Jangan Berkhianat!


Oleh: Aziz Rohman

Abbas, paman Nabi berteriak keras, "Hai kaum Anshar, wahai orang-orang yang telah berbaiat di bawah pohon!"

Beliau mengulang-ulang seruannya hingga menggema, memantul di dinding-dinding lembah dan sahut menyahut. Mengingatkan kembali kaum muslimin yang kocar-kacir pada waktu perang hunain. Hingga akhirnya gema seruan itu terdengar pada mereka yang sedang berlarian. Dan merekapun mengingat kembali akan janjinya pada Rasulullah saw dan jihad mereka sendiri.

Sobat, begitulah kiranya sedikit gambaran kondisi para sahabat. Saat mereka benar-benar dalam kondisi terdesak di perang hunain. Bingung, jiwanya terguncang dan takut akan kematian yang sudah bersiap menghampiri didepan mata. Terlebih saat pasukan Hawazin dan Tsaqif menyerang dengan amat dahsyat. Menikam setiap pasukan kaum muslimin yang ditemui, menghujani mereka dengan anak panah dari berbagai arah. Kaum muslimin berlarian dan mundur, berlomba-lomba untuk menyelamatkan diri.

Dalam kondisi terdesak itu, mereka bingung dan lupa. Lupa akan komitmennya pada Rasulullah saw. Hingga mengabaikan teriakan beliau, "Aina ayyuhannas?" "Dimana kalian hai manusia?" Teriak nabi berkali-kali, tapi tak ada satupun dari mereka yang menanggapi. Untungnya setelah itu, Abbas bin Abdul Munthalib r.a mengingatkan mereka akan janji dan komitmen mereka saat itu. Sebelum Fathul Mekkah, sebelum perjanjian Hudaibiyah. Saat berbaiat kepada beliau saw di bawah pohon, untuk tidak lari dari peperangan hingga mati.

Mungkin kalo bahasa kita, "Kenapa kalian lari, bukankah kalian sebelumnya sudah berkomitmen untuk tidak lari dari medan perang. Saat ini peperangan sedang terjadi, mengapa kalian lari?" "Katanya janji nggak lari, kok ninggalin Nabi. Ayo balik-balik!"

Untung Abbas mengingatkan, akhirnya pasukan kaum muslimin yang saat itu terdesak langsung sadar dan bersemangatlah lagi, kembali ke medan perang tersebut. Dan dengan izin Allah, akhirnya umat Islampun memperoleh kemenangan dalam perang hunain.

Nah sobat, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari sini. Pertama, jangan sombong! Perang hunain ini terjadi pasca Fathul Mekkah. Dalam perang ini Rasulullah menyiapkan sekitar 12.000 pasukan. 10.000 dari kaum Anshar Madinah dan juga 2.000 dari mualaf Mekkah. Dengan jumlah yang begitu besar ini, sebagian besar sahabat berpikir mereka akan bisa menang dengan mudah. Namun, faktanya justru mereka lari tunggang langgang. Banyaknya jumlah pasukan tidaklah menjadi sebab atas sebuah kemenangan. Sebab kemenangan itu sejatinya datangnya atas pertolongan Allah SWT semata.

Pelajaran kedua adalah saat kita sudah berkomitmen tentang sesuatu hal, maka jangan sekali-kali mengingkarinya. Nggak mau kan, kalian disebut munafik. Setelah berjanji mengingkari, ya jangan lah!

Janganlah kalian meniru orang-orang yang pada pake rompi orange dari KPK. Sebelum menjadi pejabat, suka janjiin ini itu. Komitmen bakalan amanah, enggak korupsi dan enggak bakalan aneh-aneh, bla bla bla. Eh, pas sudah menjabat janji tinggallah janji. Semua yang keluar dari mulut hanya pemanis saja. Sumpah didepan kitab sucipun seolah tak lagi sakral dan mudah gitu aja diingkari.

Jika kamu sudah berkomitmen dalam dakwah, maka tetaplah bersemangat dan istiqomah di dalamnya. Jangan tergiur dan tergoda dengan bujuk rayu setan untuk meninggalkan jalan dakwah. Ingat baik-baik komitmen kita sebelum kita hijrah, sebelum kita berdakwah. Jangan berkhianat!

Alastu Birabbikum, Qoolu Bala Syahidna. "Bukankah aku ini Tuhan kalian? Betul (engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." [QS. Al A'raf: 172]

Begitulah kiranya komitmen kita kepada Sang Pencipta sebelum kita datang ke dunia ini. Lantas, saat kita sudah sampai di bumi ini. Maka, ingat baik-baik komitmen kita tersebut. Komitmen untuk taat dan tidak bermaksiat. Kita sudah berkomitmen bahwa Allah SWT adalah Tuhan kita, jadi jangan sekali-kali menuhankan yang lainnya. Taati aturan dan syariatNya, hingga akhir hayat kita. Apapun rintangan yang ada didepan mata kita, hadapi dan jangan lari. Berpegang teguhlah kalian pada tali agama Allah. Insyaallah selamat di dunia dan akhirat.

Pelajaran ketiganya adalah saat ada teman yang mengingatkan kita untuk taat. Dengarkanlah baik-baik, jangan ditolak mentah-mentah. Manusia adalah tempatnya khilaf, salah dan kelupaan. Makanya, saat diingatkan jangan sewot dan jangan emosi. Dengerin baik-baik, sejatinya saat teman-teman kita mengingatkan. Itu adalah bukti wujud kasih sayang mereka pada kita. Untuk senantiasa saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

So, Ingat baik-baik ya sob. Kamu datang ke bumi ini, punya misi dan tujuan hidup. Sejak didalam kandungan kita telah berkomitmen bahwa Dialah Sang Maha Pencipta itu, Allah SWT. Jadi, jangan pernah berkhianat, apalagi melakukan maksiat. Jangan! []

0 Comments:

Posting Komentar