Sosmed Mau di Blokir? So What Gitu Loh….




Oleh: Aziz Rohman 

Gaes, di jaman sosmed kayak gini. Rasanya nggak mungkin deh, buat kalian hidup tanpa update status, ya kan? Sejak bangun tidur ente udah pada nyari-nyari tuh yang namanya smartphone. 

Bangun tidur cekret, mau mandi cekret, selesai mandi cekret, mau makan cekret.. Cekret, cekret, cekret… Semua di upload, semua di bikin status. Susah-seneng, duka-lara, happy-nangis, semuanya wajib di upload. Upload, upload, upload! Udah nggak kebayang deh berapa status dan berapa foto yang udah kalian sebar di sosmed.

Gara-gara sosmed, orang biasa bisa ngartis. Gara-gara sosmed nenek kurang mampu bisa terbantu. Dan gara-gara sosmed pula, anak kucing bisa kembali pulang ke rumah pemiliknya. Semuanya gara-gara sosmed! 

Bahkan, gara-gara sosmed teman kamu kemaren, bisa diundang datang ke Istana dan foto bareng sama Bapak Presiden. Tapi, upss… jejak digital memang kejam! Kalian mau ini itu, apa anu, gini gitu semuanya ketahuan. Saat kalian melakukan sebuah kebohongan publik, baik plagiasi atau yang semacamnya. Maka, siap-siaplah kalian dapat hujatan, makian dan cercaan dari para netizen. Secara kejam dan cepat. Cepet, nggak pake lama, GPL! Sosmed udah jadi kayak emak-emak rempong, cepet bangets ngomporin dan nyebarin berita. 

Contoh kecil, gara-gara sosmed kalian bisa kenal Ustadz Felix Siauw, ada juga Gus Nur. Terus kemudian ada juga teman sholeh kita yang bersuara merdu, akhina Muzammil Hasbalah. Jujur atau tidak, so pasti kalian mengenal beliau-beliau dari sosmed. Apalagi jika apa yang beliau-beliau lakukan menjadi viral. Waduh, gempar dunia maya! Saat mas Muzammil nikah kemarin aja. Beliau bisa nginspirasi para netizen membuat tagar #HariPatahHatiDuniaAkhirat. Ckckckc…. Aneh memang, tapi itu nyata dan fakta!

Kegemparan di jagad maya untuk dekade ini memang luar biasa. Viral sosmed telah membuat cerita tentang Mohamed Bouazizi, pemuda Tunisia yang membakar diri sebagai bentuk protes akibat perlakuan kasar salah seorang pejabat di sana, pada Desember 2010 lalu. Dan kabar kematiannya langsung viral ke seluruh dunia, facebook, twitter serta media sosial yang lainpun ikut meramaikan hingga berujung pada tumbangnya penguasa Tunisia, di lanjut Mesir, Libya dan Yaman. Tak dapat di pungkiri semua berawal dari sosmed!

Pun demikian saat di Jakarta akhir tahun lalu. Ada Aksi Bela Islam 1, 2, 3 semuanya di mulai dari sosmed. Sosmed mampu menggerakkan sekitar empat juta orang untuk Aksi 212, luar biasa!!!. Jika tak ada sosmed mungkin kita nggak akan pernah tahu adanya penistaan agama oleh Ahok. Sosmed telah bermetamorfosis luar biasa dalam kehidupan sosial kita. Senyum salam sapa, yang biasanya ada di dunia nyata kini telah hadir di jagad maya melalui stiker-stiker lucu dan gemesin. Itulah sosmed, punya dua sisi mata uang. Jika di gunakan dengan baik dan bijak tentu manfaatnya akan luar biasa. Namun, jika tak dipakai secara baik dampak negatifnya pun bisa luar biasa parah.

Bayangin aja, saat ada seseorang yang katanya toleran dan bla bla bla. Di puja-puja karena statusnya di facebook yang bicara soal agama. Kemudian, di beri penghargaan dan di undang ke Istana, eh ternyata adalah yang di tulis bukan tulisannya sendiri alias plagiasi. Dan semua ini di ketahui dari mana? Sosial media! Selamat datang di era digital, jejak digital memang kejam. Sekali kamu buat kesalahan maka bersiaplah dapat hukuman dari para penghuni maya. Hehehe…

Btw, mungkin karna fakta-fakta tersebut ya.. Pemerintah kita jadi paranoid tentang keberadaan sosmed hingga berujung dengan di blokirnya salah satu media sosial kita, Telegram. Yang tak lagi bisa di akses via PC. Aduh, juju aja nih harusnya tuh kita semua bisa menaruh respek dan bijak atas perkembangan teknologi digital saat ini. Jangan hanya karena politik atau apalah namanya itu hingga Menkominfo berkeinginan mau blokir semua media sosial (Vivanews.com, 14/07/2017). 

Kalo dipikir-pikir sosmed tuh, punya banyak kelebihan dan manfaat. Bisa mendekatkan yang jauh dan merekatkan yang sudah dekat. Hingga seharusnya, yang perlu di bredeli dan di benerin tuh orangnya bukan sosmednya. Sehingga, untuk itu maka diperlukan sebuah edukasi, melek dan bijak teknologi digital. Sehingga, setiap perkembangan jamanpun bisa di ambil manfaatnya, untuk mempermudah kehidupan sosial kita. Bukannya, jika dikira membahayakan (secara subjektif) lantas di blokir, blokir saja. Ini bisa mengancam kalian semua loh gaes… Lha, kalo semua semua sosmed pada di blokir. Kalian nggak bisa nyetatus lagi, nggak bisa nge-tweet lagi ataupun cekret upload-cekret upload lagi. Dan yang pasti, yang paling merani terjadi saat sosmed di blokr adalah kalian para pengusaha muda, marketing online. Yang menggunakan sosial media untuk jualan produk. Aduh, dampaknya bikin ngeriiii. Moga aja nggak terjadi ya gaes, pemblokiran itu. 

Oleh karena itu, yuk mari pergunakan akun sosial media kalian tuk kegiatan yang positif dan berpahala aja ya gaes! Jangan coba-coba tuk digunain untuk hal-hal yang nggak guna, nyebar hoax ataupun yang lain. Share banyak-banyak sesuatu yang bisa menginspirasi. Kalo viral, biar bisa jadi amal pahala.

Telegram nggak bisa di akses lagi lewat PC? Trus, ada yang bilang kalo semua sosial media mau di blokir. So What Gitu Loh… Menkominfo tak akan melakukan pembatasan akses internet buat rakyat Indonesia tercinta. Kenapa? Karena tak sedang hidup di Korea Utara, dimana seluruh akses internet di dalam negeri di batasi. Semuanya di atur oleh negara yang represif dan otoriter. []

0 Comments:

Posting Komentar