Anak SD Gantung Diri karena Kecanduan HP, Kok bisa?


Oleh: Aziz Rohman

Sedih, menangis, sesak di dada mendengarnya. Kok bisa sih? Why, Apanya yang salah kok bisa ya anak sekecil itu bisa nekat. Duh, jadi sedih nih saat membaca berita itu. Berita tentang anak SD yang nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri. Apalagi, dugaan kuat si adhik nekat mengakhiri hidupnya menurut laman radarbromo.jawapos.com (18/11). Innalilahi wa innailaihi rajiun.

Diberitakan bahwa sekitar enam bulan lalu, AA (11 tahun) senang melihat teman-temannya main game. Dia hanya bisa melihat aja, karena tak punya HP. Lalu, minta dibelikan HP ke orang tuanya. Karena kasihan, akhirnya orang tuanya membelikannya HP. Sejak saat itu ia hampir tiap hari nge-game.

Melihat hal tersebut, orang tuanyapun menegurnya agar lebih sering belajar daripada mainan HP. Apalagi habis ini mau ujian. Orangtuanya tidak ingin dia menjadi kecanduan nge-game. Tapi, karena teguran tak dihiraukan. Akhirnya, sama ibunya HPnya disembunyikan.

Menurut penuturan kakak korban, MA (17 tahun). Ayah dan ibunya kalo menegur biasa saja, wajar. Hanya teguran lisan, tak sampai dengan kekerasan. Karena tak dihiraukan, HP disembunyikan. Tapi, ternyata adhiknya malah nekat gantung diri karena itu. Duh, jadi sedih. Kok bisa ya, kok bisa ya serapuh itu. Hiks, sediih...

Duh, betapa rapuhnya anak di negeri ini. Ada masalah dikit, baper, ngambek dan nekat mengakhiri hidup. Astaghfirullah... Ini dosa loh, dosa!

HP, ya begitulah kita menyebutnya. Kotak gepeng yang diakhir-akhir ini mampu membius mata anak-anak kita. Now, hampir tak ada orang yang tak memiliki HP. Bahkan, anak-anak SDpun saat ini sudah pegang HP.

Pernah suatu ketika penulis ketemu sekumpulan anak-anak SD. Saat ketemu mereka sayapun bertanya, "Siapa yang punya HP seperti ini? (Sambil saya mengangkat smartphone android milik saya)"

Kaget saya melihat jawaban dari 20an anak-anak tersebut. Ternyata hampir semuanya memiliki HP, hanya satu dua aja yang tak dibelikan HP sama ayah ibunya. Tapi, tetap hampir tiap hari pinjem HP orang tuanya.

Saat saya tanya lebih detil, "HP kalian isinya apa?" Kebanyakan dari mereka menjawab pulsanya nggak ada tapi sosmed mulai Facebook, YouTube, WhatsApp hingga game online semua terinstal. Yang paling banyak dan hampir mayoritas ada adalah Game, dan gamenya tidak hanya satu. Ada dua, tiga hingga empat jenis permainan game dalam HP mereka. Duh, jadi sedih mendengarnya.

Apalagi hampir tiap hari mereka bermain game. Dimana nge-gamenya? Beli voucher di warung WiFi katanya. Pernah dalam satu kesempatan saya setelah tanya-tanya. Coba saya minta kumpulkan HP mereka, saya ajak mikir mereka sebentar saja. Tak disangka paling lama 10 menit, mereka bisa konsentrasi. Setelah itu ramai sudah, kebanyakan dari mereka udah minta HPnya balik. Minta agar bisa main inilah, itulah. Dengan berbagai macam alibi tentunya.

Anak-anak jaman now, model-model seperti inilah yang hampir tiap hari dihadapi bapak dan ibu guru kita. Duh, jadi kasihan. Apalagi kalo beliau-beliau gajinya cuma 100-200rb sebulan, udah gitu nunggak 11 bulan belum dibayarkan. Walah, makin mewek mata ini...

Tentu, kita sudah pada tahu pastinya bahwa sekitar setahunan yang lalu. WHO telah resmi menyatakan bahwa kecanduan game sebagai gangguan mental (Kompas.com, 19/6/2018). WHO mengatakan permainan (game) di sini mencakup berbagai jenis permainan yang dimainkan seorang diri atau bersama orang lain, baik itu online maupun offline.

Terkait hal ini, tentu sebagai umat Islam kita harus senantiasa menyandarkan setiap perbuatan kita dengan hukum syara'. Benar salah, syariahlah yang paling tepat kita jadikan patokan. Pahala dan dosa harus senantiasa jadi perhatian. Al-Qur'an dan As Sunnah harus jadi pedoman.

Berbagai game, permainan yang menyenangkan itu memang menghibur. Tapi, sejujurnya disana ada banyak bahaya yang nyata dan terselubung. Setiap game, hiburan dan permainan di era kapitalistik saat ini memang cenderung negatif dan merusak. Sehingga membuat umat Islam mudah tergelincir dalam kelalaian, hingga berbuat dosa dan kemaksiatan.

Waktu luang yang harusnya digunakan untuk kegiatan positif berpahala, malah disia-siakan begitu saja. Hingga lupa sholat, lupa ngaji, nggak mau membantu orang tua dll. Padahal, Rasulullah Saw telah mengingatkan kita jauh-jauh hari sebelumnya. Beliau Saw bersabda, "Ada dua kenikmatan yang memperdaya kebanyakan manusia, yakni kesehatan dan waktu luang." (Al Hadits)

Jadi, adanya anak SD yang kecanduan main game, kecanduan HP harus menjadi perhatian semua pihak. Hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, usia emas mereka akan sia-sia jika dihabiskan untuk hal-hal yang tidak berguna. Dalam menangani hal inipun harus dilakukan dengan bijak agar mereka tidak berbuat nekat sebagaimana yang dilakukan si AA.

Kuy, manfaatkan waktu luangmu untuk melakukan kegiatan positif dan berpahala. Habiskan masa mudamu untuk beramal shalih, mempelajari ilmu pengetahuan dan ilmu agama sebanyak-banyaknya. Sebagai bekal saat sudah besar nanti. Jangan sampai engkau menyesal dikemudian hari. Perkembangan sarana dan teknologi harus disikapi dengan bijak. Pergunakan dengan baik sesuai dengan kebutuhan. Manfaatkan masa mudamu, sebelum masa tuamu! Ayah bunda, pak guru dan bu guru, masyarakat, pejabat hingga negara harus hadir dalam mengawal tumbuh kembang generasi muda muda. Tanamkan dalam diri mereka kecintaan akan ilmu dan agama. Hingga terlahir generasi-generasi qurani yang mampu membebaskan kita dari jerat kehidupan kapitalistik yang begitu menyiksa ini. Kembali pada Islam, sebagai jalan keselamatan dan kebahagiaan dunia akhirat. []

0 Comments:

Posting Komentar