Ada Apa Dengan Film SIN?
Oleh: Aziz Rohman
Ngomongin soal remaja itu emang asyik. Itulah saat-saat kita punya rasa ingin tahu yang amat besar. Tentang ini, tentang itu, juga tentang cinta. Kalo udah ngomongin cinta dikalangan remaja. Pasti semua bakalan wow. Ngebahasnya...
And, jika sebelumnya kita dihebohkan dengan trailer film 'The Santri' yang katanya sih tidak mencerminkan pesantren sama sekali (Bener nggak sih? Hehehe....) Mulai dari adanya ikhtilat, khalwat bahkan toleransi agama yang kebablasan (katanya).
Now, kita dihebohkan dengan akan tayangnya film 'SIN'. Menurut banyak berita yang beredar ini mengisahkan tentang kisah cinta kakak beradik. Lho, incest dong? Hm... Benarkah film ini menceritakan tentang kisah cinta kakak beradik atau ...
Gaes, yang perlu kalian tahu terlebih dahulu disini adalah bahwa film ini itu diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, SIN. Yang cukup laris manis di wattpad, lalu naik cetak dan laris. Dan akhirnya diangkat dilayar lebar.
Alur cerita serta kata-kata dalam novel yang aduhai dan mengoyak hati antara si Metta dan Raga. Emang menjadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat kisah mereka. Apalagi pada satu bab yang menceritakan bahwa ternyata mereka adalah saudara seayah. Duaarrr!!! langsung pecah hati mereka. Antara menerjang dosa dengan nikahin cewek yang dia cinta (yang katanya adhiknya). Atau melepaskan dirinya gitu aja... Katanya sih dia bilang, “Aku pernah membuat duniaku berporos pada satu titik bernama kamu. Lalu, kamu memutuskan pergi. Duniaku berhenti." (Glodak, glodak... Duh, baper deh para pembacanya. Wkwkwk...). Pembaca tersihir dengan kata-kata manis, rayuan gombal khas para penikmat dunia percintaan. Diawal mereka kecewa. Tapi, semuanya tersihir lega pas tahu Mbok Marni bilang bahwa si Metta itu bukan anak kandung Ibu Rinjani. Dikisahkan oleh Mbok Marni kalo Metta ditemukan oleh Ibu Rinjani, sebulan setelah Ibunya melahirkan dan bayinya meninggal.
Nah, kemudian gimana nih menyikapi tentang film ini?
Ya seperti film Dilan yang diangkat dari novel remaja yang sama. Mengisahkan kisah cinta dikalangan remaja. Ujungnya apa? Pacaran!
Gaes, Udah banyak yang ngebahas bahwa pacaran itu maksiat, pacaran itu dosa. Tapi, masih aja banyak yang menikmatinya. Katanya sih dosa terindah. Hellowww... Mana ada dosa indah, berdosa endingnya masuk neraka (kalo dosanya banyak). Kok dibilang enak, kok dibilang indah. Sakit ya ente?
Ada banyak hal memang perlu kita kritisi dari banyak cerita, novel, lirik lagu ataupun film yang beredar di sekitar kita. Kalo itu tentang sebuah tulisan. Menurut aku sih menulis itu hukum asalnya sih, mubah. Kalo menulis untuk kebaikan dan dakwah, insyaAllah berpahala. Namun, jika isinya mengajak pada kemaksiatan dan menjerumuskan kedalam lubang dosa. Maka, ini tidak boleh. Nulis cerita mengisahkan tentang kisah cinta dua remaja. Pacaran, hingga secara tak sadar membuat pikiran pembaca berfantasi ria dalam kemaksiatan. Yang ujung-ujungnya menginspirasi mereka untuk bermaksiat. Tentu ini tidak boleh dilakukan! Awas, Film bertema pacaran bisa menginspirasi kita berbuat maksiat!
Setelah nonton film biasanya terinspirasi, akhirnya mencontoh setiap adegannya hingga kebablasan. Awalnya sih saling lirik, kenalan, ketemuan, pegangan tangan, pelukan, ciuman. Endingnya, biasanya berzina. Tidak semua pacaran memang berujung zina, tapi hampir semua perzinahan dimulai dengan yang namanya, P.A.C.A.R.A.N.
Hidup di era kapitalis emang pahit, semuanya dinilai dengan duit. Asalkan bisa menghasilkan uang, masa bodoh deh dengan kelangsungan hidup generasi muda kita. Yang terpenting bagi para kapitalis adalah uang, uang dan uang.
Fun, Food dan Fashion (3F) emang benar-benar jadi momok bagi generasi muda kaum muslimin. Dengan 3 F inilah musuh-musuh Islam selalu mengarahkan generasi muda kaum muslimin agar menjauh dari Islam. Bersenang-senang dalam hal-hal yang mubah, bahkan tanpa terasa bermaksiat. Yang berujung pada lalainya kewajiban kita sebagai seorang hamba Allah SWT. Untuk apa? Untuk beribadah kepadaNya.
Dalam setiap sholat, kita selalu mengatakan bahwa sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam. Lantas, pantaskah kita bermaksiat setelah berikrar dan berjanji untuk taat kepadaNya?
Teman-teman, janganlah kalian membuang waktu mudamu yang begitu berharga untuk hal-hal yang tak berguna, bahkan mengarah pada kemaksiatan. Yuk marilah kita sibukkan diri kita, diusia muda kita ini untuk mengaji. Mengkaji Islam lebih dalam dan mendakwahkannya. Hingga Islam benar-benar menjadi Rahmatan Lil Alamin. Janganlah kalian terlena oleh fatamorgana kesenangan duniawi yang fana ini. []

0 Comments:
Posting Komentar