Waspadai Bacaan Anak Sekarang


Oleh: Aziz Rohman

Melihat adalah bagian dari transformasi kita untuk menyerap dan mendapatkan sebuah fakta. Dalam proses berfikir, bisa dikatakan bahwa pengetahuan tentang keberadaan sebuah fakta mutlak harus ada. Sebab, dalam berfikir manusia membutuhkan beberapa faktor, diantaranya panca indera, akal yang sehat, informasi terdahulu dan juga fakta. Ketika seseorang menemui sebuah fakta maka panca inderanya akan mengindera hal tersebut, kemudian mengirimkan info itu ke otak. Di dalam otak fakta tersebut di proses dan diolah sesuai dengan informasi terdahulu yang telah dia peroleh. Diolah hingga berhasil mengambil sebuah kesimpulan. Dan ketika kesimpulan itu di dapatkan maka, secara otomatis ia akan melakukan sebuah tindakan atau amal perbuatan. Sebagai catatan adalah bahwa setiap amal perbuatan manusia itu akan senantiasa di catat dan dimintai pertanggungjawaban. Ketika melakukan amal sholih, ia berpahala. Jika melakukan perbuatan yang dilarang, ia berdosa. Dan untuk mengetahui mana halal haram, maka belajar adalah sesuatu hal yang penting dilakukan. Dalam proses belajar, membaca adalah sebuah keniscayaan yang pasti akan di lakukan oleh setiap pelajar.

Minat Baca Bangsa Indonesia

Secara umum, minat baca bangsa Indonesia adalah memprihatinkan. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. (http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia).

Namun, seiring berjalannya waktu agaknya kita patut bersyukur. Sebab di era sosmed seperti sekarang sadar atau tidak ternyata membuat minat baca masyarakat Indonesia semakin bertambah. Namun, sayangnya bacaan yang mereka baca adalah status di sosmed, yang dari segi kualitas terkadang adalah bacaan yang (mohon maaf) kurang penting. Dan diantara status-status tidak penting itu, terkadang menjadi viral. Di lihat, di baca, di sukai, lalu di share oleh jutaan orang. Ini aneh, tapi faktanya ada dan nyata ada di sekitar kita.

Bacaan Remaja di Jaman Now

Orang tua sekarang kadang lebih senang ketika anaknya ada di rumah. Cenderung kurang setuju ketika anak pro aktif, banyak agenda kegiatan kesana kemari. Bingung, nggak pulang-pulang bahkan khawatir ketika anak bermain dengan teman-temannya di luar sana. Padahal, jika mau di telusur. Apakah dengan anak berada di rumah semuanya bisa terkontrol? Tidak. Di era sekarang tidak bisa.

Disadari atau tidak keberadaan internet sangat-sangat mempengaruhi perkembangan anak. Bahkan beberapa tahun lalu sempat viral istilah 'generasi nunduk'. Saking seriusnya baca gawai kadang lupa untuk berinteraksi dengan orang sekitar. Padahal, kitakan hidup di dunia nyata bukan alam maya. Namun, fakta mengatakan demikian. Kebanyakan, remaja kita lebih senang bermain dengan gawainya dibanding berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya.

Ketika internet ada dalam genggaman orang tua wajib waspada dan khawatir. Sebab sebagaimana kita pahami bersama bahwa internet memiliki sisi positif dan negatif. Dan fakta menunjukkan bahwa diantara konten-konten negatif yang berada di internet nyatanya lebih digemari di selancari oleh remaja Indonesia. Jika​ pada satu dekade silam, untuk memuaskan hasrat rasa ingin tahunya akan sesuatu yang berbau dewasa. Remaja jaman itu selalu mencari-cari kepingan CD. Tapi, sekarang berbeda remaja jaman now melampiaskan fantasi hasratnya melalui cerita-cerita, komik, dan anime-anime yang berbau porno. Mungkin orang tua merasa lega melihat anaknya gemar membaca, namun sebagai orang tua wajib waspada. Sebab bacaan remaja sekarang, sungguh mengerikan. Membaca buku tebal serius, dikiranya sedang belajar nggak tahunya baca komik porno. Ngeri!

Bahaya di Balik Setiap Bacaan Negatif

Manusia berbuat, bertindak dan berperilaku berdasarkan pemahaman yang dimilikinya. Dan untuk membentuk sebuah pemahaman terkadang apa yang di baca, apa yang di tonton sangat mempengaruhi pemahaman yang di milikinya. Ketika bacaanya baik, maka ia sedang belajar, menambah informasi guna kepentingan yang akan datang. Yang dimasa depan sangat mempengaruhi bagaimana dia berperilaku. Namun, jika bacaannya buruk bukan tidak ia akan menirukan hal-hal negatif tadi. Sebab, yang dia pahami adalah hal itu. Maka, tak heran ketika ada kebiasaan buruk seperti membaca atau menonton konten-konten negatif secara terus menerus. Maka, secara tak langsung bisa jadi secara tidak langsung ia sedang belajar tentang hal itu. Dan ada pada satu titik dimana ia akan ingin melakukan hal-hal yang sering dia baca atau tonton itu.

Sebagai sebuah proses penambahan informasi maka, maka penting bagi kita untuk bisa cek dan ricek. Melihat ini berakibat positif atau malah berakibat negatif.

Solusi Jangka Pendek

Dalam sistem sekuler yang mengabaikan aturan-aturan agama untuk taat memang sangat sulit. Ibarat kata, mau taat susahnya minta ampun tapi kalo maksiat mudah sekali, bahkan terkadang ada fasilitasnya lagi. Para orang tua harus senantiasa menjaga dan mengawasi setiap apapun itu bacaan anak. Jika anak sudah diberi gawai, maka orang tua tidak boleh latah dan lepas kontrol begitu saja. Penting bagi mereka untuk senantiasa memonitor setiap aktifitas putra-putrinya di dunia maya. Orang tua harus tahu akun sosmed anaknya, mengikuti pergerakan dunia maya anaknya, di samping itu komunikasi dalam dunia nyata harus di jaga. Sehingga, ketika anak dekat dengan orang tua, insyaallah semua akan bisa terkontrol.

Melepaskan anak dari gawai, mungkin menjadi salah satu solusi. Namun, di era sekarang agaknya sangat sulit jika para remaja harus jauh dari gawai. Tugas sekolah, tugas kelompok terkadang benar-benar membutuhkan keberadaan gawai. Hidup tanpa gawai mungkin bisa jadi alternatif solusi. Namun, jika tidak bisa melakukan hal tersebut. Maka, perlu adanya pemahaman pada anak untuk berinternet positif, pengawasan dan kontrol orang tua. Mereka tidak boleh lalai begitu saja atas anak, sebagai amanah yang telah diberikan oleh Allah SWT.

Solusi Tuntas

Adanya Khilafah adalah sebuah keniscayaan untuk memberikan solusi tuntas atas problem ini. Sebab, negara dengan sistem sekuler seperti sekarang. Proteksi terhadap konten-konten negatif faktanya tidak benar-benar dilakukan. Kalaupun dilakukan, itu bukan atas dasar sebab tapi lebih karena akibat. Setelah muncul akibat baru berbuat, andai tak ada dampak negatif pasti tidak akan  dilakukan pencegahan. Berbeda jika dasarnya adalah iman, kehati-hatian akan senantiasa dijaga. Akan senantiasa mawas diri agar tidak melakukan hal yang sia-sia, apalagi yang negatif. Bertindak bukan atas dasar akibat, tapi lebih pada hal kehati-hatian agar tidak berbuat dosa.

Itulah Khilafah, sistem kenegaraan yang berdasarkan​ Al-Qur'an dan As Sunnah. Dengan berbagai kewenangan yang dimilikinya khilafah akan menutup setiap konten-konten negatif di tengah-tengah masyarakat. Dan pada saat yang sama edukasi agama akan senantiasa​ dilakukan. Sehingga, tak akan pernah terbersit sedikitpun di benak umat untuk sekedar berpikiran negatif. Apalagi berbuat dosa, malah tidak akan sempat terpikir olehnya. Wallahu'alam... []

0 Comments:

Posting Komentar