Aksi Bela Uyghur
Oleh: Aziz Rohman
Nabi Saw bersabda: "Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya. Ia tidak boleh mendhaliminya dan tidak boleh menyerahkannya kepada musuh"
Dalam hadits yang lain dikatakan juga bahwa seorang muslim dengan muslim lainnya ibarat satu tubuh. Jika satu bagian tubuhnya tersakiti, maka bagian yang lain juga akan merasakan sakit. Begitulah kiranya gambaran mengapa Aksi Bela Uyghur yang dilakukan oleh Aliansi Umat Islam di depan Konjen Cina di Surabaya tadi siang (27/12) berlangsung ramai, damai dan dihadiri ribuan peserta.
Beberapa kali pertanyaan terdengar dari mobil orasi, "Kita disini karena iman atau uang?" "Iman!" Jawab para peserta kompak yang dilanjutkan dengan pekikan takbir serentak!
Yups, begitu merinding diri ini yang ikut serta hadir dalam aksi siang tadi. Merasa terharu, sedih, kesal dan campur aduk pokoknya. Tak bisa lagi rasanya kutuliskan dengan kata-kata.
Terharu, karena ternyata masih ada juga ya umat Islam yang peduli dengan musibah kezaliman yang dialami saudaranya, meski itu terjadi di belahan bumi nan jauh di sana, di Uyghur. Berarti ini menunjukkan bahwa umat Islam itu emang benar satu tubuh. Makanya, saat saudaranya disana terzalimi. Disini mereka berteriak menuntut keadilan.
Sedih, karena bagi kita yang hadir kemarin hanya bisa menunjukkan sikap kita. Pembelaan kita hanya bisa sebatas itu saja. Lha, kenapa? Karena kita bukan pejabat negara, bukan pula tentara yang punya pasukan. Sehingga bisa langsung menolong saudara kita disana secara nyata. Kita hanya bisa menuntut pihak-pihak yang berwenang, baik aparat militer atau penguasa negeri muslim untuk segera mengirim pasukan, menolong saudaranya yang terzalimi. Mereka disiksa, dibunuh dan berbagai tindakan biadab tak berperikemanusiaan lainnya mereka alami dan ini hanya bisa dihentikan secara nyata. Jika tidak bisa dengan jalur diplomatik, maka tentu harus dengan mengirim pasukan.
Tapi sayangnya kita tidak memiliki pemimpin. Umat Islam yang jumlahnya milyaran ini tak memiliki pimpinan tunggal. Makanya tidak heran dari mobil orasi terdengar suara, "Hanya Khilafah Islamiyah yang bisa membebaskan muslim Uyghur dari kezaliman ini." Tidak salah memang, karena khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslimin. Dan sejarah juga mencatat bahwa ketika seorang muslimah di Ammuriah (Turki) terzalimi dan berteriak minta tolong. Khalifah Al mu'tasim yang berada di Baghdad, Irak pada waktu itu langsung mengirim pasukan. Menolong saudaranya yang sedang terzalimi itu.
Tapi sayangnya Khalifah, sang pemimpin kaum muslimin itu saat ini telah tiada. Maka, kezaliman dan kehinaan yang diderita oleh kaum muslimin terus saja berulang. Belumlah merdeka saudara-saudara kita di Palestina, Syiriah, Rohingya dan berbagai tempat lain yang mereka masih saja terzalimi hingga detik ini. Eh, tambah lagi di Uyghur. Menambah jeritan kesedihan umat Muhammad ini. Yang dikatakan sebagai umat terbaik, nyatanya keadaannya sungguh memprihatinkan. Innalilahi wa innailaihi rajiun...
Dan perasaan itu semakin sebal dan kesal, saat penguasa kaum muslimin itu diam. Sekedar mengecam saja tidak berani. Duh, betapa makin teriris hati ini. Memiliki pemimpin, memiliki jutaan pasukan tapi tak mampu menolong saudaranya yang terzalimi. Bahkan, beberapa pejabat negeri ini mengatakan bahwa itu adalah urusan dalam negeri negara Cina. Ini apa-apaan ini, bukankah sesama muslim itu bersaudara? Mengapa penguasa negeri muslim ini mengabaikan saudaranya yang terzalimi? Adakah yang salah dengan umat ini hingga kehinaan dan kezaliman terus saja mereka alami? Allahu Ya Rabb... Berilah hidayah pada mereka agar terketuk hatinya dan mengeluarkan sikap menolong saudaranya yang terzalimi. Berilah pertolongan pada kami agar kezaliman dan kehinaan ini segera berakhir. Aamiin []

0 Comments:
Posting Komentar