baru Islam tiba. Cerita seputar hijrah pasti selalu menginspirasi.


Yups, sebagaimana kita pahami bersama bahwa hijrah itu adalah berpindah. Perpindahan dari satu tempat ke tempat yang lain untuk menjadi lebih baik. Dan jika kita bicara hijrahnya para tokoh, biasanya pas akan menjadi wow. Apalagi jika beliau adalah panutan. Pasti kisah hijrah hidup beliau akan luar biasa.


Namun, kali ini saya tertantang untuk sedikit bercerita tentang diri sendiri aja. Sebagaimana tantangan om Ibnu Rachim  kemarin. Nulis kisah hijrah diri sendiri! Nah, bismillah... Berikut cerita saya (yang bisa saya bagikan). Nggak semua saya obral, biarlah itu menjadi cerita untuk hati ini dan pemilik hati ini. Semoga bermanfaat 😊 🙏


=======

Kisah Hijrahku


Mas Aziz Rohman 


Malam itu seperti malam-malam biasanya. Setiap Sabtu malam, hati-hariku selalu kuhabiskan dengan nongkrong bin main. Menyusuri jalanan dengan sepeda ontel hanya untuk sekedar cari angin, cari makan dan ngabisin waktu biar nggak gambut di malam minggu. 


Persis sebagaimana kata Rasul Saw. Jika kalian pengen mengetahui tentang seseorang, maka lihatlah dengan siapa dia berkawan. Yups, hari-hariku ku habiskan bersama teman-teman ngontel menyusuri jalanan pasar ploso. Sambil nyari makan malam bersama empat sekawan temanku. Mie ayam, capcaiy, bakso adalah menu favorit kami. Sesekali kami nyari nasi goreng. Tapi, mie ayam tentu menjadi favorit utama. Biasa, selepas nyari makan. Biasanya kita mampir ke studio radio untuk sekedar kirim-kirim salam. Dan tentunya godain teman kita yang jadi penyiar. Hehe... 

Dan waktu-waktu remaja selalu habis dengan hal tersebut. Susah senang, kami empat sekawan selalu ngabisin waktu malam minggu bersama. Nongkrong pinggir jalan sambil ngobrol nggak jelas hingga larut malam. 


Setelah beberapa lama aku juga mikir. Buat apa hal seperti dilakukan terus-menerus. Bukankah hal ini akan sia-sia? Ya, begitulah hati kecilku berkata. Tapi, ya begitu itu saat bersama teman-teman. Selalu dan selalu kuhabiskan waktuku untuk hal demikian. Sesekali kadang kita pergi nonton konser musik dangdut. Bukan apa-apa sih, tapi musik itu emang merakyat banget. Meski agak sebenarnya agak risih kalo diajak nonton konser. Males dengan keramaian dan juga lihat orang joget-joget rasanya nggak asyik banget. Tetap saja aku pergi nonton demi solidaritas empat sekawan. Meski biasanya aku selalu nyari tempat yang jauh dr keramaian. Risih dengan hal-hal seperti itu.


Hingga pada satu titik malam dimana bapakku pulang dan mengajak ngobrol. Setelah bercakap-cakap singkat beliau berkata, "Itu di mushollah perempatan desa. Teman-temanmu sedang mengaji. Kenapa kamu nggak ikut?"

Deg! Seketika itu hatiku tertegun. Loh, iya ya. Ngapain aku sering nongkrong pinggir jalan, pas ada teman-temanku yang lainnya pada ngaji di mushollah. Bukankah itu lebih baik dan berpahala daripada sekedar nongkrong dan ngobrol gak jelas sampai larut malam? Tanyaku dalam hati.


Dan seketika itupun pikiran melayang ke tahun-tahun sebelumnya. Tahun dimana selepas aku kelas lima madrasah. Seperti biasanya setelah itu adalah masa akan menuju remaja dan kebanyakan dari anak-anak di tempatku. Setelah fasih dan lancar baca Alquran, saatnya mengaji kitab kuning gundul. Meski sejak kecil sudah diberitahu bapak ini kitabnya, baca saja sendiri pasti bisa. Karena sudah bisa baca huruf Arab. Dan, kitab bertulis Hijaiyah dengan bahasa Jawa itupun bisa ku baca dengan sendirinya. Namun, apalah daya saat usiaku sudah cukup. Saat aku pengen ngaji kitab, eh pengajiannya buyar. Nggak tahu apakah itu info falid atau bukan. Tapi, itulah info yang kudapatkan dan teman-teman banyak yang tak mengaji lagi. Ngajinya buyar, gurunya sudah tak ngajar lagi. Nggak tahu apa alasannya dan apakah itu benar atau salah. Yang jelas, keinginan ngaji kitab saat itupun kandas.


Kembali ke topik saat dihadapan bapak. Akupun mulai merenung. Iya ya, kalo ngaji kitab yang disana sudah nggak ada. Kenapa jika aku nggak ngaji yang disini. "Kan lebih dekat!" Kataku dalam hati.


Dan setiap malam minggu, ku curi-curi waktu untuk sekedar melihat bro Ahmad Rizal  mengaji kitab dengan beberapa temannya. Yang lambat laun aku ketahui yang dikaji itu adalah kitab Nizamul Islam. 


Akhirnya, sedikit-demi aku mulai mendekat kepada sang ustadz. Ustadz Fathoni namanya, putra dari guru saya juga. Almarhum Abah Haji Abd. Syakur. 

Bukan sesuatu yang susah mendekati beliau. Lha wong sejak TK saya sudah disuruh ngaji ke Abah beliau. Malam hari selalu diantar ibu, dengan senter ditangan. Maklum, awal tahun 90an cahaya malam hari belum seterang sekarang dan juga. Rumah belum sepadat saat ini, masih banyak pohon-pohon besar di jalanan.


Dari beliau saya banyak belajar tentang hijrah, dakwah dan bersungguh-sungguh dalam berjuang. Meski itu secara tidak langsung. Ya, karena sejak dulu saya memang tak pernah dibina secara langsung oleh beliau. Kecuali, beberapa tahun ini. Tapi, apa yang beliau lakukan saat itu selalu saya perhatikan dan selalu memberikan semangat dalam diri agar berhijrah.


Maafkan, saat itu aku nggak begitu peduli dengan ucapan saat bro Rizal, temanku datang ke rumah mengajak ngaji. Lha wong saya sudah bisa ngaji, bapak saya saja aktivis remaja masjid yang menjadi pencetus jamaah khatmil quran saat masih remaja. Siap dia mau menasehati saya, siapa orang tuanya. "Gak pantas!" Begitulah ungkapan hati kecilku. (Duh, sedih banget jika melihat keadaan sekarang. Ternyata beliau lebih sholih. Semoga saja istri.teman saya ini bertambah biar hidupnya makin bersemangat dan penuh keberkahan. Aamiin :D ). 


Bukan apa-apa sih, karena bagiku sikap yang ditunjukkan orang yang menjadi itu lebih penting daripada apa yang diucapkan. Buat apa ngaji serius tapi masih suka nge.band sana sini. Buat apa coba? Katanya sudah ngaji tapi kok masih suka nge.band? Nggak pantas lah engkau memberi nasehat kepadaku! Kataku jaman itu. 

Tapi, sebagai seseorang yang masih waras dan cerdas. Aku nggak mau karena hal tentang persoalan pribadi ini yang menjadi alasan. Makanya, aku perhatikan betul gurunya. Sikap gurunya, gimana perilaku gurunya! Kalo muridnya (saat itu) nggak ada penilaian bagus-bagusnya di mataku. Maafken! Karena penilaianku yang dulu 🙏🙏🙏🙏


Dan singkat cerita akhirnya aku diajak ngaji sama beliau, guru ngaji bro rizal. Semua lebih mudah lha wong saya sejak kecil anak mushollah, selalu ketemu saat sholat berjamaah. Tapi, yang mengajari aku bukan beliau langsung melainkan orang lain. Aku sih nggak masalah, yang penting ngaji. Wong apa yang beliau sampaikan itu adalah kebenaran, kenapa saya harus menolaknya? Dan akupun nggak mau disebut sebagai orang yang sombong, orang yang menolak kebenaran. Nggak mau!

Dan karena memang sejak awal pengen ngaji. Siapapun pengajarnya nggak ada masalah, asal beliau yang mngajari itu serius mengajar dan menunjukkan sikap selayaknya muslim sejati. Karena kalo sang guru tidak serius mengajar, jatuhlah kridibilitas pribadinya dimataku! Bukan apa-apa, karena pernah saya janjian belajar ngaji dengan seseorang. Sudah pergi jauh naik sepeda, hujan-hujanan eh pengajarnya nggak datang karena hujan. Nggak ngasih kabar pula! Setelahnya lama, baru minta maaf. Padahal, jaman itu SMS itu murah. Kirim 2 SMS gratis sepuasnya. Hm... Inilah sikap yang tak mau saya lihat dari seseorang yang akan menjadi guru saya. Nggak pantas! Kataku di jaman itu.


Singkat cerita. Akhirnya lambat laun, pelan tapi pasti. Akhirnya, aku bersama dalam jama'ah itu. Antara senang dan sedih memang. Kenapa? Ya karena teman-teman yang dulu mengaji itu sekarang satu persatu sudah tidak mengaji lagi. Dari kelompok itu hanya tersisa, Ahmad Rizal sang direktur elfikra. Sebel memang, lha wong pengen ngaji bersama mereka. Eh, mereka dah nggak ngaji lagi. Tapi, ya begitulah hidup. Selalu ada seleksi, memilih seseorang yang paling baik diantara mereka yang terbaik. 


Beruntungnya meski teman-teman sudah tidak mengaji. Nyatanya mereka tetap respek dengan apa yang kami kaji dan perjuangkan ini. Yups, karena mengkaji kitab Nizamul Islam itu. Kita nggak sekedar thalabul ilmu semata, tapi lambat laun akan memaksa diri kita. Memahami, mengamalkan dan mendakwahkan! Dan yang terakhir inilah yang paling susah. Istiqomah mendakwahkan itu paling susah!


Namun, Alhamdulillah. Bapakku memang luar biasa! Memberikanku sebuah pilihan dalam menapaki jalan kehidupan. Apakah akan terus-terusan nongkrong, sambil nyanyi-nyanyi dan ngobrol hingga larut di pinggir jalan. Atau pindah tempat ngumpul menjadi duduk bersila melingkar di mushollah mengkaji keislaman? 

Syukran wa jazakallah khairan katsiran kepada bapakku yang telah memberikan sentilan awal untuk berubah. Juga kepada teman-teman yang menyambut kedatanganku dengan sangat baik, saat aku pengen berubah. Juga kepada para guru yang memberikan tauladan yang luar biasa. Meski aku tak bisa menyerap ilmu secara langsung lewat panjenengan. Namun, aku selalu memperhatikan apa yang jenengan lakukan. Dan pelajaran dari hal itu, selalu membekas di hatiku. Orang paham teori memang luar biasa, namun selalu spesial di hatiku saat mereka tidak hanya sekedar paham. Namun mengamalkan dan juga mendakwahkan! Itu selalu menjadi sebuah nilai lebih dalam diriku dan akan selalu terpatri di dalam dadaku. Aku harus seperti beliau, ah tidak! Aku harus menjadi seseorang yang lebih baik dari beliau!

Dan dengan begitulah akhirnya aku hijrah. Belajar menjadi lebih baik, belajar istiqomah dalam ketaatan dan kebenaran, belajar fastabiqul khairat. Berlomba-lomba dalam kebaikan dengan orang-orang shalih yang lainnya. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dari godaan duniawi dan senantiasa mengistiqomahkan kita dalam jalan kebenaran hingga ajal menjemput diri kita []

Ditulus tahun 2022, untuk kisah awal 2000an

0 Comments:

Posting Komentar