Nagih Hutang


Oleh: Aziz Rohman

Sobat, pernahkah temanmu berhutang. Trus, nggak dibayar-bayar. Gimana perasaanmu saat itu; sebel, marah, membiarkannya gitu aja sambil menggerutu sendirian. Nagih hutang berkali-kali, rasanya kayak orang ngemis. Pas ngutang enak banget, giliran bayar hutang 1001 jurus ngeles dikeluarkan. Ujung-ujungnya nggak mau bayar hutang. Hm...

"Itu si Joko kapan hari ngutang ke saya, buat beli mie ayam. Sudah sebulan ini nggak dibayar-bayar. Ditagih berkali-kali ngeles saja terus."

"Udah capek aku nagihnya, berkali-kali menghindar terus. Giliran dicariin, ngumpet. Pas ketemu, ngeles. Nggak mau bayar."

"Aku udah malas nagihnya. Nagih hutang rasanya kayak orang ngemis. Nggak ditagih sayang, ditagih dianya begitu. Yasudah lah" Gumammu di dalam hati.

Akhirnya, kamu membiarkannya gitu aja. Kamu nggak berani nagih, dianya enggak mau bayar. Dianya enjoy tanpa rasa bersalah, kamunya ngedumel dalam hati. Duh!

Pernah ngalamin kasus seperti diatas? Duh, kasihan. Semoga nggak terulang lagi ya. Hehehe..

Sobat, berhutang itu boleh. Boleh ya, bukan harus. Tapi, bayar hutang itu wajib. Nah, dalam kasus hutang piutang. Terkadang, kebanyakan dari kita memang sukanya begitu. Pas ngutang, melas banget. Giliran bayar, pura-pura lupa. Akhirnya, si pemberi hutang mendiamkannya, males nagih. Menggerutu sendirian dipojokan sambil nangis-nangis dalam hati. Padahal, ngapain menggerutu. Bukankah lebih baik ditagih. Iya kan?

Kamu tahu nggak, bahwa sesungguhnya menagih hutang adalah kewajiban. Lho kok bisa? Sebab, boleh jadi orang yang berhutang itu lupa terhadap hutangnya. Dan kamu sebagai pemberi hutang, wajib mencatatnya. Berapa jumlah hutangnya, kapan waktunya harus bayar. Jika belum dibayar sebagaimana batas waktu kesepakatan, kamu wajib menagihnya.

Dengan menagihnya, jujur sebenarnya kamu itu telah membantu temanmu yang berhutang tadi untuk menunaikan kewajibannya. Sebab, orang yang berhutang itu memiliki tanggungjawab yang berat. Jika hutangnya belum lunas hingga, tapi ajalnya sudah keburu datang. Maka, itu bisa menjadi penghalang bagi dirinya di akhirat sana.  Sebagaimana sabda Rasulullah Saw, "Ruh seorang mukmin akan menggantung, selama hutangnya belum dilunasi." (HR. Turmudzi)

Makanya, jangan heran jika kamu ikut takziyah orang yang telah meninggal dunia. Biasanya pak modin atau dari perwakilan pihak keluarga selalu memberikan pengumuman pada masyarakat sebelum jenazah diberangkatkan ke kuburan. Apabila almarhum itu masih memiliki tanggungan hutang. Pemberi hutang biasanya diminta untuk menghubungi pihak keluarga duka untuk menyelesaikan urusan utang piutang ini. Untuk apa itu? Agar hutangnya bisa segera dilunasi dan tidak menjadi penghalang dirinya di akhirat kelak.

"...barangkali seandainya almarhum memiliki tanggungan hutang. Mohon bagi siapa saja yang merasa dihutangi. Bisa segera menghubungi pihak keluarga." Kata pak modin biasanya

Jadi, jangan ragu-ragu ya sobat buat nagih hutang. Sebab itu bukanlah perbuatan memalukan, itu adalah bukti rasa sayang yang kamu berikan kepadanya. Dengan mengingatkan kewajibannya untuk membayar hutang.

Jika ia belum punya uang untuk membayarnya, berikan ia waktu agar bisa melunasinya. Dan jika engkau lapang, tentu mengikhlaskannya adalah perbuatan yang sangat terpuji. Allah SWT berfirman:

وَاِنْ كَانَ ذُوْ عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيْسَرَةٍ  ؕ  وَاَنْ تَصَدَّقُوْا خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. [QS. Al-Baqarah: Ayat 280]

Dan buat kamu yang suka berhutang. Jangan kamu tiru si joko tadi, hutang temannya buat beli mie ayam. Enggak mau bayar. Giliran ditagih, ngeles nggak mau bayar. Jadi, kalo punya hutang segera bayar. Tapi, akan lebih baik lagi jika kamu. Jangan jadi tukang ngutang! []

0 Comments:

Posting Komentar