Pikir Dulu Sebelum Berbuat, Sob!
Oleh : Aziz Rohman
Huff, kini remaja makin ‘menggila’… Tawuran masih budaya, dudaya pop rock liberal telah menjadi gaya hidupnya. Sekolah sebagai tempat membentuk karakter terbukti belum mampu mengendalikan ego teman kita. Kelulusan, sebagai sebuah bukti keberhasilan dalam pendidikan di luapkan dalam ekspresi yang kurang tepat. Jadi ingat dulu pas sebelum ujian kita mendekat pada Allah. Istighosah bareng-bareng, perbanyak sholat sunnah, tahajudpun nggak pernah terlupakan. Dalam keheningan malam bibir kita selalu berucap, “Ya Allah mudahkanlah saya dalam menempuh UN.. Luluskanlah saya ya Allah…”. Nah, ingatkan saat-saat susah berjuang keras buat lulus. Lantas kenapa pas udah lulus malah lupa pada Allah??? Kelulusan diekspresikan dengan cara nggak bener. Konvoi bareng sambil corat-coret seragam sekolah seolah menjadi agenda wajib yang haram di tinggalkan saat lulus tiba. Apakah ini bener??? Salah !!!
Kita itu kayak habis di penjara tiga taun di dalam gedung sekolah. Giliran denger kata “lulus”. Berrrrrr…. Rasa suka cita kegirangan langsung hadir menghampiri. Seolah kita itu napi yang baru aja bebas dari balik jeruji. Namun, kalian tau nggak sob? Bahwa kelulusan kita ini adalah awal. Awal dari babak kehidupan yang sebenarnya….
Hidupmu pilihanmu
Sobat rohimakumullah… Setelah lulus kita akan ngadepin dua pertanyaan yang susah buat di jawab, “kuliah atau kerja?” Masalahnya tuh bukan di jawabnya yang susah tapi, merealisasikannya tuh yang susah bin sulit. Trus, bikin kepala puyeng Gerrrrrr….. Mau kuliah mahal mau kerja susah. Namun, pilihan harus segera di buat tuk ngelanjutin kehidupan..
Yups, bener bangets sob. Aku juga nggak mau kok, habis lulus kalo kita yandang gelar “pengangguran 2017”. So, mulai dari sekarang. Kita nggak boleh happy-happy terus. Segera pilih mau nglanjutin kuliah ato mutusin masuk dunia kerja. Kalo mau nggabungin keduanya malah lebih oke, kuliah sambil kerja. Mantep tuhh… biar nggak ngrepotin ortu kita. Selain itu ini juga bisa buat nunjukin pada dunia bahwa kita, siap bertarung dalam universitas kehidupan. Semangatt!!!!
Well, kalian musti paham nie sob. Bahwa hidup itu sebuah pilihan. Kalian bisa milih kuliah ato kerja. Milih ini ato milih itu. Milih ngerayain lulus dengan konvoi ato ngadain syukuran makan-makan bareng anak yatim… Semua bebas kalian pilih. Tapi, kalian harus paham!!! Apapun pilihannya ada resikonya. Milih konvoi, siap-siap di tilang sama pak polisi karna bisa melanggar aturan lalu lintas plus bikin pengguna lain pada jengkel. Artinya, selain bisa dapat surat tilang kita juga akan dapat kiriman dosa, sebab kita udah nyakitin hati pengguna jalan yang lain…. Kalo milih ngadain syukuran bareng anak yatim. Di jamin deh, pasti membawa berkah dan berpahala. Apalagi kalo kita di do’ain anak yatim, di jamin deh do’a dari mereka pasti di kabulkan oleh Allah SWT.
Hidup ini….
Sadar ato nggak sadar sobat sekalian saat ini sedang bertarung hidup di jaman kapitalis. Dimana semua tujuan hidup di standarkan pada satu nilai bernama materi. Sekolah bukan lagi di tempatkan sebagai sebuah tempat belajar untuk menuntut ilmu. Tapi telah di artikan sebagai tempat nyari selembar kertas bernama ijazah. Urusan sukses di sekolah bukan lagi dilihat dari ilmu yang dia miliki. Yang bisa ditunjukin dari sikap dan perilaku tapi, dari coretan angka yang tertera di selembar kertas tadi.
Yah…. Kapitalisme telah benar-benar nyata menyusahkan hidup ini. Dengan asasnya sekulerisme, sedikit demi sedikit sistem kapitalis ini meminggirkan aturan Ilahi. Generasi-generasi yang terlahir di jaman ini bukan lagi generasi qur’ani. Pemisahan agama dari sendi kehidupan telah melahirkan kaum-kaum hedonis. Standar nilai dalam hidup ini bukan lagi halal haram tapi yang lain. Miris!!! Robot tivi dan seperangkat sosmed serta instrument internet telah nyata-nyata menghasut kita hingga iman makin hari, makin terkikis. Udah nggak punya benteng dalam diri plus ditambah godaan hidup yang makin mengikis iman. Praktis ini, membuat para ulama dan pemimpin kita menangis dan merasa miris. Segala daya dan upaya yang tlah dilakukan seolah nggak mampu membentengi generasi muda dari degradasi moral. Apakah ini kutukan atau takdir kehidupan. Entah apa namanya itu tapi, yang pasti kita harus berubah. Berubah menjadi lebih baik..
Dan satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerusakan ini adalah kembali lagi pada aturan Ilahi. Memahami kembali makna hidup ini. Bahwa manusia di ciptakan dimuka bumi ini adalah untuk beribadah (QS. Adz Dzariyat; 56). Maka, penting bagi kita semua untuk mempelajari dan mengkaji Islam lagi lebih dalam agar semua tingkah laku dan tindak tanduk kita bisa dalam ketaatan. Serta bernilai pahala, dinilai ibadah oleh Allah SWT.
Peran Ortu, Keluarga, Masyarakat dan Negara
Sobat rohimakumullah… kalian harus sadar bahwa keluarga adalah basis pendidikan yang utama. Peran serta orang tua dalam mendidik putra-putrinya sangat diperlukan. Ibu sebagai pendidik pertama anaknya dan pengatur urusan rumah tangga mutlak diperlukan kehadirannya di rumah kita. Ayah sebagai figur teladan yang bertanggungjawab menjaga keluarga dari panas api neraka juga harus senantiasa ada di sisi kita. Mereka berdua adalah sosok yang sangat penting dalam perkembangan para penerus keluarga.
Namun, alam kapitalis kehidupan telah membuat kelangkaan kehadiran sosok ayah-ibu di mata ananda. Mereka sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini mereka lakukan bukan karna mereka mau tega meninggalkan kita, tapi karena rasa sayang yang amat besar dari mereka atas kelangsungan hidup ananda. Oleh sebab itu, hormati mereka, sayangi mereka. Janganlah kau buat mereka bersedih. Mereka telah bersusah payah membesarkanmu, memberimu makan dan minum, membelikanmu pakaian serta mainan, menyekolahkanmu, merawatmu saat kau sakit. Dan itu mereka lakukan tanpa ada embel-embel, ikhlas demi putra-putrinya. Lantas saat sobat lulus sobat rayakan kelulusan dengan konvoi dan berujung tawuran? Betapa sedihnya orang tua kita jika mereka tahu bahwa kita terlibat di dalamnya…
Kemudian masyarakat… Hidup di alam kapitalis membuat masyarakat menjadi individu-individu yang cuek dengan sekitar. Nggak peduli sama orang lain yang berujung pada sikap masa bodoh. Kontrol mereka atas sesuatu yang “salah” menjadi berkurang. Lantas diperparah dengan sikap negara yang seolah abai dengan semua ini. Saat negara hadirpun seolah belum mampu menentukan akar serta solusi dari permasalahan ini. Sehingga peristiwa seperti konvoi kelulusan, tawuran pelajar hingga kenakalan remajapun terus saja ada dan bermunculan. Padahal harusnya hal ini sudah musnah semenjak awal kemunculannya dulu… Masak negara nggak mampu menyelesaikan persoalan ini? Kan, nggak mungkin…
Sobat…. Kenakalan remaja bukan hanya dikarenakan tingkah pelakunya aja tapi ini terjadi secara sistemik. Dan urusannya nggak bisa selesai begitu saja kalo solusinya juga bukan sistemik… Semua pihak harus bekerjasama agar peristiwa sejenis di klaten nggak terulang lagi…. Kalo terulang lagi bisa gaswat. Baru lulus SMA aja udah kayak gini gimana kalo jadi pejabat??? Bisa hancur negeri ini.
Akhirnya….
Secara secara pribadi sobat muda mesti jadi manusia yang mikir. Mikir dulu sebelum bertindak, gunakan akal sehat sebelum melangkah dan berbuat. Jika sobat telah baligh bin dewasa maka sobat juga terkena taklif hukum, berhak mendapatkan dosa dan pahala. Oleh sebab itu, gunakanlah masa muda ini tuk kegiatan yang positif dan bernilai pahala. Syukuri nikmat kelulusan dengan cara yang benar. Orang tua wajib mengawasi putra-putrinya agar tidak salah dalam melangkah dan berbuat. Masyarakat juga wajib ambil peran di dalam hal ini, sebab lingkungan masyarakat memiliki peran besar dalam pertumbuhan dan perkembangan para muda. Dan yang tidak kalah penting adalah negara, yang memiliki peran penting dan strategis membentuk kepribadian para muda melalui pendidikan dan tata nilai di tengah-tengah masyarakat dalam mewujudkan lahirnya generasi penerus yang cemerlang. Yang tidak terlena dengan hasutan uforia yang fana.. Wallahu’alam bish shawab. [].

0 Comments:
Posting Komentar