Kami Butuh Teladan, Bukan Tukang Perintah


Oleh: Aziz Rohman

Bapak, begitulah aku memanggil lelaki itu. Tak pernah aku memanggilnya ayah, sebab aku merasa panggilan 'ayah' hanyalah pantas untuk mereka orang tua yang berasal dari keluarga berpunya. Akupun jarang sekali memanggilnya dengan panggilan 'abi' ataupun 'abah'. Karena aku tahu, beliau tak pernah suka dengan panggilan itu. Kenapa? Karena beliau tak pernah merasa sebagai orang yang pandai dalam agama. Hingga layak di panggil 'abah' atau 'abi'. Meski sejatinya beliau adalah seorang tokoh agama di desa tempat tinggalku.

"Abi, mau kemana?" Tanyaku pada lelaki paru baya yang membesarkanku itu..

"Waduh, Sudah berkali-kali bapak bilang. Jangan panggil bapak dengan panggilan 'abi' ora pantes le. Panggil saja bapakmu ini dengan panggilan 'bapak'." Jawab beliau sambil menggelengkan kepala tanda kurang setuju.

"Inggih pak. Bapak mau kemana?" Tanyaku lagi, mengulang pertanyaan yang hampir serupa.

Tanpa ragu beliaupun menjawab, "Ini, bapak mau pergi ke masjid. Mau ikut?"

"Ikut pak.." Seketika itu akupun langsung berlari ke arahnya.

******

Namaku Lalang dan inilah kisahku, cerita hidupku, kisah remajaku di sebuah desa di pelosok yang jauh dari perkotaan. Aku hidup di desa miskin, jalanannya rusak sana-sini. Kalo malam gelap gulita, tak ada penerangan jalan. Pergi ke masjid, cukuplah obor atau lampu senter sebagai teman menemani perjalanan dalam kegelapan. Meski begitu, aku teramat senang hidup di sini. Karena di sinilah, mulai dari sinilah aku mengenal tentang kehidupan. Tentang kesabaran dan juga tentang dakwah.

Dakwah, menyampaikan kalimatul haq kepada manusia. Mengajak manusia menuju kebenaran Islam dan meninggalkan setiap kemaksiatan yang ada. Agar mereka bisa menjalani dengan benar. Dengan senantiasa menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semua laranaganNya.

Berjalanan di samping bapak. Seolah menjadi sesuatu moment yang luar biasa. Banyak kisah dan cerita di berikan olehnya kepadaku. Yang semakin membuatku bergairah menapaki jalannya kehidupan ini. Dan, pada kali ini dalam perjalanan menuju ke masjid. Akupun diceritakan tentang sosok luar biasa di kampungku. Di sini, di Desa Sukamaju.

Perlu di ketahui bahwa sebenarnya orang tuaku bukanlah penduduk asli kampung ini. Bapak dan ibuku adalah pendatang. Mereka pindah ke kampung ini, persis satu tahun sebelum aku lahir. Ya, setelah menikah bapak langsung membeli sepetak tanah di sini. Kemudian, beliaupun membangun rumah sederhana. Lalu, mengajak ibuku tinggal di rumah baru itu. Biar bisa mandiri kata beliau, biar tidak merepotkan kakek dan nenek katanya. Hm... Bapak memang sosok luar biasa, makanya tak heran ibuku bisa jatuh hati kepadanya. Sudah baik, penyabar, pengertian, tanggung jawab lagi. Kurang apa coba? Hehehe..

*****

Di iringi dengan angin sepoi-sepoi  di sore hari. Kami berjalan beriringan. Sambil jalan bapakku-pun lantas bercerita, "Nak. Kamu tahu tidak. Bahwa dahulu, saat bapak baru tinggal disini. Sebenarnya orang-orang di desa ini itu, pemahaman agamanya sangat minim. Sholat saja hampir semua penduduk desa tidak pernah. Di KTP sih tertulis beragama Islam, tapi sangat jarang sekali mereka sholat. Kalaupun sholat, itupun kebanyakan dua kali setahun. Pas moment sholat ied, saat idul fitri dan idul adha tiba."

"Ah masak sih, nggak mungkin pak. Buktinya, tiap kali sholat jama'ah masjid selalu penuh, bahkan hingga shaff jama'ahpun meluber ke pelataran." Sanggahku

"Iya itu sekarang. Dulu tidak begitu." Kata bapak

"Lho, kok bisa gitu pak? Kalo gitu kira-kira apa ya yang menyebabkan mereka bisa jadi seperti ini. Bisa tobat rame-rame. Hehe.." Tanyaku pada bapak minta penjelasan

Tanpa ragu bapak memberikan penjelasan kepadaku. Bahwa semua yang terjadi pada masyarakat desa Sukamaju ini, hingga mereka mau mendatangi masjid untuk sholat adalah karena Alm. Abah Hamid.

Ya, beliaulah yang dulu tak pernah lelah mengajak orang-orang kampung untuk pergi datang sholat berjamaah ke masjid. Tiap rumah beliau ketuk, tiap laki-laki beliau ajak. Di ajak agar mau pergi ke masjid. Susah, iya. Tapi, beliau sangat telaten. Tak pernah lelah mendatangi dan menasehati masyarakat hingga mereka mau sholat ke masjid.

Di datangi olehnya para warga itu, satu persatu di rumahnya sebelum tiba waktu sholat. Jika sudah mendekati waktunya, beliau pergi ke masjid. Pukul kentongan, lalu mengumandangkan suara adzan. Nggak ada jama'ah yang datang, beliau tetap sholat sendirian di tempat imaman. Begitulah kira-kira cerita beliau kepada bapak di awal kedatangan bapakku di Sukamaju. Hingga bapakpun tak tega membiarkan kakek-kakek berdakwah sendirian. Yang di kemudian hari bapak menemaninya dalam dakwah.

"Jadi, Abah Hamid itu tidak sekedar memberikan nasehat di setiap ceramah saat di masjidnya saja. Meski jamaahnya cuma satu dua orang. Beliau tetap konsisten memberikan  tausiyah, kemudian dalam dakwahnya beliaupun tanpa ragu kadang-kadang ikut turun terjun langsung. Mengajak masyarakat agar mau memakmurkan masjid. Mau datang sholat berjamaah di masjid." Kata bapak menjelaskan.

Hm... Orang ini luar biasa, kataku dalam hati. Kok ada ya, orang kayak gitu. Andaikan jaman sekarang masih ada orang sepertinya pasti perubahan itu akan terus berjalan. Sayangnya di jaman sekarang, jumlah orang seperti Abah Hamid sudah langka. Sekarang memang banyak sekali orang pintar. Tapi sayang, kepintarannya itu tidak digunakan sebagaimana mestinya. Mereka suka nyuruh, tapi tak pernah memberi teladan. Sering mengajak pada kebaikan, tapi semua tidak ikhlas lilllah. Dilakukan demi pencitraan. Kebanyakan mereka cuma menguasai teori, praktiknya 'nol' alias kosong alias omong doang. Pikirku dalam hati, jaman sekarang gitu loh. Kita ini memang butuh sosok teladan, bukan tukang perintah. Perintah sana-sini tapi nggak ngerti yang di omongin.

Aku jadi ingat saat si Sobri ngedumel kepadaku kemarin malem selepas sholat maghrib. Dia agak sebel sama kakaknya. Kakak laki-lakinya menyuruh dia pergi sholat Maghrib berjamaah ke masjid, tapi dianya masih asyik dengerin radio.

Waktu itu Sobri bilang kepadaku, "Lang, aku sebel banget sama kakakku."

"Lha, kenapa bri?" Jawabku kepadanya

"Masa', kemarin sore aku di suruhnya pergi ke masjid. Sholat maghrib berjama'ah. Eh, sampe aku pulang dianya masih aja duduk di samping meja dengerin radio. Duh, rasanya sakit Lang dada ini." Jelas Sobri

"Ya, kamu yang sabar bri. Itu yang di bilang kakakmu memang benar. Bahwa sebagai laki-laki, kita memang harus semangat pergi sholat berjamaah ke masjid. Pahalanya 27 kali lipat loh, di banding sholat sendirian pahalanya cuma satu. Itupun kalo di terima, kalo enggak. Kan repot.. Hehe. Ya, tapi memang kurang pas juga kakakmu itu. Nyuruh sholat jamaah, eh dianya nggak mau sholat. Duh, capek deh..." Jawabku

"Iya sih..." Kata Sobri gantian memberi tanggapan

Hm... Agaknya benar kata orang-orang. Bangsa kita memang kebanyakan cuma OMDO, Omong Doang. NATO, Not Action Talk Only. Sampai kapankah ini akan terus terjadi. Ah, semoga aja nggak terjadi lagi.

*****

"Nak, sekarang desa Sukamaju sudah berubah. Berkat dakwah yang dilakukan Abah Hamid, masjidpun sekarang menjadi ramai. Tidak sepi lagi seperti dulu." Kata bapak

"Inggh pak." Jawabku

Kemudian bapakku-pun berpesan, "Makanya, kamu kalo ngajak temen-temenmu ngaji. Kamu jangan putus semangat. Jangan mau kalah sama Abah Hamid. Beliau aja bisa, masa' kamu enggak"

"Iya pak, jelas itu. Besok aku bakalan lebih semangat lagi ngajakin teman-temanku datang ke kajian minggu depan. Nanti, yang nggak hadir bakalan aku jemput ke rumahnya." Kataku

"Ya, gitu dong yang semangat. Anak bapak kok loyo, nggak pantes nak.." Pinta bapak kepadaku sambil tersenyum

Lalu, akupun menjawabnya dengan penuh semangat, "Siap pak. Hehe.."

Dan waktupun begitu cepat berlalu. Hingga tak terasa kamipun sudah sampai di halaman masjid. Panggilan adzan sudah berkumandang, akupun langsung bergegas ke kamar mandi ambil air wudhu. Sedangkan bapak, langsung masuk ke dalam masjid. Karena memang, beliau sudah punya wudhu sejak dari rumah tadi. (reper/toriq)

0 Comments:

Posting Komentar